Tertangkap

824 Kata
Kado Terakhir Istriku Part10 Sudah dua minggu Ibu di rawat, aku pun sesekali menjenguknya ke rumah sakit. Dokter mengatakan, kondisi Ibu Mumun tidak ada perubahan.  Mamah menghubungiku, untuk menjemput mereka pulang. Ia memutuskan membawa Ibu pulang, katanya lebih baik rawat di rumah, ia bahkan berniat mempekerjakan seorang perawat, yang akan bertanggung jawab mengurus Ibu. Aku melajukan mobil ke rumah sakit, sementara Papah masih di kantornya. Papah memiliki perusahaan sendiri, yang terbilang masih baru, dan bergerak di bidang property.  Sedangkan aku sendiri, bekerja di perusahaan bonafide. Aku memiliki jabatan yang cukup penting di perusahaan raksasa tersebut. Masih dalam masa cuti, yang tinggal sehari lagi. Aku melajukan mobil, menuju rumah sakit. Aku mengurus biaya administrasi, kemudian menunggu Alia keluar bersama Mamah. Alia mendorong pelan kursi roda ibu, sedangkan Mamah berjalan dari belakang mengikutinya. Wajah sendu Ibu, serta mata yang berkaca-kaca itu, membuat hatiku semakin bertanya-tanya. Namun, aku tetap berusaha tenang, meskipun cerita bibi tempo hari, terngiang-ngiang di ingatan. Kami bertiga berjalan, menuju pintu keluar, rumah sakit. "Mas Raka ...." Terdengar lirih suara seorang perempuan, yang sangat aku kenali.  Kami bertiga menoleh asal suara, Amira, ia berdiri dengan wajah menatap marah. "Amira ...." aku bergegas menarik lengannya, untuk menjauh dari Ibu, Mamah dan juga Alia. "Lepaskan aku ..., b******n kamu! mas." Amira melayangkan satu tamparan keras di pipiku. "Tempo hari kamu datang mengamuk, merusak handphoneku, menuduh dan menyalahkanku. Seolah aku seorang yang sudah jelas terdakwa. Bahkan kamu menyakiti fisik dan hatiku, nyatanya Alena sehat, ia bahkan tidak terlihat seperti hantu."  Amira meluapkan segala emosinya kepadaku, ia mengira Alia adalah Alena, makanya ia begitu murka kepadaku. "Wanita itu bukan Alena, dia Alia!" kataku. Amira tertawa sinis. "Kamu bilang aku penuh drama, lihat diri kamu, jelas aku yang seharusnya pantas bertanya. Drama macam apa ini? Hah?" bentaknya. "Mir, aku berani sumpah! Dia Alia, bukan Alena." "Huh, bulshit ..., memang kamu lelaki pendusta." Amira terlihat begitu emosi, bahkan ia nampak beberapa kali membuang napas kasar. "Sepertinya kita akhiri saja permainan ini, aku akan segera mengatakan segalanya ke Mamah kamu." Tidak ingin terlihat panik, aku pun memintanya menunggu. "Kamu tunggu di sini."  Aku berjalan meninggalkan Amira, bergegas menuju Alia dan Mamah. "Mah, tunggu sebentar di sini. Al, ayo ikut."  Aku meraih tangan Alia, tanpa menunggu jawabannya. Aku takut Amira nekat, dan mengatakan segalanya ke Mamah.  Aku membawa Alia ke hadapan Amira. "Ini yang kamu kira Alena? Al, coba kamu katakan pada wanita ini. Siapa kamu sebenarnya! Aku muak dengan segala tuduhannya." Amira terlihat mencibir, menatap tidak suka pada Alia. Alia yang semula datar, tiba-tiba tersenyum penuh makna. "Aku Alia, saudara kembar Alena. Senang bertemu langsung." "Awas saja sampai kalian berdua berani menipuku, aku tidak segan-segan menghancurkan kalian." Amira berkata dengan mata yang menyala, namun Alia, ia hanya menanggapinya dengan senyuman dingin, dengan sorot mata tajam menelisik. "Sudah Amira, aku dan Alia buru-buru. Kami harus membawa Ibu segera pulang." "Mas .... aku tunggu di apartemen setelah ini." Amira memberikan aku secarik kertas dan meninggalkan kami dengan ketus.  Aku membuka lembar kertas itu, aku syok dan mengatup mulut. 'Ya Tuhan, buah dari perbuatanku, ini semakin rumit.'  "Ada apa?" tanya Alia, menatap curiga kepadaku.  Aku menggeleng, lalu mengacak-ngacak kertas putih itu, dan berjalan ke arah Ibu dan Mamah yang masih menunggu. Alia mengekor, ia hanya bertanya sekali, kemudian kembali diam. Aku mengantar mereka bertiga pulang ke rumah, kemudia pamit kembali kepada Mamah, untuk menyelesaikan urusanku dengan Amira. Sesampainya di apartemennya. "Kita nikah siri saja, jika kamu keberatan! Kamu bisa gugurkan anak itu." Plak .... satu tamparan kembali mendarat di pipiku. "Kamu gila," desisnya penuh emosi. "Kamu harus tanggung jawab! Mas. Aku tidak mau nikah siri, apapun alasannya." "Amira, kamu harusnya paham! Istriku saja belum kering tanah kuburannya. Apa kata orang-orang nantinya? Mir." "Biar bagaimana pun, anak ini anak kamu! Tidak peduli apa kata orang."  "Amira, kamu jangan egois." "Kamu yang jangan egois, mas. Mau enaknya saja! Tapi tidak mau bertanggung jawab, lelaki pengecut." "Ah, beri mas waktu!" ucapku, kemudian aku bergegas keluar.  Tidak kuperdulikan ocehan dan makian Amira, aku tetap bergegas pergi dan meninggalkan apartemennya. 'Ya Tuhan, bahkan rasa sesal kepergian Alena saja belum tuntas, kini harus di hadapkan dengan kehamilan Amira.' _____ Berhari-hari aku di liputi rasa cemas dan bingung. Amira pun hampir setiap hari menerorku, menuntut pertanggung jawaban yang hingga detik ini belum juga kuputuskan. Alia terliat begitu serius memandangi handphone nya. Kemudian ia tertawa, sambil geleng-geleng kepala. Informanku mengirim sebuah pesan singkat. "Bos, Amira di tangkap Polisi, kejadiannya baru beberapa menit." Aku terkejut, dan langsung membalas pesannya. "Kenapa dia di tangkap?"  "Bukti yang Polisi temukan, mengarah ke Amira, kasus pembunuhan Ibu Alena." Aku tersentak, jadi semua benar, Amira lah pelakunya. "Tetapi, selama seminggu lebih saya menyelidiki Amira, tidak ada yang mencurigakan darinya. Namun, kemarin malam seseorang terlihat berputar-putar di sekitar apartemennya." "Apa menurut kamu? Amira di jebak?" tanyaku. "Dari riwayat sebelumnya pun, Amira tidak menemui siapapun. Ia hanya sibuk berbelanja dan tiduran di apartemennya. Menurut saya, sepertinya ada yang sengaja menjebaknya." Aku semakin pusing di buatnya, nggak habis-habis masalah ini bergulir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN