Kado Terakhir Istriku
Part7
Aku tidak tahu masa lalu wanita ini, yang jelas, sorot matanya menampakan amarah yang terpendam.
Namun masih tertutup oleh wajah cantiknya.
"Masuk dan istirahatlah, nanti kamu juga ikutan sakit kalau begini."
Alia mengangguk, namun ia tidak berkata apapun lagi. Aku masuk mengekor Alia, memperbaiki selimut Ibu, dan menggenggam telapak tangannya.
"Bu, jangan terlalu banyak pikiran, nanti Ibu tambah sakit, disini sudah ada Alia. Ibu harus sehat lagi, Alia butuh ibu."
Aku berkata pelan, namun pancaran mata Ibu menyorotkan kepanikan dan ketakutan, sulit untuk aku pahami.
"Bu, jangan khawatirkan apapun, Raka janji, akan menjaga Alia untuk Ibu. Cukup kita kehilangan Alena, Raka akan menjaga Alia untuk Ibu."
Aku berusaha menenangkannya, mungki saja Ibu takut Alia mengalami hal yang serupa, seperti yang di alami Alena.
Ibu membuang wajahnya, membuatku sedikit heran. Namun aku putuskan untuk kembali ke ruangan Mamah, biar Ibu tenang dulu dan beristirahat kembali.
"Al, mas balik ke ruangan Mamah dulu, kamu jaga Ibu dengan baik ya!" ucapku sebelum beranjak keluar.
Alia hanya mengangguk, namun ia enggan menatapku.
Aku keluar, menuju ke ruangan Mamah.
Kudorong pelan pintu, terlihat Mamah begitu lelap, sama halnya Papah.
Sedangkan aku, aku bahkan kesulitan untuk memejamkan mata.
-------------
Pikiranku terus melayang kepada Alia, gadis itu seakan memikul luka, sepertinya masa lalunya begitu sulit dan berat.
Wajahnya memang tidak seceria Alenaku, Alia selalu diam, ia bahkan tidak begitu tertarik untuk di ajak bicara.
Kuraih kembali gawai Alena, dan meminta seorang informan handal, untuk melacak nomor tanpa nama yang meneror istriku.
Jika benar ini perbuatan Amira, maka aku tidak segan-segan untuk membalasnya, meskipun aku menyayanginya.
______
Pagi ini Mamah sudah kembali terlihat cerah dan bersemangat. Ia memintaku mengantarnya ke kamar besannya, katanya ia begitu kangen pada Alena, dengan melihat Alia, rindunya sudah bisa terobati.
"Mamah harus sehat dan terus sehat, agar Alia juga merasakan cinta yang sama! Seperti cinta Mamah pada Alena," kataku, memberi semangat untuk Mamah.
"Iya, kamu harus janji, akan menjaga Alia. Kalau perlu, kamu harus menikahinya. Mamah nggak mau nanti dia di ambil keluarga lain."
Mamah mulai merengek.
"Mah, kubur Alena saja belum kering! Nggak mungkin Raka menikah lagi begitu saja."
"Alia, kamu dari mana?" tanya Papah. Sontak saja aku dan Mamah menoleh ke arah belakang.
Senyum datar terpatri di wajah dingin Alia. "Dari toilet, Om."
"Oh, kami lagi mau jenguk Ibu kamu!" kata Papah, Alia hanya mengangguk datar, tidak ada senyum atau sahutan.
Mamah melepaskan pegangan tanganku, dan menggandeng ceria lengan Alia.
Alia tak bereaksi apapun, pandangannya tetap datar, seraya melangkah pelan.
"Duh .... kamu mirip sekali dengan Alenaku! Mamah jadi kangen," celetuk Mamah, senyumnya terus mengembang, dan berjalan dengan riang.
Alia tidak menanggapi apapun, wajah dingin dan datar itu membuatku semakin bingung, begitu pula dengan Papah yang terlihat menatap lamat ke arah Alia.
"Pah, Raka mau pulang duluan ya! Mau ke kantor soalnya."
"Yasudah, pulang saja duluan."
"Nih, kunci mobil. Nanti Raka naik taksi on-line saja!" ucapku, kemudian menyerahkan kunci mobil kepada Papah.
"Ya! Kamu hati-hati."
Aku mengangguk, dan berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit.
Aku datang ke kantor, meminta asistenku untuk menghandle urusan kantor selama satu minggu, aku mengambil masa cuti lebih awal.
Aku sendiri yang akan menyelidiki Amira, entah kenapa, rasa curigaku beralih kepadanya.
Sepulang dari kantor, aku menyusuri jalanan yang menuju apartemen Amira.
Sebuah notifikasi pesan singkat masuk, berasal dari informanku.
"Bos, itu nomor berasal dari Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Surabaya."
Aku tercengang membaca pesannya, mana mungkin Amira membeli perdana dari sana, sedangkan dia saja orang asli Kalimantan.
"Ada nama pemiliknya? Bisa kamu lacak?" tanyaku.
"Sepertinya itu nomor sekali pakai. Nomornya juga sulit di lacak, namun ada pemiliknya, itupun juga warga sana!"
"Siapa namanya?" tanyaku.
"Romina, kelahiran tahun 1945."
Aku mendesah berat, siapa sebenarnya orang ini, mengapa ia meneror Alenaku.
Setahuku, orang yang pernah menginginkan kematian Alena, hanyalah Amira.
Aku memukul keras setir mobil, rasanya kepalaku mendadak sakit dan berat. Bahkan sudah satu hari ini, aku tidak bisa tidur karenanya.
Aku mengirimkan foto Amira kepadanya. "Tolong kamu juga selidiki wanita ini, aku pun tetap ikut memantaunya."
"Siap."
-----------
Aku menatap lamat apartemen wanita itu, sambil menekan bell-nya. Lima menit kemudian, Amira keluar dengan dandanan seksinya.
"Ah, sayang .... aku kangen deh!" ucapnya, seraya melingkarkan kedua tangannya ke leherku.
Aku tersenyum, meskipun rasanya aku mulai ilfil.
"Mir, aku mau bicara serius!" kataku pelan. Dengan pandangan datar.
Amira tersenyum mengembang. "Mas mau lamar aku ya? Iya kan?" tanyanya dengan penuh ceria.