Kejutan untuk Deva

1158 Kata
Tak ada satu orang pun yang bisa menghindar dari cobaan yang diberikan oleh Allah. Nggak ada, kecuali kita sudah berada di liang lahat. Ketika kita masih diberi kesempatan untuk bernafas, itu berarti Allah masih akan memberi cobaan dan tentu saja selalu ada jalan keluar untuk setiap cobaan yang kita hadapi. Ketika pikirannya terbuka, itulah yang dipikirkan oleh Nurlaila. Dia percaya, setiap masalah yang datang itu sepaket dengan jalan keluarnya. 'Senyum, Nur. Ayo tersenyum. Bangkit lagi dan jangan menyerah. Coba dan terus coba serta ikhtiar untuk mendapatkan hati suamimu. Ayo, semangat!' Nurlaila menyemangati dirinya sendiri. Dia tersenyum sambil memasukkan kentang ke dalam panci yang sudah diberi bumbu. Meskipun dadanya terasa sesak, dia terus berusaha untuk semangat dan percaya, bahwa akan ada kemudahan setelah kesulitan. "Mbak Nur, masak untuk mas Deva?" Mbok Surti datang ketika Nur memasakkan makanan yang katanya adalah makanan kesukaan Deva. "Eh Bu Surti. Iya, Bu. Saya lagi memasakkan makanan untuk Mas Deva. Semur kentang." "Oh, iya mbak. Itu makanan kesukaan Mas Deva. Tapi ini … anu … itu …" Surti tampak gelisah. Dia ingin memberitahukan sesuatu tetapi tidak tega. Nur Laila seperti bisa membaca gelagat Mbok Surti. Perempuan itu menyingsingkan lengan gamis bunga-bunganya hingga membentuk lengan tiga perempat. Dia tersenyum dengan d**a yang semakin sesak. "Tapi kenapa, Bu? Mas Deva sudah berangkat?" "Iya. Dia dijemput … em … anu …." "Dijemput sama Silvia?" Nur mencoba untuk tersenyum dan mencoba untuk tenang saat menanyakan hal itu. Rasanya ingin menangis dan menjerit waktu itu, tapi No. Masalah tidak akan pernah selesai dan hatinya akan terus tersakiti jika dia tidak mau bangkit dan terus menerus bersikap lemah seperti ini. "Iya, Mbak Nur. Maafkan Mbok karena harus memberitahukan hal ini." "Oh, Ndak apa-apa, Bu Surti. Nanti biar saya yang mengantarkan makanan ini ke kampus tempat di mana Mas Deva mengajar. Nggak apa-apa. Bukankah ini memang harus hadapi? Doakan saja saya kuat ya mbok." Nur tersenyum lebar kepada perempuan yang bertugas untuk bantu-bantu di rumah Deva. Nur ingin menyembunyikan rasa sakitnya. Namun semuanya masih tampak nyata di hadapan Bu Surti. "Mbak Nur yang sabar ya? Semoga suatu saat nanti mas Deva matanya terbuka dan mau menerima Mbak Nur. Saya enggak tega melihat Mbak Nur seperti ini." "Ndak masalah, Bu Surti. Saya baik-baik saja kok. Insya Allah, dengan usaha dan doa, Allah bisa membukakan hati Mas Deva untuk saya. Bu Surti tidak usah khawatir." Perempuan itu menepuk-nepuk pundak mbok Surti untuk mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Ya, dia memang harus baik-baik saja. Anggap saja pertarungan dan perjuangan baru dimulai. Bukankah terkadang inilah yang membuat hidup jadi lebih hidup? *** Tepat pukul 7 pagi, semur kentang spesial buatan Nur sudah siap. Soal masak-memasak, kemampuan Nur memang tidak bisa diragukan. Perempuan itu sudah ditinggal meninggal ibunya sejak lama. Jadi dia yang bertugas untuk memasak di rumah. Memang masakan-masakan kampung, tetapi bukankah masakan kampung itu terkadang malah lebih lezat dan sangat kaya cita rasanya. Nur bisa memastikan kalau semur kentang yang dibuat dengan penuh cinta itu jauh lebih lezat dari semur kentang yang pernah dimakan oleh Deva. Nurlaila masih tetap usaha meskipun berkali-kali tak berhasil. Rasa sakitnya dia kesampingkan dulu, mumpung dia masih kuat. Karena kita tidak tahu kan batas kekuatan kita hanya sampai mana? Nurlaila sudah siap dengan rok lebar warna coklat yang warnanya sudah mulai pudar, dipadu dengan hem kedodoran warna coklat bunga-bunga favoritnya yang baru dia beli beberapa hari sebelum menikah. Tidak lupa kerudung segiempat yang sengaja dia pakai lebar-lebar supaya menutupi d**a. Jika dilihat oleh orang normal, sebenarnya Nurlaila cantik. Dengan tinggi badan 165 dan berat badan 48 cm, dia tampak tinggi dan ramping. Agak sedikit kekurusan memang, tetapi kalau dia melakukan perawatan dan pandai make up, pasti dia tidak akan kalah sama Silvia. Kalau soal umur, ya. Dia memang kalah telak. Namun, sebenarnya dia cantik tetapi dia hanya perempuan desa yang tidak kenal dengan fashion dan perawatan. Dia memang agar terlihat udik dan tidak fashionable, tapi kalau laki-laki yang belum terkontaminasi hatinya, pasti tahu kalau perempuan itu sangat istimewa dan spesial. Kecantikan dari dalam hatinya terpancar dengan senyum manis yang selalu dia sunggingkan. Setelah semuanya sudah siap, Dia segera pergi ke kampus dengan naik ojek online. Dia tidak diberi fasilitas kendaraan apapun di rumah itu, jadi ketika dia ingin pergi, dia harus memakai jasa ojek online. Tidak mungkin kan dia membawa motor butut yang pernah menabrak mobil Deva itu ke rumah mewah ini? "Permisi, Bapak. Saya mau bertemu dengan bapak Deva Mahendra, salah satu dosen di sini. Apakah bapak tahu ruangannya ada di mana?" Nur Laila sengaja bertanya pada seorang laki-laki yang kebetulan lewat tidak jauh dari gerbang kampus. Tetapi tetap, perempuan itu sedikit menunduk saat bertanya. Dia tetap harus menjaga pandangan. Laki-laki itu mengerutkan kening dan menatap perempuan yang ada di hadapannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Siapa dia? Laki-laki itu tidak pernah melihat dia sebelumnya. Perempuan ini siapanya Deva? Ah, tapi dia tidak bisa bertanya sekarang. "Oh, Deva? Mari Bu saya antar ke ruangan Dosen. Kebetulan saya sahabatnya. Mari!" "Oh, kebetulan. Terima kasih sebelumnya, Bapak." Nur tersenyum sambil mengangguk dan tidak mau menatap mata laki-laki itu sedikit pun. 'Bapak? Ah … apakah aku setua itu? Tapi, bahkan dia tidak mau memandangku. Siapa perempuan ini? Dia sangat berpakaian sopan dan menjaga pandangannya. Sedikit udik, tapi sepertinya dia tipe perempuan salihah," ucap laki-laki itu dalam hati, kemudian dia segera mengantarkan Nur menuju ke ruang dosen. "Va, itu ada yang cari." Laki-laki itu menepuk pundak Deva yang saat itu sedang meletakkan tas di atas meja kerjanya. Sepertinya Dia baru saja datang dan bahkan dia belum sempat duduk di kursinya. Nur mengamatinya dari depan pintu. Dia belum berani masuk sebelum diinstruksikan oleh Deva. Sebenarnya dia minder berada di kalangan mahasiswa seperti ini. Tapi apa boleh buat, dia hanya sedang berusaha untuk meraih hati suaminya dengan cara yang dia bisa. Deva mengangkat kepalanya. Rahangnya seketika mengeras ketika matanya menangkap sosok perempuan yang sengaja dihindari pagi ini. Ah, kenapa dia malah datang padahal dia sengaja menghindar. "Oh, Oke. Terima kasih informasinya, De." "Sama-sama." Deo. Laki-laki tadi namanya Deo. Dia adalah salah satu rekan kerja Deva. Dia adalah dosen bahasa Inggris di kampus terbesar yang ada di Blitar. Deva segera menghampiri Nur. Dia harus segera membawa perempuan itu pergi dari sini sebelum semua rekan kerjanya tahu siapa sebenarnya Nur. Mau ditaruh di mana muka Deva kalau seluruh rekan kerjanya tahu bahwa dia sudah menikah dengan seorang perempuan yang memakai baju lusuh itu? Diva yang terkenal perfeksionis dan pemilih itu itu pasti akan diledek habis-habisan oleh teman-temannya ketika dia menikah dengan seorang wanita yang jauh dari kata sempurna. Pamornya sebagai laki-laki yang nyaris sempurna di kampus ini pasti akan segera hancur ketika dia ketahuan memiliki istri yang benar-benar tidak fashionable dan tidak modern. "Ikut aku!" Itulah kata pertama yang diucapkan oleh Deva kepada Nur dengan nada yang sangat dingin. Wajahnya sama sekali tidak ramah. Matanya nyalang lebar. Nur benar-benar bisa melihat sorot marah dari mata suaminya saat ini. "Baik, Dek." Nur langsung membuntuti Deva. Dia mengekor suaminya meskipun dia tidak tau dirinya akan dibawa kemana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN