Helaan napas berat terdengar untuk yang kesekian kalinya dari diri Bastian.
Pria itu tampak bersandar pada sofa ruang tamu rumahnya.
Bastian merasa sangat penat, pikirannya masih penuh terisi oleh sosok Tania yang sampai detik ini belum juga dapat ia temukan.
Istrinya itu seakan tersembunyi di dunia lain dan seolah tidak akan pernah dapat ia temukan.
Sekali lagi, Bastian mengembuskan napasnya berat, memijat pelipisnya yang sejak tadi terus terasa berdenyut kuat.
Di luar sana, malam tampak ditemani kegelapan, hujan turun sangat deras, diiringi petir yang beberapa kali terdengar menyambar.
Cuaca buruk itu semakin membuat Bastian merasa kalut dalam keterpurukan. Ia pun lantas mencoba memejamkan matanya sejenak, berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi buruknya saja.
Namun, seperkian detik kemudian, bel rumahnya terdengar berbunyi, membuat kelopak mata Bastian kembali terbuka lebar.
Dengan penuh harap kalau itu adalah Tania, Bastian pun bangkit dan sesegera mungkin melangkah menuju pintu utama.
Tak menunggu lama, Bastian bahkan langsung membuka pintu tersebut. Tapi harapannya seketika itu langsung pudar saat ia melihat ternyata yang datang bukanlah sosok Tania, melainkan sosok Intan yang tampak basah kuyup diguyur hujan malam.
“Bas,” lirih Intan, tubuhnya tampak gemetar kedinginan, bahkan wajah wanita itu terlihat sudah sangat pucat.
Intan hampir ambruk jika saja Bastian tidak segera menopang tubuhnya.
“Apa yang terjadi, Intan? Kenapa kamu bisa kehujanan dan basah semua seperti ini?” tanya Bastian sembari mendekap tubuh Intan yang basah kuyup, sehingga membuat pakaian Bastian pun ikut basah juga.
“Kenapa kamu tega tinggalin aku?” lirih Intan dengan suaranya yang terdengar bergetar.
Bastian terdiam, dia paham apa maksud perkataan Intan. Ya, Bastian memang meninggalkan wanita itu di Bali seorang diri. Bastian pergi kembali ke Jakarta tanpa mengajak Intan bersamanya. Dia pergi demi Tania, istri sahnya.
“Bas, aku lagi hamil anak kamu,” ujar Intan.
Bastian masih bungkam, dia hanya semakin mendekap erat tubuh Intan yang terasa gemetar kedinginan.
“Maaf,” ucap Bastian, hanya kata itu yang sejak beberapa hari lalu mampu ia tuturkan pada Intan.
“Aku ....” Intan tiba-tiba ambruk, dia masih sadarkan diri, tapi pandangannya terasa kabur.
Bastian yang tak tega melihatnya pun langsung menggendong Intan dan membawa wanita itu masuk ke dalam rumah. Bahkan, tanpa ragu Bastian membawa Intan masuk ke dalam kamarnya dan Tania.
Di dalam kamar tersebut, Bastian meletakkan tubuh Intan ke atas sofa, kemudian Bastian melangkah mendekati lemari istrinya—Tania—dan mengambil salah satu dress panjang milik sang istri untuk dipakai oleh selingkuhannya itu—Intan.
“Ini, ganti pakaian kamu,” suruh Bastian seraya menyerahkan dress milik Tania pada Intan yang tampak lemah.
“Itu baju istri kamu, aku enggak mau pakai itu,” ujar Intan.
Bastian menghela napasnya berat. Ia lantas membantu Intan yang masih lemas itu untuk berdiri tegap.
“Kamu pakai baju ini dulu, nanti setelah hujan berhenti, aku bakal anter kamu pulang dan kamu bisa ganti pakaian yang lain,” kata Bastian sembari melepaskan satu demi satu kancing baju yang Intan pakai. Sepertinya Bastian hendak membantu selingkuhannya itu untuk berganti pakaian, alasannya karena Bastian melihat Intan sepertinya tampak sangat lemas dan seolah tidak sanggup untuk berganti pakaian sendiri.
“Istri kamu di mana? Kalau dia lihat aku di dalam kamar kalian dan pakai baju milik dia, dia pasti bakal marah sama aku dan kamu,” kata Intan.
“Dia enggak ada di rumah,” jawab Bastian, masih sibuk membantu Intan mengganti pakaian.
“Pantes aja kamu langsung bawa aku masuk ke sini,” cakap Intan, terlihat mengurai senyumnya tipis.
Bastian mengembuskan napasnya berat, lalu ia menatap Intan yang sudah selesai berganti pakaian.
“Tania udah tahu semuanya,” tutur Bastian. “Dia tahu aku pergi ke Bali sama kamu, dan juga semua perbuatan buruk aku selama ini,” imbuhnya, terlihat sedih.
“Istri kamu udah tahu semuanya?” lirih Intan, tampak kaget, tapi sebenarnya dia hanya berpura-pura saja. “Jadi, dia pergi karena udah enggak mau lagi tinggal sama kamu?” tanya Intan kemudian, merasa menemukan peluang untuk mendapatkan Bastian seutuhnya.
“Dia ajuin gugatan cerai ke aku,” terang Bastian, raut wajahnya berubah muram dan tampak sangat sedih.
Intan terkejut, tapi kemudian ia terlihat mengulum senyumnya, tentu saja dia senang dengan kabar tersebut.
“Maaf,” ucap Intan kemudian. “Gara-gara kamu selingkuh sama aku, rumah tangga kamu dan istri kamu harus kandas,” lirihnya, berpura-pura sedih.
Bastian menatap Intan sendu, lalu mengusap pipi selingkuhannya itu pelan.
“Semua ini bukan salah kamu, aku yang salah, dan lagi pula kamu sama sekali tidak terlibat dalam masalah rumah tanggaku dengan Tania,” kata Bastian, membuat Intan tersenyum tipis, hatinya pun tertawa licik.
“Sudahlah, jangan bahas masalahku dengan Tania lagi,” ujar Bastian kemudian. “Kamu istirahat dulu di kasur itu, aku mau ke dapur, buatin kamu teh hangat,” imbuhnya.
Intan dengan patuh menuruti perkataan Bastian. Wanita itu lantas berjalan menuju tempat tidur milik Bastian dan Tania.
Intan dengan sangat senang berbaring di sana dan membayangkan jika saja dirinya adalah istri sah Bastian pasti semua ini akan terasa lebih menyenangkan.
Di lain sisi, sebuah taksi tampak berhenti di depan rumah Bastian.
Tak lama setelah taksi itu berhenti, sosok Tania tampak keluar dari dalam taksi tersebut.
“Pak tolong tunggu, ya. Saya mau ambil barang-barang saya dulu, nanti saya bayar lebih,” pinta Tania.
Sopir taksi itu mengangguk, setuju dengan penawaran yang Tania ajukan. Lagi pula, malam ini sedang hujan deras, tidak banyak orang yang akan pergi keluar, jadi cukup menguntungkan bagi si sopir taksi jika dirinya menyetujui tawaran Tania barusan.
Usai berbincang sejenak dengan si sopir taksi, Tania pun lantas melangkah menuju teras rumahnya.
Di teras rumah, Tania langsung mencari kunci rumahnya yang ia simpan di dalam tas.
Setelah menemukan kunci rumah tersebut, Tania pun berniat membuka pintu. Tapi, saat baru saja ingin memasukkan kuncinya Tania sadar kalau pintu itu tidak terkunci.
Tania berpikir, mungkin saja Bastian ada di dalam rumah.
Namun, Tania yang pulang hanya untuk mengambil barang-barangnya pun tidak terlalu memedulikan jika memang Bastian ada di rumah tersebut.
Tania kemudian langsung masuk ke dalam rumah, dan menutup pintunya kembali.
Setelah masuk ke dalam rumah, Tania sedikit heran dengan jejak tetesan air yang terlihat di sepanjang lantai yang mengarah ke kamarnya.
Apa Bastian kehujanan dan masuk ke dalam rumah dalam keadaan basah kuyup? Pikir Tania. Tapi kemudian, Tania menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin peduli dengan apa yang terjadi pada Bastian.
Tania pun lalu melangkah menuju kamarnya, ia melewati anak tangga satu demi satu tanpa sadar kalau ada seseorang yang tengah berkutat membuat minuman di dapur.
Sesampainya Tania di depan pintu kamar, ia langsung memutar handle pintu tersebut dan membuka pintu kamarnya lebar.
Namun, saat masuk ke dalam kamar, Tania dibuat kaget dengan kehadiran sosok wanita yang tampak terbaring santai di atas kasurnya. Terlebih lagi, wanita itu mengenakan pakaian miliknya.
“Kamu.” Suara Tania menggema, emosinya memuncak saat dia tahu kalau wanita itu adalah selingkuhan suaminya.
Mata Tania bahkan terasa memanas, hatinya seketika itu terasa sangat sesak. Ia benar-benar emosi dengan apa yang dilihatnya saat ini.
“Kembalikan,” ujar Tania, langsung mendekati Intan yang baru saja bangkit dari kasur dan menarik baju miliknya yang dikenakan oleh Intan.
“Apa yang kamu lakukan? Lepas.” Intan berusaha mempertahankan diri. Tapi nyatanya dia kalah kuat dengan Tania yang diselimuti emosi.
“Siapa yang menyuruhmu pakai baju itu, hah?! Itu milikku! Cepat kembalikan!” Tania berteriak frustrasi. Dia sangat kesal, hingga air matanya jatuh di sela-sela amarahnya.
“Bastian yang suruh aku pakai ini, dia bahkan bantu aku pakai baju ini,” tukas Intan, perkataannya itu semakin membuat Tania merasa sesak.
“Lepasin baju itu sekarang juga, itu milikku!” Tania benar-benar dibuat kalap. Dia kembali mendekati Intan, menarik baju itu sekuat tenaga, hingga baju itu robek dan membuat Intan jatuh terjerembab ke belakang.
Tepat saat itu, Bastian datang dengan raut paniknya karena mendengar suara keributan dari kamar.
Dan alangkah terkejutnya Bastian saat ia melihat Tania dan Intan tengah berkelahi. Apalagi saat Intan jatuh tersungkur, Bastian langsung berlari karena takut Intan yang tengah hamil itu terluka.
Tania yang melihat sikap suaminya itu merasa semakin miris, ia kemudian melihat robekan bajunya yang tengah ia genggam kuat. Tania ingat, pakaian itu adalah hadiah dari Bastian di ulang tahun pertama pernikahan mereka. Namun, kini pakaian itu telah koyak, rusak. Persis seperti rumah tangganya dengan Bastian.