Kepergian Alena
Kado Terakhir Istriku
Part1
"Ada apa? Kenapa ada garis Polisi?" tanyaku pada Amira, karyawan yang bekerja di bagian informasi.
"Katanya ada pembunuhan. Barusan mayatnya di bawa pihak kepolisian."
"Inalilahi wa inailaihi roji'un."
Garis Polisi di samping gedung kantor pun menyisakan tanya untukku. Terlihat buket bunga yang hancur dan seperti kue ulang tahu yang juga terlihat lenyek di lantai bercampur bekas darah.
"Korbannya laki-laki atau perempuan? Kok bisa di samping kantor kita?" tanyaku heran.
"Perempuan, rambutnya terlihat panjang. Cuma sempat liat sekilas, sebelum di bawa ambulance."
"Mana Satpam? Kok saya nggak ada liat dari tadi?"
"Tadi beli sarapan bentar, katanya."
"Yasudah, kalian semua masuk dan bekerja seperti biasanya, minta roland antar rekaman cctv hari kemaren ke ruangan saya!" titahku.
Mereka semua pun masuk, dan aku menunggu satpam datang.
Lima belas menit, akhirnya satpam kantor yang bernama Ucup pun datang, membawa kantong plastik yang berisi sarapan paginya.
"Pagi, Pak!" sapa Ucup.
"Pagi," jawabku tersenyum ramah. "Cup, siapa yang piket malam tadi?" tanyaku.
"Udin, Pak!" sahutnya.
"Oh, yasudah! Kamu silahkan sarapan, tolong kamu dan Udin perketat lagi keamanan. Saya tidak mau, hal ini terulang lagi."
"Baik, Pak."
Aku pun melangkahkan kaki menuju ke ruangan di rektur utama, ruang kerjaku.
Aku meraih kursi, dan mengeluarkan gawai dari dalam saku celana, sambil duduk.
Aku mengernyit, ketika melihat gawai ternyata mati, entah sejak kapan.
Aku tersenyum simpul, membayangkan pergelutan panas antara aku dan mantan kekasihku dulu.
Kuhidupkan gawai milikku, sambil membayangkan betapa seksinya Amira, pacar masa laluku itu, yang sudah dua bulan ini jadi simpananku.
Bunyi notifikasi pesan terus-menerus berdering. Aku mengernyit.
Terlihat begitu banyak panggilan telepon berulang yang tidak terjawab dari Alena, istriku.
Dan panggilan pagi ini dari Mamah, dan Papah.
Aku membuka pesan dari paling bawah yang Alena kirimkan padaku.
[Sayang, pulang jam berapa? Aku tunggu di rumah.] dikirim saat jam 20.35, saat aku meluncur menuju apartement Amira.
[Kamu pasti sangat sibuk! Semangat ya.] jam 23.00.
[Sayang! Aku di depan kantor, aku bawa motor kesini, keluar dong.] 23.00.
[Sayang kok nggak aktif handphone-nya? Dari tadi aku di luar, mau pulang seperti ada yang memperhatikan dari tadi. Satpam kantor juga nggak ada lagi di pos-nya.] 23.45.
[Selamat satu tahun pernikahan sayang! Selalu jadi imam terbaik ya, aku mencintai kamu, suamiku.] 00.00
Perasaanku mendadak kalut, tepat di satu tahu pernikahanku dengan Alena, aku malah mengabaikannya.
[Sayang, ada dua laki-laki kini mendekat, aku bingung harus kemana? Gedung ini sepi, mereka menghadangku.] 00.10
Pesan terakhir dari Alena membuatku panik seketika, dan langsung terkejut, ketika panggilan atas nama Papah muncul di layar gawaiku.
Dengan sigap aku menjawab panggilan telepon itu.
[Hallo, Pah.]
[Raka, keterlaluan kamu, kemana saja kamu sampai-sampai sulit di hubungi.]
[Handphone Raka, drop baterainya, Pah. Ada apa?] tanyaku lagi.
[Cepat pulang, istri kamu meninggal, sebentar lagi jenazahnya akan sampai di rumah.]
[Apa? Papah jangan becanda] jawabku. Tiba-tiba aku merasa panik, namun cepat kutepis. Ini hari jadi pernikahanku yang ke satu tahun, mana tau mereka semua lagi bercanda.
[Papah serius! Cepat pulang.] Panggilan telepon Papah matikan sepihak, membuat tubuhku terasa melemah.
Benarkah yang Papah katakan? Namun semua terasa berkaitan, apa jangan-jangan yang di bunuh di samping kantor itu istriku.
Tanpa bisa banyak berpikir lagi, aku berlari cepat meninggalkan kantor. Tidak kupedulikan lagi para karyawan yang menatap heran dan penuh tanda tanya kepadaku.
Aku masuk ke dalam mobil, kulajukan mobil menuju rumahku dengan kecepatan tinggi, bahkan beriringan dengan mobil ambulance yang juga satu arah dengan tujuanku.
Sesampainya aku di depan rumah, aku seolah tidak percaya, melihat rumah yang kini ramai dengan para pelayat dan bendera kematian.
Mobil ambulance yang tadi beriringan denganku juga parkir di samping mobilku. Membuat langkahku urung, kulempar pandangan kepada perawat yang keluar dari mobil.
Dari belakang Mamah dan Ibu Mertua keluar dengan isak tangis mewarnai wajahnya.
Seketika tungkaiku menjadi lemah tidak berdaya, melihat dua perawat yang mendorong brankar.
Diatas brankar terlihat tubuh yang tertutup kain putih.
Aku membeku, ketika Mamah menatap sinis dan penuh amarah kepadaku. Sedangkan Iby mertua, ia enggan melihatku, bahkan seolah menganggap aku tidak ada.
Aku berjalan melewati para pelayat dan mengikuti dua perawat yang membawa jenazah Alena.
Tubuh kaku tak bernyawa itu di baringkan di kasur yang sudah di sediakan. Aku terduduk lemah di depan wajah yang biasanya begitu ceria itu, namun kini terbujur kaku dan dingin.
Aku menghela napas berat, mengingat dalam dua bulan ini, aku sering mengabaikannya.
Semua menatapku sendu, ada yang terlihat kasihan, ada juga yang terlihat mencibir.
"Istrinya meninggal di depan kantornya, membawa buket bunga dan kue juga. Tapi dia nya malah nggak tahu apa-apa, miris."
"Percuma menangis, sudah tidak ada gunanya lagi."
Terdengar bisik ibu-ibu di belakangku, membuat hatiku rasanya semakin hancur, aku memang laki-laki tidak berguna.
'Istriku terancam bahaya dan kehilangan nyawa, sedangkan aku saat itu asik b******a. Betapa jahatnya aku, Tuhan pantas menghukumku.'rutukku, menyesali segala perbuatanku.
Aku mendekat ketubuh yang kini terbujur kaku itu, kubuka penutup wajahnya. Kutatap lekat wajah cantiknya, ada kedamaian terlihat dari rona wajah pucat itu.
"Alena, bangun sayang! Katanya kamu mau kita liburan, katanya mau jalan-jalan, ayo sayang!" Aku berkata dengan suara serak dan hampir tercekat, menahan gejolak sesal yang teramat dalam.
kukecup kening wanita yang setahun ini mengukir cerita di kehidupanku.
Hening, hanya suara isakan tangis para kerabat yang terdengar menggema, bukan, bukan suara mereka yang aku harapkan.
"Sayang .... jawab! Kamu jangan diam begini, aku bisa gila kalau seperti ini." Aku menjerit, rasa tidak kuasa menahan diri, menerima takdir setragis ini.
"Raka .... hentikan," Papah menarik tubuhku menjauh dari tubuh kaku dan dingin Alena.
"Lepaskan aku, Pah. Alena tidak mati, dia hanya tidur," bentakku ke Papah. Aku rasanya hilang kendali.
Rasanya aku tidak percaya dengan semua ini, mereka pasti lagi bercanda. Mana mungkin
Alenaku mati, apalagi mati di bunuh, dia istri penurut yang tidak pernah keluar rumah tanpa izinku.
Semua menjadi riuh, isak tangis Mamah semakin nyaring, membuatku semakin merasa seolah di himpit batu besar, sesak.