“Tania,” suara itu mengejutkan Tania ketika ia baru saja masuk ke dalam ruangannya. “Kak El,” lirih Tania. “Kak El kok ada di sini?” tanyanya. El tersenyum. “Aku buatin makan siang untuk kamu,” ujarnya alih-alih menjawab pertanyaan yang Tania lontarkan padanya. “Kak El kenapa repot-repot bawain makanan untuk aku? Serius aku enggak enak kalau tiap hari repotin Kak El terus,” cakap Tania. El mengulas senyumnya, ia lantas mendekati Tania dan berdiri di depan perempuan itu. “Selama itu kamu, aku enggak akan pernah ngerasa direpotin sama sekali,” kata El. Tania terdiam, untuk yang kesekian kalinya ia merasa memiliki tempat spesial di hari El. Namun, sebisa mungkin Tania menepis, El mungkin sudah menganggap dirinya sebagai seorang adik. “Em, kalau gitu aku pergi dulu, mau ke rumah sakit,”

