Upaya Ayu

1252 Kata
"Mas, kirimin uang 20 juta sekarang juga." Bak seorang pemalak, Ayu langsung berbicara dengan tegas kepada ada kakaknya setelah telepon tersambung. Dia tidak mau basa-basi karena terlanjur kesal karena kakaknya. Meskipun Deva adalah kakak kandungnya, dia tidak terima kalau kakak satu-satunya itu memperlakukan wanita dengan tidak baik. Karena dia sendiri wanita, dia yakin bahwa dirinya tidak akan kuat jika diperlakukan seperti itu oleh suaminya nanti. "Kamu ini kenapa tho Yu? Ada apa? Kenapa tiba-tiba minta uang 20 juta. Kamu pikir mudah mendapatkan uang segitu." "Bukan buat aku, Mas, tapi buat Mbak Nur. Mas memiliki kewajiban untuk menafkahi Mbak Nur lahir dan batin. Kalau memang belum bisa memberi nafkah batin, ayo dong nafkah lahirnya dikencengin. Sini cepat transfer 20 juta." "Untuk mbak Nur? Mbak-mbak yang ndeso itu? Ndak. Saya ndak akan memberikan uang sebanyak itu untuk dia. Dia tidak perlu banyak uang yu." "Mas transfer sekarang atau aku akan bilang sama ibu tentang semua perilaku Mas Deva terhadap Mbak Nur." "Opo sih Kowe ki? Kenapa bawa-bawa Ibu?" Suara di seberang sana terlihat kesal. Tentu saja itu adalah kelemahannya dan Ayu tahu persis itu. Dia sudah mengorbankan diri untuk mau menikah dengan Ayu hanya untuk menjaga perasaan ibunya dan menuruti keinginannya. Mana mungkin sekarang dia mau ibunya tahu tentang perilaku dirinya yang sesungguhnya kepada Nur? Dia tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau ibunya kecewa. Apalagi sang Ibu memiliki riwayat penyakit jantung dan hipertensi. "Yo pokoknya kalau Mas Deva ndak mau transfer uang 20juta sekarang juga ke rekeningku, aku akan aduin ke Ibu sekarang juga. Aku tunggu 5 menit, kalau ndak ada uang masuk, siap-siap mendapat telepon dari ibu. Bye." Klik. Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Ayu. Kemudian dia tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin beberapa menit lagi akan ada uang masuk ke rekeningnya. 'Aku melakukan ini karena aku sayang sama mas Deva. Aku sama ibu yakin kalau yang terbaik untuk Mas Deva bukanlah Silvia yang selalu morotin uang mas Deva, tetapi Mbak Nur. Seorang guru TK yang sabar, yang apa adanya dan insya Allah akan menurut dan manut sama mas Deva.' *** Ayu membonceng Nurlaila menuju ke satu-satunya mall yang ada di Blitar. Di sana dia bisa memilihkan pakaian-pakaian yang lebih modern untuk kakak iparnya. Benar saja, uang 20 juta itu sudah masuk ke rekening Ayu setelah beberapa menit percakapan Ayu dan Deva berakhir. Setelah memarkirkan motor, Ayu menarik tangan kakak iparnya untuk segera masuk ke mall tersebut. Ini adalah pertama kalinya Nur memasuki mall. Meskipun dia sering pergi ke Blitar kota, tetapi dia jarang masuk ketempat elit seperti ini. Dia lebih suka pergi ke pasar tradisional. Ramai dan becek memang, tetapi dia nyaman belanja di tempat seperti itu. "Kenapa harus ke sini, Yu? Kita bisa belanja pakaian di pasar Legi. Di sana saya bisa milih pakaian banyak dengan harga murah." "Saya tahu Mbak, di sana pakaiannya juga bagus-bagus, tapi di sini Mbak akan menemukan pakaian-pakaian yang akan disukai oleh Mas Deva. Mbak tahu sendiri kan bagaimana Mas Deva? Ayo …." Ayu kembali menarik tangan Nur dan segera membawanya menuju ke counter baju. Namun, saat mereka berdua akan naik eskalator, Nur langsung menarik tangan Ayu. Dia diam di tempatnya dan tidak mau melangkahkan kaki. "Kenapa, Mbak?" "Ayu, Saya ndak pernah naik tangga berjalan seperti ini. Saya ndak mau. Saya takut nanti jatuh." Ayu langsung tertawa terbahak-bahak melihat muka Nurlaila yang memang menyorotkan rasa takut. Sekarang dia benar-benar yakin kalau Nur Laila memang tepat untuk kakaknya. Tidak apa-apa meskipun sedikit ndeso, yang penting dia baik dan tidak neko-neko. Bukankah di era seperti ini memang perempuan yang tidak neko-neko seperti itu yang dicari? "Kenapa kamu malah tertawa? Aku iki beneran takut lho." "Sini mbak pegangan aku terus. Ndak usah takut, Mbak. Itu nggak menggigit kok. Tenang saja, kita ndak akan jatuh. Kita akan boncengan terus sampai ke atas. Ayo." "Beneran kita ndak akan jatuh?" "Ndak, Mbak. Ayo!" Akhirnya, Nur bersedia untuk naik eskalator. Tangannya menggenggam erat tangan Ayu. Dia benar-benar takut karena ini adalah pengalaman pertamanya naik eskalator. Nur melangkahkan kakinya dengan cepat setelah mendapatkan instruksi dari adik iparnya. Ayu tahu kalau kakak iparnya terus melafalkan doa selama dia berada di eskalator yang hanya beberapa detik. Rasanya ingin kembali tertawa, tapi dia tahan sebisanya. Akhirnya, mereka sudah sampai di lantai di mana tempat display fashion keren. Memang belum ramai sih, hanya ada beberapa brand saja, tapi cukuplah untuk membeli beberapa potong saja untuk Nur Laila. Ayu berjalan menuju ke sebuah manekin yang sedang memakai tunik panjang dengan model kekinian. Tunik itu berwarna lylac. Warna yang sedang ngetren saat ini. Memang hanya tunik polos sih, tapi bagian pinggangnya ada tali serut yang tampak begitu elegan. "Mbak Nur, ini suka? Bagus banget." "Wah, ini bagus banget yu, tapi apa nggak kekecilan kalau aku yang pakai?" "Ya Allah, mbak. Mbak Nur itu badannya kecil banget bahkan lebih kecil dari aku. Jadi nggak mungkin kekecilan dipakai sama Mbak Nur. Mbak, pakai pakaian yang longgar itu nggak apa-apa, jangan sampai kelonggaran banget. Yang ini pasti pas di badan Mbak Nur. Mbak pasti juga akan tampak sangat cantik. Apalagi dipadu sama ini nih." Ayu mengambil sebuah kulot jeans warna putih. Sepertinya memang sangat cocok jika di padu dan padankan dengan tunik lylac tersebut. Iya sih. Bagus. Nur pun juga menyukainya. Namun, apakah pantas memakai style seperti itu? Ah … tapi bukannya dia memang ingin berubah supaya suaminya bisa melirik dia dan tidak meremehkan dia karena penampilannya yang sama sekali tidak kekinian. Nur Laila segera mengecek hang tag pada baju Lylac tersebut. Dia langsung diam dan terbengong ketika dia melihat ada angka 5 dan di belakangnya ada lima nol. Itu artinya harga baju tersebut 500.000. hanya sebuah tunik berharga 500.000? "Yu, jangan yang ini. Ini terlalu mahal. Masa lima ratus ribu? Uang sebanyak ini saya bisa beli 10 tunik di pasar, Yu." "Mbak Nur, ini belum seberapa. Nanti Mbak Nur bisa minta tunik yang harganya jutaan ke mas Deva. Mbak nggak boleh sungkan minta sama suami sendiri. Nanti dikira Mbak gak bisa ngabisin duit suami lo, dan dihabisin deh sama si Silvia itu. Udah nggak usah sungkan. Duit suami kan buat istri juga harusnya. Iya kan? Aku ambil ini ya?" Tanpa menunggu jawaban Nur terlebih dahulu, Ayu segera mengambil pakaian tersebut. Ah, rasanya Nur merasa bersalah kalau harus membeli sepotong tunik dengan harga segitu. Dengan uang sebanyak itu dia biasanya bisa membelikan pakaian untuk dirinya, bapaknya dan juga adik-adiknya. Maklum, keluarga mereka berada pada ekonomi menengah ke bawah. Jadi uang 500.000 sangatlah berharga untuk mereka. Lagipula, uang segitu adalah gajinya di TK selama 2 bulan. Ah, tapi ya sudahlah. Sepertinya Ayu memang tidak bisa lagi dicegah. Akhirnya Ayu membelikan beberapa potong pakaian untuk Nur Laila. Ada jilbab, atasan, bawahan, tas, sandal, dan juga aneka skincare. Mereka mengitari kota Blitar hari itu untuk membeli semua keperluan Nur. Kalau suaminya tidak bisa memanjakannya, maka adiknya yang bertindak. Ah, betapa beruntungnya Nur memiliki adik ipar seperti dia. "Mbak, kita ke salon dulu ya? Mbak harus perawatan. Supaya lebih kinclong ketika dilihat sama Mas Deva." "Hah? Ndak perlu yu. Kita sudah habis banyak banget hari ini. Kita ndak usah beli macam-macam lagi. Sudah cukup." Ayu hanya bisa mendesah kasar. Bisa-bisanya kakaknya memiliki istri yang luar biasa seperti itu. Kalau Semua perempuan seperti Mbak Nur, pasti para laki-laki akan sangat bahagia. Tapi … Ayu tidak akan membiarkan itu terjadi. Mana bisa Nur Laila tidak mendapatkan jatah apa-apa sedangkan kekasihnya selalu dibelikan barang-barang mahal. Meskipun tidak mendapatkan persetujuan dari Nur, Ayu langsung membawa kakak iparnya belok ke salon kecantikan yang ada di jalan Kalimantan Blitar. Ayu tidak ingin apa-apa kecuali kebahagiaan kakaknya di masa depan nanti. Inilah upayanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN