"Kamu kenapa tho Va? Kamu Ndak apa-apa tho?"
Deo menepuk-nepuk tengkuk Deva yang saat itu masih terbatuk-batuk. Deva hanya menyodorkan telapak tangan yang terbuka, yang memberi kode bahwa dia tidak apa-apa.
Laki-laki itu segera mengambil botol minuman yang ada di bangkunya, kemudian menenggaknya hingga tandas.
"Sudah, aku Ndak apa-apa," ucap Deva setelah dia sudah berhasil melewati masa-masa tersedaknya.
"Oh oke. Aku lanjutkan pertanyaannya ya? Oh iya. Sebelumnya aku boleh tahu siapa namanya?"
"Nur Laila," jawabnya singkat. Ah, dia sama sekali tidak tahu dengan jalan fikiran sahabatnya. Bagaimana bisa dia ingin ta'aruf sama perempuan yang selalu memakai pakaian kedodoran itu?
"Nur? Ah, nama khas gadis desa yang indah. Artinya cahaya. Mungkin dia memang orang yang dikirim untuk menjadi cahaya di hidupku."
Deo tertawa kecil, kemudian senyum-senyum nggak jelas khas laki-laki yang sedang jatuh cinta. Deva terus mengamatinya. Berharap dugaannya salah.
'Pasti dia mau ta'aruf karena dia ingin segera menikah. Dia yakin perempuan udik seperti Nur Laila pasti akan langsung mau. Ya, tidak mungkin Deo jatuh hati dan tertarik.'
"Dev, aku serius. Jika memang Nur belum punya suami, dan tidak sedang dikhitbah orang, aku mau ta'aruf sama dia. Tolong aku ya? Siapa tahu aku memang jodoh sama dia. Please!"
Deo menepuk-nepuk lengan Deva, masih diiringi dengan senyuman lebar. Mata laki-laki itu berbinar. Tidak pernah Deva melihat mata Deo seberbinar itu sebelumnya.
"Ndak mau. Kamu itu dosen, De. Kalau cari istri, carilah yang sepadan. Paling tidak, cari guru SMP atau SMA. Jangan guru TK udik."
"Hah? Guru TK? Siapa?"
Gawat! Deva keceplosan lagi. Tidak. Deo tidak boleh tahu kalau Nur Laila adalah seorang guru TK dan bukan pembantu rumah tangga. Bisa-bisa dia curiga.
"Em … enggak. Aku cuma memberi gambaran aja. Kamu itu seorang dosen yang cukup terpandang di desa kamu. Jadi kalau mau cari istri itu pilih-pilih. Jangan asal comot begitu."
"Aku Ndak asal comot, Va. Dari dulu prinsipku sama prinsip kamu memang beda. Kalau aku, Ndak mau punya pacar seperti Silvia. Dia memang cantik. Dia juga berprestasi. Dia supel, mudah akrab sama banyak orang. Dia juga pernah menjalani hubungan sama beberapa laki-laki sebelum kamu. Dia juga nggak mau kan makan makanan pinggir jalan. Menurutku, perempuan seperti itu tidak pas untuk dijadikan istri. Dia cuma cocok dijadikan pacar aja. Itulah mengapa, aku langsung tertarik sama nur laila pada pandangan pertama."
Deva terdiam mendengar penuturan dio yang panjang lebar. Kata-kata yang diucapkan oleh sahabatnya itu sama sekali tidak masuk akal menurutnya. Perempuan yang cocok dijadikan pacar, maka pasti akan cocok juga dijadikan istri. Entah, dia terlalu udik atau apa sehingga kolot begitu. Bagi Deva, asal kita memberikan kasih sayang yang tulus dan memberikan apa yang dia mau, pasti dia akan bisa menjadi istri yang baik. That's it.
"Terserah kamu aja. Yang penting aku sudah memberitahu kamu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari karena memiliki istri yang katrok seperti dia. Memang, kita orang desa, tapi kan ya ndak harus katrok kayak gitu tho? Harusnya kamu cari yang agak melek sedikit. Udah, Aku mau ke kelas."
"Kamu mau membantu aku kan?"
"Membantu apa?"
"Membantu proses pengenalan aku sama dia. Aku serius. Daripada kedahuluan orang."
Deva terdiam. Ah, kenapa jadi kacau begini? Tidak masalah kalau Deo memang suka sama Nurlaila. Tidak masalah juga kalau akhirnya Deo menikah dengan nur Laila. Masalahnya, detik ini Nur Laila masih menjadi istrinya. Meskipun hanya seorang istri yang tidak diinginkan.
"Va? Tolong!"
"Iyo. Ndak sabaran banget tho. Ya wes, aku masuk ke kelas dulu."
"Mau? Mau menjadi jalan agar aku bisa ta'aruf sama Nur?"
"Iyo."
"Alhamdulillah. Matursuwun ya Va. Doakan aku sama dia berjodoh. Yawes. Sana ke kelas."
"Oke."
Deva membuang nafas kasar. Dengan langkah yang sedikit berat, Dia menuju ke kelasnya. Terus terang saja dia masih memikirkan kata-kata Deo. Apa jadinya kalau dia benar-benar ingin taaruf dengan Nur?
***
Mungkin memang benar, terkadang yang bisa dilakukan oleh perempuan untuk meredakan rasa sakit hatinya adalah duduk memeluk lutut sambil menangis. Itu adalah posisi paling nyaman saat ingin menumpahkan air mata.
Seperti Nur Laila saat ini. Padahal dia jarang sekali berada di kamar waktu siang hari. Namun sekarang, dia memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kamarnya sebelum suaminya pulang ke rumah.
Dia masih sakit hati dengan kata-kata suaminya beberapa jam yang lalu. Rasanya tidak bisa teredam begitu saja. Apakah dia memang sejelek itu? Apakah dia memang setidak berharga itu sehingga diinjak-injak. Dia bagaikan aib yang disembunyikan oleh suaminya sendiri. Sakit, rasanya sangat sakit.
"Assalamualaikum, mbak Nur. Mbak … mbak ada di dalam?"
Terdengar suara ketukan pintu diiringi dengan suara merdu milik Ayu, adik Deva yang umurnya sekitar 22 tahun.
Ini adalah kali pertama Ayu mengunjungi rumah sang kakak setelah kakaknya menikah. Dia sengaja disuruh Bu Nurul untuk mendatangi rumah kakaknya untuk memastikan bahwa kakak iparnya ada di rumah. Karena 1 jam yang lalu Bu Nurul datang dan tidak mendapati siapapun di rumah.
Nur Laila menghentikan tangisnya sejenak. Dia mendongakkan kepala yang semula menunduk. Menghapus air matanya cepat, lalu segera mengatur nafas agar ayu tidak tahu bahwa dia sedang menangis di dalam.
"Dek Ayu ya?" tanyanya. Meskipun dia tahu pasti yang datang adalah Ayu. Meskipun dia baru sekali bertemu dengan Ayu tetapi dia sudah hafal dengan suara adik iparnya.
"Iya, Mbak. Aku buka ya pintunya?"
Ceklek. Ayu langsung masuk ke kamar Nur Laila begitu saja sebelum Nur mempersilakan masuk. Tentu saja perempuan yang ada di dalam kamar itu langsung gelagapan. Dia tidak menyangka kalau Ayu masuk ke dalam kamar begitu saja. Dia ingin menyembunyikan tangisnya, tetapi bagaimana bisa sekarang? Wajahnya yang sembab sama sekali tidak bisa membohongi Ayu.
"Ya Allah, Mbak Nur. Mbak kenapa?"
Ayu terlihat iba melihat wajah kakak iparnya sembak sembab. Dia yakin, kakak ipar yang sudah menangis selama berjam-jam.
Nur tersenyum. Sebuah senyum yang dipaksakan. Dia tidak bisa menjawab apa-apa.
Ayu menghampirinya dan duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kakak iparnya yang sebenarnya belum terlalu akrab.
"Mbak kenapa?"
"Em … aku …."
Tangis Nurlaila pecah. Dia tidak bisa meneruskan kata-katanya. Perempuan itu kembali menunduk dan terisak keras. Dia ingin menyembunyikan tangis itu, tetapi Nur benar-benar tidak bisa menahannya.
Ayu tidak mau bertanya lagi. Dia segera merapatkan tubuhnya ke tubuh kakak ipar, lalu memeluknya erat seolah mereka adalah saudara yang memang sudah lama kenal.