Kita Cerai

1708 Kata
“Kamu enggak pa-pa?” tanya Bastian seraya membantu Intan yang tengah berusaha bangkit. “Aw, perut aku ...,” lirih Intan usai bangkit dari posisinya, wanita itu kembali bertingkah demi mendapatkan perhatian Bastian di depan Tania. “Pe-perut kamu kenapa?” Bastian seketika itu langsung panik, menopang tubuh Intan yang hampir ambruk kembali. “Kayaknya anak kamu di dalam sana syok deh,” ujar Intan. Tania membeliak ketika mendengar Intan berkata ‘anak kamu’ pada Bastian. Tania pun seketika menebak kalau Intan kemungkinan besar tengah hamil anak suaminya itu. Hati Tania kembali hancur lebur. Bastian yang sadar kalau perkataan Intan barusan didengar oleh Tania pun sontak ia langsung menatap sosok Tania yang tampak diam termenung. “Tania,” lirih Bastian. Sesaat ia menghela napasnya pelan. “Kamu dari mana saja? Aku dari kemarin hubungi kamu, tapi kamu ....” “Maaf ganggu waktu kalian,” sela Tania. “Kalian tenang aja, aku dateng ke sini cuma mau ambil barang-barang aku, setelah ini aku bakal pergi dari sini,” tukasnya. “Maksud kamu apa?” ujar Bastian. “Untuk apa kamu ambil barang-barang kamu? Dan siapa yang suruh kamu pergi dari sini?” imbuhnya. Tania tersenyum miris. “Kamu udah enggak butuh aku lagi, Mas. Sekarang kamu udah punya dia. Dan lagi pula sebentar lagi kita akan bercerai. Jadi, sampai jumpa di pengadilan,” cakap Tania. Lalu ia melangkah menuju lemarinya, berniat mengambil semua barang-barang miliknya dan membawanya pergi. Namun, Bastian yang tidak mau Tania pergi tampak bergerak cepat mencegah istrinya itu. “Aku enggak bakal ceraiin kamu,” tegas Bastian. “Tapi aku bakal gugat cerai kamu,” balas Tania, tak mau kalah. Kemudian, Tania melangkah melewati Bastian yang sempat menghadang jalannya. Tania pun lantas mengambil kopernya dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper besar itu. Tapi, lagi-lagi Bastian mencegah. Ia dengan kasar mencengkeram pergelangan tangan Tania, menahan Tania untuk berhenti memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper. “Kamu mau cerai sama aku karena Kak El kan?” tuding Bastian. “Kamu suka sama dia?” tuduhnya. Tania membeliak, tak percaya dengan asumsi suaminya yang sangat keterlaluan. “Mas, aku enggak pernah satu kali pun khianati kamu. Justru kamu yang berulang kali selingkuh di belakang aku. Dan bodohnya aku, aku enggak pernah sadar dengan kebusukan kamu itu,” tandas Tania, dengan emosinya yang sudah meledak. Bastian terdiam saat dia dibuat syok dengan sikap Tania yang sangat berbeda. Sebab, sepanjang enam tahun mereka bersama, Tania tak pernah satu kali pun meninggikan suaranya di depan Bastian. Selama ini wanita itu selalu bertutur kata lembut dan baik. “Tania,” sahut Intan. “Kamu juga harus sadar diri, coba kamu bercermin dan renungkan apa yang sekiranya membuat Bastian selingkuh di belakang kamu. Yang jelas, salah satu alasannya adalah kamu yang enggak bisa kasih Bastian keturunan, padahal kalian udah enam tahun menikah loh. Ah, atau jangan-jangan kamu jarang penuhin kebutuhan biologis Bastian dan enggak bisa puasin dia? Kalau memang seperti itu, wajar saja Bastian berpaling dari kamu,” sindirnya. Tania mengembuskan napasnya kesal mendengar perkataan Intan barusan, ia bahkan tampak mengepalkan kedua tangannya kuat agar bisa menahan emosinya yang ingin sekali menampar mulut kurang ajar perempuan di belakang Bastian itu. “Ya, sekarang aku udah sadar. Aku memang enggak pantas buat dia,” balas Tania. “Jadi, kamu bisa ambil dia, dan miliki dia sepuasnya,” tandasnya. Setelah itu, Tania menutup kopernya dan membawa koper itu pergi bersamanya. Tania bahkan sudah tidak peduli lagi dengan beberapa barangnya yang masih tertinggal di dalam lemari. Saat Tania melangkah pergi, Bastian tampak kembali berusaha mencegah, tapi kali ini Intan bertindak, dia menahan lengan Bastian untuk tidak pergi dari sisinya. “Biarkan dia pergi,” ucap Intan. Bastian yang memang sudah putus asa akhirnya menyerah. Dia menghela napasnya berat, dan hanya bisa menatap sosok Tania yang lambat laun menghilang dari pandangan. Intan yang tahu kalau Bastian tengah hancur pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menjadi tempat bernaung bagi kesedihan Bastian. Intan lantas menarik tubuh Bastian dan mendekap pria itu hangat, membuat Bastian merasa nyaman dan berangsur tenang. *** Suara gedoran pintu dari luar apartemen membuat Intan merasa terganggu, ia pun dengan segara membuka pintu tersebut dan melihat ternyata yang datang adalah suaminya, Dimas. “Kamu.” Dimas mendorong Intan masuk, lalu menutup pintu apartemen rapat. “Dimas, ka-kamu mau apa?” ujar Intan, merasa sedikit takut dengan Dimas yang tampak diselimuti amarah. Dimas tak menjawab, tetapi tangannyalah yang bertindak, pria itu menampar wajah Intan hingga membuat Intan jatuh tersungkur. Rona merah akibat dari tamparan itu bahkan langsung singgah di wajah mulus wanita itu. “Keterlaluan kamu,” amuk Dimas. Intan bungkam, tak berani bersuara, dia sejak dulu memang sangat takut jika Dimas sudah marah besar padanya, mental Intan seolah sudah dibentuk untuk tunduk dan patuh serta menakuti pria satu itu. “Apa salahku, Dimas?” tanya Intan dengan nada suaranya yang terdengar bergetar ketakutan. “Masih bertanya salah kamu apa, ha?!” kesal Dimas. “Aku suruh kamu buat deketin dia untuk mata-matai proyek yang lagi dia kerjaain. Aku suruh kamu buat rampas semua harta dia. Tapi apa yang malah kamu lakuin di belakang aku, huh?! Kamu mau khianatin aku?” tukasnya Dimas melangkah mendekati Intan yang masih terduduk di lantai. Intan yang merasakan bahaya pun langsung bergerak mundur, menjauh dari tapak kaki Dimas yang semakin mendekat padanya. Sampai kemudian, tangan Dimas kembali bergerak, Dimas menarik rambut Intan kuat, membuat wanita itu meringis kesakitan. “Aku minta maaf, Dimas,” lirih Intan, memegangi tangan Dimas yang masih menarik rambutnya kuat. “Aku bisa jelasin alasannya ke kamu, aku enggak pernah punya niat buat khianati kamu. Apalagi aku lagi hamil anak kamu,” lanjutnya. Intan sengaja menyebut ‘anak’ agar Dimas sedikit melunak padanya. Dimas pun tampak mengembuskan napasnya berat, dan benar saja, dia langsung melepaskan Intan dari cengkeramannya. Intan bernapas lega, ia dengan segera bangkit dan mencoba berdiri tegap di hadapan Dimas. “Cepat jelasin ke aku apa rencana kamu sampai kamu gugat cerai aku,” tegas Dimas bersama deru napasnya yang tampak diburu emosi. “Aku harus cerai sama kamu, karena aku bilang sama Bastian kalau aku hamil anak dia dan dia harus nikahin aku,” terang Intan, sedikit ragu saat mengatakannya. “Apa?!” Dimas terkejut mendengarnya. Karena ia tidak pernah berencana untuk menggunakan anak mereka sebagai umpan demi mendapatkan harta Bastian. “Gila kamu, ya. Itu anak aku, Intan. Siapa yang suruh kamu bilang kalau itu anak dia, ha?!” ujar Dimas, menatap Intan kesal. “Aku terpaksa lakuin itu karena Bastian hampir aja tinggalin aku,” papar Intan. “Dan sekarang rumah tangga Bastian hancur, jadi aku ada peluang untuk masuk dalam hidup dia,” lanjutnya. “Jadi kamu emang berniat mau cerai sama aku dan hidup sama b******n itu?” tandas Dimas. “Enggak, Dimas. Kamu jangan salah paham dulu, dengerin penjelasan aku, aku nikah sama Bastian buat rebut hartanya dan hancurin posisinya sebagai wakil direktur utama perusahaan musuh kamu itu, semuanya masih seperti rencana awal kita,” “Rencana awal kita?” Dimas tersenyum miris. Semua yang Intan lakukan ini bukanlah seperti yang mereka rencanakan. Bahkan ini sudah melewati batasan, karena rencana awal mereka hanyalah sebatas Intan mendekati Bastian selama beberapa bulan agar Intan bisa memata-matai Bastian sebagai penanggung jawab proyek besar yang tengah dibuat oleh perusahaan musuh Dimas. “Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu isi hati kamu yang sebenarnya, Intan,” tegas Dimas, menatap nyalang istrinya itu. “Tapi ....” “Kita cerai,” sela Dimas, melontarkan talaknya. “Itu kan kemauan kamu? Ya, oke, aku turutin kemauan kamu. Mulai sekarang kita cerai, aku talak tiga kamu, dan silakan kamu hidup sama pria kayak Bastian. Dia mungkin kelihatan baik sama kamu, tapi kamu harus ingat kalau dia lebih buruk dari aku. Aku mungkin sering kasar sama kamu, tapi aku enggak pernah selingkuhin kamu, Intan,” tandasnya. Setelah itu, Dimas melangkah pergi, meninggalkan Intan yang sedikit sedih melihat Dimas yang kini benar-benar pergi darinya. *** El terhenyak kaget saat ia merasakan kakinya dipeluk erat oleh seorang anak kecil. Saat melihat, ternyata yang memeluknya adalah sosok anak kecil yang ia kenali sebagai anak Salsha—mantan istrinya. “Papa,” panggil anak laki-laki itu. El membeliak kaget saat anak laki-laki itu memanggilnya demikian, El pun lantas menggeser troli belanjaannya dan menghadap ke arah anak laki-laki itu. Ya, saat ini El memang tengah berada di supermarket untuk membeli kebutuhan dapurnya. “Kamu ....” El kemudian berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan si anak kecil. “Papa,” ujar anak laki-laki itu. “Hei, aku bukan papa kamu,” cakap El sembari mengurai senyumnya. “Panggil Om, Om El,” suruhnya. Tapi anak laki-laki itu justru menggelengkan kepalanya, menolak dengan sangat gamblang. El yang mendengarnya tampak menggaruk kening, bingung harus bagaimana menjelaskan pada anak itu bahwa dia bukanlah papanya. “El.” Seorang wanita tiba-tiba memanggil. El dan anak laki-laki di depannya itu menoleh bersamaan. Salsha, dia datang dan langsung memeluk anak laki-laki itu erat. “Ya ampun, El. Kamu itu kebiasaan banget, ya. Mama ‘kan udah bilang jangan pergi jauh-jauh,” omel sang ibu pada anaknya yang ternyata juga bernama El. “El?” El menyahut saat dia menyadari kalau tadi mantan istrinya itu menyebut si anak laki-laki itu dengan nama yang sama persis dengan nama panggilannya. Salsha mendongak, ia baru sadar kalau ternyata laki-laki yang ada di dekat putranya itu adalah sang mantan suami. “El, kamu ....” “Aku enggak sengaja ketemu dia,” ucap El. “Lebih tepatnya dia tiba-tiba dateng terus peluk kaki aku dan panggil aku ‘papa’,” terangnya dengan raut wajahnya yang tampak menjelaskan kalau dia sangat tidak menyukai situasinya tadi. “Tolong kasih tahu ke dia kalau aku bukan ayahnya,” lanjut El. “Maaf,” lirih Salsha. “Dan soal nama kamu yang sama kayak nama dia, ya nama panggilan kalian emang sama,” terang Salsha. El menghela napasnya pelan. “Itu hak kamu buat panggil dia apa, lagian aku juga enggak peduli seberapa banyak orang yang punya nama yang sama kayak aku,” cakap El, setelah itu dia mendekati troli belanjaannya dan mendorongnya pergi. “Permisi,” pamitnya. “Papa,” panggil si anak laki-laki itu. “Hush, jangan panggil dia Papa, panggil dia Om,” suruh Salsha pada anaknya. Dan El yang belum jauh pun masih dapat mendengarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN