Chapter 88 - Perasaan Apa?

1165 Kata
Luna Xynerva memakan suapan makanan terakhirnya dengan pikiran yang melayang-layang. Sampai ibunya menegurnya. Dia makan di meja makan yang terletak di dapur. "Apa yang kau pikirkan, Nak?" tanya Zeline ketika putri semata wayangnya menatapnya. "Entahlah, Ma. Aku merasa perasaanku tidak enak dan kurang nyaman," ucapnya dengan jujur. "Ma, apa mungkin telah terjadi sesuatu pada Mall?" tanya Xynerva pada ibunya. "Mama, pernah membaca pada salah satu tentang manusia serigala. Jika belum melakukan penyatuan seutuhnya pasangannya yang berasal dari bangsa manusia tidak bisa merasakan keberadaan mereka, " ucap Zeline, tapi tak juga membuat pikiran Xynerva menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. "Kau terlalu memikirkannya, Nak," hibur Zeline dengan wajah tersenyum, lalu mengusap kepala putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang. Maafkan mama nak. Mama telah berkata bohong. Mama hanya tidak ingin kau terbawa pikiran dan akan mempengaruhi kesehatanmu. Yang sebenarnya walaupun belum melakukan penyatuan seutuhnya, tapi masih bisa merasakan sedikit tentang keberadaan dan keadaan pasangannya," batin Zeline di dalam hati. Luka di perut Xynerva sudah hampir sepenuhnya pulih, sedangkan untuk luka bagian dalamnya belum. p*********n yang dilakukan bangsawan kegelapan mengakibatkan luka fisik dan luka dalam. Entahlah aku tak mengerti harus percaya pada firasatku sendiri atau aku hanya terlalu khawatir saja, pikir Xynerva. Aku harus bertanya pada dia. Devan pasti lebih tahu, batin Xynerva. "Bisa kau ke sini?" panggil Xynerva pada salah satu omega wanita yang sedang membawa peralatan makan yang kotor ke tempat pencucian untuk dicuci. Omega wanita itu meletakkan peralatan makan, lalu berjalan menghadap Luna Xynerva. "Hormat saya, Luna Xynerva dan ibu Luna, " ucap wanita omega itu dengan sopan sembari membungkuk hormat pada Xynerva dan Zeline. "Berdirilah!" sahut Luna Xynerva. Dia sudah terbiasa menerima perlakuan penghormatan yang menjadi kewajiban para bawahan. "Terima kasih Luna. Apa Luna membutuhkan sesuatu?" tanyanya tanpa menghilangkan rasa hormat di dalam nada suaranya. Walaupun sang Luna lebih muda darinya, sebagai omega yang statusnya jauh di bawah dia harus memberi hormat sebagaimana mestinya. Omega wanita bahkan tak berani menatap langsung kedua mata sang Luna. Wanita itu memakai seragam hitam dan putih. Kakinya dibalut sepasang sepatu pantofel berwarna. Sedangkan rambutnya disanggul rapi. "Tolong panggilkan sang pelindung pack. Pinta dia sekarang untuk menghadapku," titah Luna Xynerva tegas. "Baik, Luna akan saya lakukan." Omega wanita meminta untuk pamit dan dia langsung melaksanakan tugasnya. Tanpa menunggu waktu yang lama pelindung pack datang menghadap Luna Xynerva. Pelindung pack memakai pakaian non formal kaos lengan panjang cokelat muda dan celana panjang santai hitam. "Hormat saya Luna Xynerva dan ibu Luna, " ucap pelindung pack sembari membungkuk hormat pada Xynerva dan Zeline. "Baiklah berdirilah!" ucap Luna Xynerva yang dipatuhi pelindung pack Quirin. "Pelindung pack, apa ada kabar dari Mall?" tanyanya to the point, wajahnya menatap serius pelindung pack. Devan tidak langsung menjawab pertanyaan dari sang Luna. Dia berada di dalam pikirannya menimbang akan mengatakan yang sebenarnya atau menutupi kebenarannya. Semoga saja Devan tidak memberi tahu keadaan yang sebenarnya, batin Zeline harap-harap cemas. Jantungnya berdetak kencang. "Luna, saya semalam memindlink Beta Darren. Beta Darren bilang keadaan mereka baik-baik saja, tak ada yang perlu di cemaskan. Saat ini mereka belum bisa pulang karena masih banyak tanaman yang belum ditemukan," jelas pelindung pack dengan raut wajah semeyakinkan mungkin supaya Luna percaya. Maafkan saya Luna. Saya terpaksa berbohong. Ini semua demi keadaan Luna sendiri. Luna nanti bisa menghukum saya dengan hukuman apapun. Saya akan menerimanya, batin pelindung pack Quirin. "Betul 'kan kata mama tadi. Kau terlalu memikirkan Lory saja. Mana mungkin dia akan berada di dalam bahaya, apalagi ada Darren yang berada di sampingnya dan para warrior yang kuat," ucap Mama Zeline. Dia memberi kode melalui mata agar Devan segera pamit pergi. "Luna Xynerva, saya pamit undur diri. Saya ingin memeriksa keadaan di perbatasan utara," ucap Daven membungkuk hormat. "Baiklah silakan Daven. Aku tidak akan mengganggumu," sahut Luna Xynerva berusaha untuk tersenyum. *** "Alphamu tak bisa disembuhkan dengan cara biasa," ujar Bunga membuat Beta Darren terkejut. "Bibi, Alpha Lory harus bisa sembuh. Jika dia sakit bagaimana dengan keadaan pack Quirin nanti? Siapa yang akan memerintah pack kami? Dan juga kami harus masih menemukan tanaman obat untuk Luna kami," sahut Beta Darren dengan nada cemas dan khawatir. Tak bisa dia bayangkan jika hal buruk itu terjadi. "Dia bisa saja sembuh," ucapnya membuat harapan Beta Darren muncul. "Katakan Bi," desak Darren tak sabar. Pandangan mata Bunga menatap anak muda di hadapannya dengan raut wajah serius. "Nak, kau harus menemukan sisik perak naga untuk menyembuhkan nak Lory, " ucap wanita yang seumuran dengan ibu kandung Alpha Lory. Jadi, wajar saja jika dia memanggil Alpha Lory dengan panggilan anak. "Bibi, di mana saya bisa menemukan sisik perak naga itu?" tanya Beta Darren. Pasalnya dia baru pertama kali ini mendengar nama sisik perak naga. "Pergilah ke arah barat. Bibi akan memberi tahumu terlebih dahulu, di sana ada banyak monster yang menjaga sisik perak naga. Monsternya terbagi menjadi sepuluh tingkatan dari yang paling rendah yaitu tingkat satu sampai tingkat sepuluh." "Dan para monster itu sangatlah kuat, sudah banyak orang yang berusaha untuk mengalahkan monster-monster, tapi semuanya tak ada yang beruntung. Semuanya mendapatkan kekalahan, beberapa kehilangan nyawa, dan sisanya terluka parah." "Sebelum pergi ke sana, kalian harus berpikir terlebih dahulu dengan matang jangan terburu-buru!" ingat Bunga. Sebagai Beta pack Quirin, Darren merasa harus membahas masalah ini dengan para warrior yang ikut supaya mendapatkan solusi yang terbaik. "Baiklah, Bi. Saya akan bicara pada mereka terlebih dahulu." "Silakan, " sahut Bunga. *** "Para warrior, aku diberi tahu Bibi Bunga obat yang bisa menyembuhkan Alpha Lory. Kita harus menemukan sisik perak naga," ujar Beta Darren mengawali. "Jangan tunda waktu lagi jika Beta sudah menemukan nama obatnya. Kami akan segera berangkat untuk mencarinya, " sahut warrior yang memiliki umur yang paling muda. "Iya, betul Beta. Biarkan kami saja yang berangkat. Beta tinggal kasih tahu saja di mana lokasinya dan bagaimana bentuk sisi naga itu," balas yang lainnya. "Sisik naga perak itu berada di bawah perlindungan monster-monster tingkat satu sampai tingkat sepuluh. Lokasinya berada di bagian barat dari hutan ini." Beta Darren mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Para warrior menurut informasi yang saya dapatkan dari Bibi Bunga. Para monster itu sangatlah kuat dan berbahaya. Sudah banyak orang yang mencobanya, dan tidak ada yang berhasil. Apakah kalian masih ingin mencobanya?" tanya Beta Darren, pandangan matanya menatap para warrior. "Tentu saja kita akan mencobanya!" sahut warrior. "Tak peduli bahaya apa pun yang akan dihadapi!" ujar warrior yang lain. "Kami akan melakukan apa pun demi keselamatan Alpha Lory!" "Ya, benar itu!" sahut yang lain setuju. Beta Darren terharu karena kesetiaan para warrior. Tidak salah Alpha Lory memilih mereka sebagai warrior pack Quirin. "Saya mewakili Alpha Lory untuk mengucapkan Terima kasih pada kalian," ucap Beta Darren tulus. "Jangan mengucapkan terima kasih. Itu sama sekali tak perlu, ini sudah tugas kami sebagai warrior untuk menjaga Alpha Lory." Setelah itu Beta Darren bersama para omega dan warrior menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan nanti seperti pedang, makanan, dan minuman. "Beta Darren, kau tetaplah di sini menjaga Alpha Lory sekaligus menyembuhkan Taren. Dan sebagian warrior akan tetap tinggal dan juga para omega, " saran warrior yang paling tua. "Baiklah, saya setuju, " sahut Beta Darren tanpa bantahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN