Keinginan untuk Taaruf

1163 Kata
Deva berjalan dengan cepat menuju ke sebuah taman yang tidak jauh dari ruangannya. Nur sampai kewalahan mengikuti langkah kaki suaminya yang terlalu cepat. Ah … perasaan Nur semakin tidak enak. Dia bisa melihat raut muka marah suaminya. Pasti dia tidak suka melihat Nur datang ke kampus. Apa yang akan dilakukan oleh suaminya sekarang? Deva langsung berhenti ketika mereka sudah sampai di depan kursi taman. Taman itu tampak sepi karena masih pagi. Itulah kenapa Deva memilih untuk membawa Nur ke tempat itu, supaya tidak dilihat oleh orang lain, apalagi para mahasiswanya. Ada batu di dalam vagina "Ada apa tho, Dik? Kenapa kita harus pergi ke sini? Saya ke sini hanya mau memberikan nasi dan semur kentang kesukaan Dek Deva. Karena tadi pagi Dek Deva berangkat kerja tanpa pamit. Di makan ya? Ini dimasak husus buat kamu." Nur menyodorkan rantang batik hijau yang masih baru tersebut kepada suaminya. Dia lengkungkan sebuah senyuman manis. Seperti apa yang selalu diucapkan oleh bapaknya, bahwa tersenyum di depan suami itu adalah pahala. Tersenyumlah sebisa mungkin, meskipun saat itu keadaan sedang tidak baik-baik saja. Deva mengambil rantang itu dengan cepat dan kasar, kemudian membuangnya tanpa perasaan ke tempat sampah yang kebetulan ada di dekatnya. Dibuangnya rantang itu dengan penuh emosi. Nur langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Hasil usahanya pagi ini dibuang begitu saja ke tempat sampah? Padahal dia benar-benar memasak makanan itu dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh cinta berharap Deva bisa menikmatinya. Dia tidak butuh pujian dari Deva. Suaminya mau memakannya saja dia sudah sangat bahagia. Dia sengaja datang ke kampus ini dengan meneguhkan hati. Dia berusaha untuk mengalahkan rasa insecurenya. Ternyata apa yang dia dapat? Hanya kesia-siaan. "Mbak, sudah berapa kali saya bilang jangan menampakan diri di hadapan teman-teman saya! Apa mungkin Mbak sengaja membuat saya malu? Apalagi Mbak berdandan seperti ini. Satu lagi. Saya sama sekali tidak butuh dengan makanan yang kamu bawa. Saya ndak sudi masak masakan kamu. Jangan pernah datang lagi ke kampus ini, apalagi dengan tujuan mencari saya." Deva memang tidak berbicara dengan suara lantang meledak-ledak. Namun, Dia berbicara dengan penuh penekanan, dengan mata yang melotot dan dengan rahang yang mengeras. Dia tidak mau kalau sampai ada yang tahu bahwa dia sedang memarahi seorang perempuan. Nur masih menunduk. Air matanya sudah memberontak ingin keluar, tetapi perempuan itu tetap menahannya. Tidak. Air mata itu tidak boleh keluar dihadapan Deva sekarang. "Aku hanya ingin melakukan tugasku sebagai istri. Kamu harus ingat satu hal, bahwa sampai detik ini aku adalah istri kamu. Aku akan tetap memperlakukan kamu sebagai seorang suami meskipun kamu tidak pernah memanusiakanku. Terserah kamu akan bersikap seperti apa. Yang jelas aku akan bersikap sebagai seorang istri. Akan selalu begitu sampai kapanpun." "Dan aku tidak akan pernah mencintai kamu dan tidak akan pernah menganggap kamu istri sampai kapanpun. Kita adalah suami istri di hadapan ibu. Nanti kalau Ibu sudah terbuka hatinya, kita akan menjalani hidup masing-masing. Jangan pernah berharap saya bisa mencintai Mbak Nur yang sangat jauh berbeda dengan kriteria saya. Pergi dari sini, dan jangan sampai ada satu orang pun yang tahu kalau mbak adalah istri saya. Karena mbak Nur Laila, cocoknya menjadi seorang pembantu rumah tangga menggantikan posisi mbok Surti." Tangan laki-laki itu masih mengepal, tetapi rahangnya sudah mulai mengendur. Dia menatap istrinya yang sedang menunduk dengan tatapan penuh kebencian, kemudian laki-laki itu segera pergi meninggalkan Nur tanpa perasaan. Dia harus pergi, sebelum emosinya semakin meletup. Sepeninggal Deva, Nur langsung terduduk di kursi taman. Perempuan itu segera menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah. Dia terisak hingga kedua pundaknya naik turun karena isak tangis yang terlalu keras. Dadanya benar-benar terasa sangat sesak waktu itu. Apapun yang dia lakukan rasanya hanya sia-sia. Semua usahanya tidak ada yang dihargai sama sekali. Dia mulai ragu, apakah laki-laki itu benar-benar bisa luluh suatu saat nanti atau tidak? 'Ya Allah, jika memang menghendaki saya berjodoh dengannya, tolong kuatkanlah hati saya, ya Rabb. Tenangkanlah hati saya. Semua Ini benar-benar menyakitkan untuk saya. Berilah hamba kekuatan lebih jika memang ini jalan yang harus saya tempuh, ya Allah.' Perempuan itu terus berdoa bersama dengan derasnya air mata yang membasahi pipinya. Baginya saat ini, tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada tidak diinginkan oleh suaminya sendiri. *** "Va, kok baliknya nggak bawa rantang? Bukannya Mbak Mbak tadi yang ke sini bawa rantang ya? Oh iya. Dia siapa sih?" Deva baru saja memasuki ruangannya. Tentu saja bukan ruangan pribadinya. Karena satu ruang di huni oleh beberapa dosen, termasuk Deva, Deo, dan beberapa dosen lainnya. Laki-laki itu datang dengan nafas yang tidak beraturan. Tetapi langsung ditodong dengan pertanyaan yang tidak mengenakkan. "Pembantu," jawabnya pendek tanpa menoleh ke arah Deo. Deva langsung duduk di tempatnya, bersandar pada kursi kayu yang bagian bawahnya terdapat spons yang terbungkus kain kulit warna hitam. Kepalanya sedikit didongakkan dan matanya terpejam. Sungguh, kedatangan Nurlaila ke kampus ini membuat jantungnya hampir copot. Dia takut orang-orang di kampus tahu tentang statusnya saat ini. Bagi Deva saat ini, reputasi adalah segalanya. Menikah dengan seorang perempuan yang ndeso seperti Nurlaila sudah dapat dia pasti kan akan membuat reputasinya hancur. Itulah yang ada dipikirannya. "Woe. Serius tadi pembantu? Dia sudah menikah?" Deo segera mengambil posisi untuk duduk di kursi yang ada di sebelah Deva. Dia menatap Deva sambil menunggu jawaban. "De … aku cuapek ini. Jangan ganggu," jawabnya tetap pada posisi semula dan tidak bergerak sedikit pun. Kebetulan hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Beberapa yang lain belum datang dan yang lainnya lagi sudah masuk ke kelas. Deva memang sengaja berangkat awal meskipun dia belum ada jadwal jam segini. Karena dia ingin segera meninggalkan Nur dan pergi dengan Silvia. "Halah. Cuma jawab pertanyaan ringan begini. Dia sudah menikah apa belum?" "Belum." Deva menjawabnya dengan sangat enteng. Karena kalau dia menjawab sudah, bisa jadi Deo akan curiga bahwa perempuan tersebut bukan pembantunya melainkan istrinya. "Serius belum menikah? Masya Allah. Apa mungkin ini jalan yang diberikan Allah padaku ya. Aku selalu berdoa sama Allah supaya dipertemukan dengan seorang perempuan yang sholehah yang selalu menjaga pandangannya." Deo langsung tersenyum lebar. Dia menghadap ke bawah dengan kedua ujung bibir yang masih tertarik keatas. Deva mengerutkan keningnya, membuka mata, kemudian menoleh ke arah sang sahabat yang menurutnya aneh. Bagaimana bisa seseorang sepertinya Deo mau menikah dengan perempuan seperti Nur? "Kamu nggak sedang nglindur tho De? Dia itu cuma pembantu. Pembantu rumah tangga. Apa kelebihan dia sebagai pembantu rumah tangga sehingga kamu berfikir jauh seperti itu?" "Pertama kali melihat dia pun aku sudah merasa bahwa dia sepertinya perempuan baik-baik. Dia memakai pakaian yang tertutup dan menjaga pandangannya. Cara bicaranya juga sopan. Dia sama sekali tidak berlebihan. Dia juga tidak merias diri untuk menarik perhatian laki-laki. Ah … pasti laki-laki yang mendapatkannya nanti akan sangat beruntung." 'Beruntung ndasmu. Kepalaku seperti mau copot hanya gara-gara memiliki istri seperti dia. Bagaimana bisa kamu malah menginginkan istri seperti itu?' Deva hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. "Va, kalau dia benar-benar pembantu kamu, maukah kamu membantu aku untuk taaruf sama dia?" Uhuk uhuk uhuk … Deva tidak makan dan tidak minum, tetapi langsung tersedak ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Deo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN