Kekecewaan dan Penyesalan

1209 Kata
Bastian melesat cepat. Kini kakinya telah berpijak tepat di depan pintu apartemen kakaknya—El.   Tak ingin membuang waktunya, Bastian langsung mengetuk pintu apartemen itu dengan sangat keras, hingga membuat beberapa tetangga tampak penasaran dan mengintip keluar untuk melihat siapa gerangan yang telah membuat keributan di siang bolong seperti ini.   Namun, Bastian terlihat masa bodoh walau padahal dia merasa kalau dirinya sedang diamati oleh beberapa pasang mata.   Sampai kemudian, seorang penjaga keamanan gedung apartemen—yang sepertinya dipanggil oleh salah satu penghuni di gedung apartemen itu—tampak datang untuk menghentikan keributan yang Bastian buat.   “Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya satpam itu, menunjukkan sikap sopannya terlebih dulu.   Tapi sayangnya sikapnya itu malah dibalas buruk oleh Bastian yang tengah dilanda emosi. Bukannya menanggapi dengan baik, Bastian justru merasa kesal dengan kehadiran satpam tersebut.   “Pergilah, saya tidak ada urusan dengan Anda,” tukas Bastian, kemudian kembali menekan tombol apartemen El dan sesekali juga menggedornya keras.   “Maaf, Pak. Bapak harus berhenti menggedor pintu apartemen ini. Bapak bisa merusak pintunya, dan tindakan Bapak ini juga membuat penghuni lain merasa terganggu,” cakap si satpam, masih mencoba berdiskusi dengan cara yang baik walaupun nada suaranya terdengar lebih tegas dari sebelumnya.   Bastian mengembuskan napasnya berat, ia yang tengah emosi pun seketika menatap satpam tersebut dengan tatapannya yang terlihat nyalang.   “Saya bilang, saya enggak ada urusan dengan Anda, jadi tolong jangan ganggu saya,” tegas Bastian, tak peduli dengan teguran dari satpam itu.   Si satpam yang akhirnya menyerah untuk berbicara baik-baik pun terlihat mengambil walkie talkie-nya dan siap untuk melaporkan Bastian ke bagian keamanan.   Namun, sebelum sempat satpam itu melapor. Pintu apartemen milik El tampak dibuka oleh seseorang dari dalam apartemen tersebut.   Dan yang membukanya tentu saja si pemilik apartemen, yaitu El sendiri.   Bastian yang melihat pintu apartemen kakaknya sudah terbuka lebar, ia langsung menerobos masuk begitu saja, membuat satpam tadi hampir mengejarnya. Tapi dengan segera El mencegah dan menjelaskan bahwa Bastian adalah adiknya.   “Dia saudara saya, Pak. Jadi biarkan saja dia masuk,” cakap El dengan senyum canggungnya, merasa tidak enak hati pada si satpam karena tingkah Bastian yang pasti sudah membuat satpam itu merasa kesal atau pun frustrasi, belum lagi beberapa tetangga yang merasa terganggu dengn keributan yang Bastian buat.   “Oh, jadi dia saudara Pak El,” ucap si satpam, yang memang mengenal El karena El adalah salah satu penghuni lama di gedung apartemen tersebut.   “Iya, Pak. Maaf kalau sikapnya buat penghuni lain ngerasa enggak nyaman,” ujar El.   Si satpam menghela napasnya berat, lalu mengangguk singkat.   “Lain kali tolong nasihati adiknya untuk bersikap lebih sopan lagi, Pak,” kata satpam itu.   El kembali mengurai senyum canggungnya, lalu ia menutup pintu apartemennya usai melihat satpam itu melenggang pergi. Setelah itu, fokus El beralih pada sosok Bastian yang ternyata sudah memporak-porandakan apartemennya. Entah apa yang merasuki adiknya itu, tapi barang apa pun yang ada di depan mata Bastian pasti akan dilemparnya begitu saja. El yang tidak tinggal diam pun langsung menghampiri adiknya yang saat itu tengah memasuki kamarnya. Dengan cepat, El mencegah Bastian untuk tidak masuk ke dalam kamar tersebut. “Kamu apa-apaan sih, Bas?” tegas El, menatap adiknya itu dengan raut heran sekaligus kesal. Bastian mendengus, ia menepis tangan sang kakak yang sempat menyentuh lengannya. “Di mana Tania?” tanya Bastian, tak hirau lagi dengan sopan santun pada kakak kandungnya sendiri. El menghela napasnya pelan, kemudian ia berkata, “Kamu nyari di tempat yang salah.” “Di tempat yang salah? Kak El mau coba sembunyiin dia dari aku?!” tukas Bastian. “Aku tahu dia pasti ada di sini, Kak El sembunyiin dia di mana?!” desaknya. “Aku enggak sembunyiin Tania,” tegas El, menekankan dengan sangat jelas kalau dirinya sama sekali tidak menyembunyikan istri dari adiknya itu. “Aku juga masih tahu adab, Bastian. Dan untuk apa aku sembunyiin dia di sini,” timpalnya. Bastian mengembuskan napasnya berat, ia lantas melenggang pergi dari hadapan El, kembali mencari sosok istrinya di setiap sudut ruangan. “Kalau Kak El enggak mau kasih tahu aku, oke, aku bakal cari sendiri,” ujar Bastian, keras kepala. “Haruskah aku laporin kamu ke polisi, baru kamu mau berhenti berantakin rumah aku, huh?” cakap El, sedikit mengancam. Bastian sontak menghentikan aksinya yang sibuk mencari Tania di sudut mana pun, bahkan lemari pakaian El pun menjadi sasaran empuknya. “Kalau Tania enggak ada di sini, jadi dia ada di mana? Kak El sembunyiin dia di mana?!” Bastian kembali melontarkan pertanyaannya. El menghela napasnya panjang, lalu dengan sengaja ia berbohong. “Aku enggak tahu,” jawabnya. Bastian yang merasa ditipu pun dibuat semakin kesal, ia lantas melangkah mendekati kakaknya dan menarik kerah El walaupun padahal kakaknya itu jauh lebih tinggi darinya. “Tadi Deyana kasih tahu aku kalau Kak El sama Tania pergi ke pengadilan agama, itu artinya Kak El pasti tahu dia ada di mana,” ujar Bastian. El melepaskan cengkeraman Bastian pada kerahnya, sejenak ia membenarkan bajunya yang sedikit berantakan, sebelum kemudian kembali menatap Bastian dengan raut seriusnya. “Aku emang temenin dia ke kantor pengadilan agama buat gugat cerai kamu, tapi aku enggak tahu dia sekarang ada di mana,” tukas El. “Bohong,” ujar Bastian. “Sekalipun aku tahu Tania ada di mana, aku enggak akan pernah kasih tahu ke kamu,” kata El, membuat Bastian semakin emosi dan tanpa bisa mengontrol emosinya itu—Bastian langsung melemparkan tinjunya pada sang kakak. Perkelahian kakak beradik itu pun di mulai, mereka saling baku hantam, memukul tubuh satu sama lain tanpa henti, dan—tak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah. Bahkan, El yang awalnya hanya ingin melindungi dirinya, kini juga turut larut mengikuti alur permainan Bastian yang rasanya ingin sekali untuk saling membunuh. Perkelahian mereka mungkin saja akan terus berlanjut seperti Naruto dan Sasuke jika saja seseorang tidak masuk ke dalam apartemen tersebut dan meneriaki nama keduanya dengan sorot mata yang menatap sedih ke arah dua pria yang kini tampak babak belur. “Apa yang kalian lakuin?!” teriaknya dengan getaran suara yang terdengar pilu. “Bunda,” lirih El, yang kemudian langsung bangkit dari atas tubuh Bastian. Sedangkan Bastian, ia tampak susah payah bangkit karena kenyataannya ia kalah baku hantam dengan sang kakak. “Kenapa kalian berantem?” tanya Bunda Tari. “Bastian yang mulai duluan,” ujar El. “Aku enggak mungkin hajar dia, kecuali dia yang mulai duluan,” timpalnya. “Kalau Kak El kasih tahu aku di mana Tania, aku enggak mungkin ajak ribut Kak El,” tukas Bastian. “Kamu cari Tania?” sahut Bunda Tari. Bastian langsung menatap pada sang bunda yang seolah tahu di mana istrinya. “Bunda tahu di mana Tania?” tanya Bastian. “Untuk apa kamu cari dia setelah kamu sakitin dia, Bas?” kata Bunda Tari dengan binaran matanya yang terlihat menatap Bastian dengan sorot kecewa. “Teganya kamu melakukan itu pada Tania, Bas. Bunda malu sebagai ibu kamu. Bunda ngerasa gagal ngedidik kamu jadi pria yang baik,” sedihnya. “Kamu itu lahir dari rahim seorang wanita, Bas. Bagaimana kamu malah tega lukain hati seorang wanita sebaik Tania?!” lanjut Bunda Tari, air matanya mengalir. Bastian terdiam mengetahui fakta kalau ternyata sang ibu telah tahu segalanya. Rasa sesal pun seketika itu mengoyak dalam hati Bastian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN