"Mbak, maafin masku ya?"
Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Ayu setelah mereka saling berpelukan selama beberapa menit. Ayu paham betul bagaimana tabiat kakaknya. Ayu juga tahu kalau kakaknya terpaksa menerima perjodohan ini. Satu lagi, Ayu juga mengetahui hubungan kakaknya dengan Silvia yang sampai saat ini masih berlanjut.
Tentu saja ada rasa bersalah yang menjalar ke tubuhnya. Kakaknya telah menyakiti seorang perempuan baik-baik seperti Nurlaila.
Nur tidak menjawab apa-apa. Dia masih terisak lirih di pelukan sang adik ipar. Diantara segudang masalah yang dihadapi, ini yang disyukuri. Dia masih memiliki mertua dan adik ipar yang sangat baik.
Memang terkadang begitu kan hukum alamnya. Ketika kita memiliki mertua yang baik, suami yang mbelgedes. Giliran kita memiliki suami yang baik, mertua yang mungkin tidak searah dan sejalan dengan kita.
"Udah mbak. Mbak tenang ya? Aku ambilkan minum dulu."
Ayu melepaskan pelukan kakak iparnya pelan-pelan. Dia berjalan menuju ke dispenser yang terletak di pojok kamar, mengambilkan minuman untuk kakaknya, lalu memberikannya dengan senyum.
"Minum dulu, Mbak."
Nur minum segelas air putih yang diberikan oleh Ayu hingga tandas. Setelah itu dia sudah sedikit lebih tenang. Masih ada sisa sedikit isak tangis, tetapi sudah tidak separah tadi.
"Mbak Nur kenapa? Kalau ada apa-apa, cerita saja sama Ayu, Mbak. Jangan dipendam sendirian. Apa mas Deva menyakiti hati mbak Nur?"
Ayu menatap mata sang kakak ipar. Dari sorot matanya, Ayu tahu bahwa Nurlaila sedang mencoba untuk terlihat tegar meskipun sebenarnya dia menahan rasa sakit.
"Bukan mas mu yang menyakiti hati mbak, Yu. Tapi mbak yang memang cari penyakit."
Ya, dia memang cari penyakit. Andai saja dia hanya diam di rumah dan tidak terus mencoba untuk meraih hati suaminya dan tidak mencoba untuk meraih simpati nya untuk datang ke kampus, pasti saat ini dia tidak akan menangis dan tidak akan sakit hati seperti sekarang.
"Maksud mbak apa?"
"Ayu. Aku yakin kamu sudah tahu kalau Masmu ndak suka sama saya. Tadi aku memang cari penyakit untuk datang ke kampus mengantarkan makanan untuknya. Aku sedang mencoba untuk mencari perhatiannya. Aku sedang mencoba untuk menjadi istri yang baik. Namun ternyata aku salah. Menjadi istri yang baik dimata Mas Deva tidak seperti itu. Dia tidak suka aku datang ke tempat kerja nya karena dia malu. Dia marah, takut ketahuan teman temannya karena memiliki istri yang ndeso."
Nur tersenyum dengan air mata masih basah. Dia tertawa kecil kemudian menunduk. Tertawa untuk menutupi rasa sesak yang dirasakan di dadanya.
Ya Allah … jadi seperti itu. Dia tahu kalau kakaknya tidak menyukai istri yang sekarang, tetap haruskah dia bersikap seperti itu? Bagaimanapun juga Mbak Nur adalah putri dari sahabat almarhum ayah mereka. Tidak sepatutnya Deva melakukan hal itu.
Ayu mengamati kakak iparnya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Iya, memang terlihat katrok di mata orang-orang seperti Deva. Saat ini Ayu sama sekali tidak memakai riasan apapun. Dia tidak memakai bedak maupun lipstik. Bibirnya tampak pucat. Meskipun wajah Nur terlihat mulus natural, tetapi tetap saja tidak bisa seglowing orang-orang yang terbiasa memakai skin care.
"Mbak, apakah Mbak Nur memang selalu seperti ini setiap hari?"
"Maksudnya?"
"Mbak Nur selalu memakai baju kedodoran begini dengan paduan warna yang tidak senada? Maaf mbak, kalau pertanyaan saya menyinggung."
"Ndak apa-apa. Saya memang selalu seperti ini setiap hari."
"Apakah Mbak Nur mau berubah demi Mas Deva?"
"Hah?"
Nur masih belum paham apa maksud adik iparnya. Dia tahu bahwa dirinya memang bukan selera suaminya. Tapi apa daya. Stylenya memang seperti itu dan dia memang tidak pandai memadupadankan pakaian. Dia memakai pakaian apa saja yang menurutnya enak dipakai dan nyaman. Dia tidak peduli kalau itu enak dipandang orang atau tidak. Karena selama ini tidak pernah ada yang komplain secara langsung kepadanya.
"Mbak … aku tahu mungkin Mbak Nur nyaman memakai pakaian seperti ini. Namun, sekarang Mbak Nur adalah istri Mas Deva. Mungkin aku perlu bilang sama Mbak Nur, Mas Deva itu orangnya perfeksionis. Dia mau apa-apa serba sempurna. Ya, aku tahu kesempurnaan itu memang milik Allah, tetapi paling tidak sempurna selayaknya manusia. Kalau Mbak Nur mau berubah, aku akan bantu."
"Mau berubah pasti perlu dana, Ayu. Mbak Ndak ada uang sama sekali."
"Ya Allah, mbak. Mbak ini istrinya juragan ayam mantul. Outlet mas Deva itu ada dimana-mana. Omsetnya Mas Deva itu puluhan juta perbulan. Mas juga punya banyak tabungan kok. Jadi mbak minta aja sama mas Deva."
"Aku ndak berani minta."
"Ya udah biar aku saja yang minta sama Mas Deva. Kalau Mbak Nur setuju untuk mengubah style, kita kan belanja sama-sama. Paling tidak Mbak Nur akan sedikit terlihat lebih menarik dihadapan Mas Deva."
Nur terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Ayu memang ada benarnya. Dia memang harus berubah. Sebenarnya Deva tidak membenci Dia secara keseluruhan. Dia membenci style Nur Yang katrok. Dia yang perfeksionis malu memiliki istri yang sama sekali tidak fashionable.
"Sebenarnya saya mau saja, Yu, tapi nggak enak sama Mas Deva kalau saya menghambur-hamburkan uang nya untuk sesuatu yang sebenarnya tidak penting-penting amat."
"Ndak penting-penting amat bagaimana sih Mbak. Ini sangat penting demi keberlangsungan rumah tangga Mas Deva dan Mbak Nur. Memangnya Mbak Nur mau rumah tangganya seperti ini terus sampai nanti? Ndak tho mbak? Kalau memang Mbak Nur ingin mempertahankan pernikahan kalian yang baru beberapa hari ini, ayo mbak. Ndak usah sungkan meminta uang suami. Ini demi kebaikan."
"Ya sudah. Saya setuju kalau memang Mas Deva mengizinkan."
"Sip. Mbak Nur siap-siap ya? Nanti aku bonceng kita beli baju-baju dan alat make up."
"Sebenarnya kemarin Mas Deva beli alat make up dan saya memakainya. Saya kira alat musik apa itu buat saya, tetapi ternyata untuk Silvia. Saya sudah mengacak-acaknya, dan hasilnya … saya seperti lenong katanya. Jadi saya tidak akan pantas pakai make up, yu."
"Hah? Ya Allah. Keterlaluan banget sih Mas Deva. Wes, Ndak apa-apa. Nanti Mbak Nur kursus make up ya. Ada kok. Temanku nanti bisa kasih private kursus untuk Mbak Nur. Pokoknya Aku akan berusaha untuk membuat Mbak Nur lebih menarik dimata Mas Deva. Bukan berarti sekarang Mbak Nur nggak menarik ya mbak. Mbak tetap cantik dan natural menurutku. Namun tidak di mata Mas Deva. Jadi, Aku akan berusaha agar Mas diva mau memandang Mbak Nur seutuhnya dan tidak memandang sebelah mata."
Mereka bukan sahabat lama. Sebelumnya mereka juga bukan saudara. Mereka hanya bertemu sekali saat akad nikah. Namun, entah kenapa Nurlaila merasa saat ini mereka begitu dekat. Dia benar-benar diperhatikan oleh adik iparnya.
Dia sangat terharu dengan perhatian adik iparnya yang begitu besar terhadap dirinya. Dimana banyak ipar yang malah menjatuhkan nama baik suami atau istri saudaranya, tetapi tidak dengan Ayu. Guru muda yang mengajar SMA yang begitu fashionable itu begitu perhatian dengan Nurlaila.
"Terima kasih banyak, Ayu. Kamu benar-benar sangat baik."
"Aku hanya tidak mau kalau mbak tertekan gara-gara Masku mbak. Ya sudah, Saya tunggu di depan ya mbak. Mbak Nur siap-siap. Nanti akan kita bikin mas Deva pangling sama Mbak Nur."
"Iya yu."
Nur Layla tersenyum lebar. Sekarang dia mulai merasa ada harapan lagi setelah beberapa menit yang lalu dia merasa putus asa.