Gugatan Cerai

1953 Kata
Suara bel apartemen El terdengar menggema. El yang saat itu tengah tidur siangnya pun terbangun.   “Iya, sebentar,” jawab El, setengah sadar.   Dengan kesadarannya yang belum sepenuhnya melekat, El melangkah menuju pintu apartemennya, membuka pintu tersebut untuk menyambut tamunya.   Dan saat pintu itu terbuka, El kaget ketika ia melihat sosok iparnya tampak berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah sembab seperti baru saja menangis.   “Tania?” lirih El, detik itu juga kesadarannya langsung bangkit.   “Kak El.” Air mata Tania kembali terurai, membuat El merasa sesak melihatnya.   “Ayo masuk dulu, enggak enak dilihat sama orang lain kalau kamu nangis di luar,” ujar El, mengajak Tania untuk masuk ke dalam apartemennya.   Tania pun masuk ke dalam apartemen, diikuti oleh El yang menutup pintu apartemennya kembali.   Setelah masuk, El mempersilakan Tania untuk duduk di sofa, kemudian dirinya pun turut duduk di sebarang adik iparnya itu.   “Kamu kenapa, Tania?” tanya El.   Tania menyeka air matanya sejenak, mencoba mengatur napasnya yang terasa memburu tak beraturan. Lalu menatap kakak iparnya itu lekat.   “Mas Bastian ...,” lirih Tania, kembali menyeka air matanya yang seolah tak ingin berhenti mengalir.   “Bastian kenapa?” El kembali bertanya walaupun dia sudah menebak kalau Tania mungkin saja telah mengetahui perihal perselingkuhan adiknya.   “Mas Bastian, dia ... dia selingkuh,” ungkap Tania di sela-sela isakannya yang masih samar-samar terdengar. “Aku udah nyoba tahan ini dari kemarin, tapi aku enggak sanggup lagi pendam rasa sakit ini, aku enggak bisa bertahan lagi, Kak,” urainya.   El menghela napasnya pelan, ia kemudian tampak bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju salah satu nakas dan membuka laci dari nakas tersebut untuk mengambil sesuatu.   Setelah mengambil sebuah amplop berwarna cokelat, El terlihat berjalan kembali menuju sofa, lalu ia duduk di tempatnya semula.   “Aku sebenernya udah tahu perselingkuhan Bastian dari beberapa hari yang lalu, tapi karena aku takut memprovokasi rumah tangga kalian, jadi aku simpen ini sampai kamu tahu sendiri tentang perbuatan suami kamu itu,” cakap El, kemudian menyerahkan amplop berisi foto perselingkuhan Bastian yang masih disimpannya.   Tania yang seolah tahu isi dari amplop itu pun langsung membukanya dan melihat satu demi satu bukti perselingkuhan Bastian yang kini baru ia tahu kalau ternyata suaminya itu tidak hanya selingkuh dengan satu wanita saja.   “Aku pikir dia hanya tergoda dengan mantan kekasihnya, tapi ternyata dia memang sudah tidak waras,” ucap Tania, sudah hilang rasa hormatnya pada sang suami.   El yang mendengarnya hanya diam. Ia tidak memungkiri kalau Tania pasti sudah sangat kesal hingga berkata seperti itu pada Bastian.   “Jadi, apa yang akan kamu lakukan?” tanya El, menatap Tania lekat.   Tania mengembuskan napasnya berat, lalu meletakkan amplop itu ke atas meja, kemudian gantian dia yang memberikan beberapa lembar foto yang diambilnya dari dalam tas, juga sebuah flashdisk berisi video tabu Bastian dengan Intan.   “Aku mau gugat cerai dia dengan semua bukti-bukti ini,” tukas Tania. “Aku dateng ke sini buat minta dukungan dari Kak El, karena aku takut kalau aku enggak akan sanggup hadepin Mas Bastian sendirian,” terangnya.   El tampak diam, dia terlihat memperhatikan foto-foto yang Tania sodorkan padanya.   “Kamu dapet foto-foto ini dari mana?” tanya El dengan keningnya yang tampak berkerut heran, dia merasa aneh karena dirinya tahu kalau Tania bukanlah sosok wanita yang akan curiga dengan suaminya tanpa alasan, apalagi sampai memiliki foto-foto dengan hasil potretan yang sangat jelas seperti yang ia lihat ini. Bahkan, Deyana yang ahli dalam memata-matai orang pun masih kalah jauh dalam mengumpulkan bukti.   “Kemarin ada yang kirim paket atas nama Mas Bastian, dan karena aku penasaran saat melihat nama pengirimnya adalah Intan, jadi aku buka paket itu,” terang Tania.   El mengernyit, ia semakin merasa ada yang aneh.   “Sekarang Bastian ada di mana? Dia udah tahu tentang paket yang dikirim itu?” tanya El lagi, yang tidak tahu kalau Bastian sedang berada di Bali sejak dua hari yang lalu.   “Mas Bastian di Bali sejak dua hari lalu, dan sampai sekarang belum pulang,” papar Tania.   “Bastian ada di Bali?” El tampak bingung, kemudian ia memperhatikan dengan seksama foto-foto yang Tania tunjukkan padanya. “Bukankah foto-foto itu diambil di Bali juga?” ujar El sembari mengambil salah satu foto yang jelas sekali menunjukkan bahwa foto tersebut dipotret dari salah satu tempat di Bali.   “Dari background yang ada di dalam foto itu udah jelas sekali nunjukin kalau foto itu lokasinya di Bali,” lirih Tania. “Dan itu artinya Mas Bastian udah bohongi aku, dia bilang ada proyek di sana, tapi ternyata dia lagi liburan di sana sama selingkuhannya, kemarin aku juga udah konfirmasi ke kantornya, dan pihak kantornya bilang kalau Mas Bastian enggak pernah ada proyek di Bali tapi dia justru ambil izin cuti,” urai Tania dengan rasa sesak yang melingkupi hatinya.   “Karena itu aku yakin buat ajuin gugatan cerai ke dia,” lanjut Tania, raut wajahnya tampak begitu tegas.   ***   Terlihat Bastian berulang kali mencoba menghubungi nomor Tania, tetapi sudah puluhan kali ia mencoba, istrinya itu sama sekali tidak menjawab satu pun panggilan teleponnya.   Bastian yang dilanda cemas pun seketika merasa khawatir, ia takut kalau Tania mungkin saja mengetahui kebohongannya.   Kemudian, terpikirkan satu tempat di dalam benak Bastian. Rumah orang tua Tania, Bastian berniat pergi ke sana, tetapi tanpa sengaja ia bertemu dengan Deyana yang saat itu tiba-tiba datang ke rumahnya.   “Kak Bas,” seru Deyana, kemudian mendekati kakaknya itu dan tanpa ragu langsung menampar wajah sang kakak.   Bastian ingin marah tapi saat melihat adiknya tampak menangis, emosi Bastian pun seketika itu langsung padam.   “Ada apa, Dey?” tanya Bastian, suaranya terdengar melembut.   Deyana menatap kakaknya itu nyalang, sorot kebencian tampak tampil dengan sangat jelas dari binaran mata cokelatnya itu.   “Aku udah coba sembunyiin ini dari semua orang biar masalah ini enggak sampai diketahui sama Bunda, tapi kenapa Kak Bastian masih belum berhenti juga buat selingkuh?” kesal Deyana.   Bastian tertegun, walaupun dia tidak terlalu paham dengan maksud perkataan Deyana barusan, tapi ia seolah mengerti dengan arah perkataan adiknya itu, yang sudah pasti menjurus pada perselingkuhannya.   “Kalau sampai Bunda kenapa-kenapa, aku enggak akan pernah anggep Kak Bas sebagai kakak aku lagi,” tegas Deyana, menatap nyalang pada sosok Bastian tanpa ada rasa takut sedikit pun.   “Maksud kamu apa, Dey?” Bingung Bastian. “Serius aku enggak paham sama sikap kamu ini,” ujarnya.   “Selama ini aku udah tahu kelakuan Kak Bas yang selingkuh sama banyak perempuan di luar sana,” ungkap Deyana.   Bastian menghela napasnya kasar. “Jadi kamu yang kirim video itu ke Tania?” tuding Bastian kemudian. “Aku tahu kamu enggak pernah suka sama rumah tangga aku dan Tania, tapi enggak gitu caranya, Dey,” omelnya.   “Aku enggak pernah aduin perbuatan Kak Bas ke siapa pun,” tukas Deyana, membantah tudingan kakak keduanya itu. “Kecuali Kak El,” lanjutnya sembari mengalihkan pandangannya sesaat.   “Jadi bener Kak El yang kasih tahu Tania?” tanya Bastian, kembali menuding salah satu saudaranya lagi.   Deyana kembali menatap kakak keduanya itu lekat. “Kak El enggak pernah kasih tahu siapa pun, karena Kak El udah janji sama aku enggak akan urusin rumah tangga Kakak dengan Mbak Tania, dan aku pikir setelah Kak El tegur Kakak, Kakak bakal sadar, tapi ternyata Kak Bas sama sekali enggak mau berubah. Kak Bas bahkan pergi ke Bali buat selingkuh. Demi Tuhan, aku ngerasa jijik punya kakak seperti Kak Bas,” tandas Deyana, tanpa menutupi lagi kekesalannya.   “Dari mana kamu tahu aku ....”   “Mbak Tania mau ajuin gugatan cerai, yang artinya sebentar lagi Bunda bakal tahu perbuatan Kak Bas selama ini. dan kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi sama Bunda, aku enggak akan pernah maafin Kak Bas sampai kapan pun,” ujar Deyana.   Bastian terkejut dengan penuturan Deyana barusan. “Apa kamu bilang? Tania mau ajuin apa?” tanyanya.   “Kenapa? Sekarang Kak Bas baru sadar bagaimana rasanya kehilangan sosok perempuan seperti Mbak Tania?” sindir Deyana. “Aku emang dulu enggak suka sama Mbak Tania, karena aku kesel lihat perhatian Kak Bas berpindah ke dia. Tapi sekarang aku sadar, kakakku sendiri yang harusnya aku benci, bukan Mbak Tania,” timpalnya.   “Dey, aku minta maaf, aku enggak bermaksud buat semua orang kecewa,” kata Bastian. “Sekarang kasih tahu aku, di mana Tania,” pintanya kemudian. Deyana tersenyum miris. “Kalau saja mata maaf bisa buat semua masalah ini selesai, aku bakal maafin Kak Bastian detik ini juga. Tapi sayangnya, kata maaf yang Kak Bastian ucapkan itu cuma sekedar omong kosong aja,” tukasnya. Kemudian, Deyana pun melenggang pergi. Tapi, Bastian yang melihat adiknya hendak pergi pun langsung berusaha mengejar, ia menghalangi langkah Deyana, mencegah sang adik yang ingin pergi begitu saja. Bastian tidak akan membiarkan Deyana pergi sebelum adiknya itu memberitahunya di mana Tania.   “Tania ada di mana?” tanya Bastian, sorot matanya tampak menyiratkan rasa takut.   “Kak Bas enggak perlu tahu Mbak Tania ada di mana,” ujar Deyana, kembali melangkah pergi melewati Bastian yang sempat menghalangi jalannya.   “Dey, tunggu,” cegah Bastian lagi. “Kamu tahu aku udah pulang dari Bali berarti kamu baru aja ketemu sama Tania. Pasti dia yang kasih tahu kamu kalau aku udah pulang, jadi kamu tahu ‘kan dia ada di mana? Plis kasih tahu aku Tania sekarang ada di mana?” pintanya, memohon. Namun, Deyana tampak sama sekali tidak tergoda untuk memberitahu kakaknya itu di mana Tania saat ini berada. “Aku mohon, kasih tahu aku di mana Tania,” pinta Bastian sekali lagi dengan raut melasnya. “Aku mau coba bujuk dia, dan aku janji bakal berubah,” cakapnya. Helaan napas berat Deyana terdengar, Deyana yang sebenarnya juga tidak mau melihat Bastian bercerai seperti El dulu, akhirnya Deyana pun tampak luluh. “Kak Bas beneran bakal berubah?” tanya Deyana, dengan sorot matanya yang menatap penuh selidik. Bastian mengangguk mantap, seolah ia yakin kalau dirinya bakal berubah sepenuhnya. Sesaat Deyana terdiam, mencoba menimang kembali keputusannya yang ingin memberitahukan keberadaan Tania saat ini. “Beberapa jam yang lalu Mbak Tania pergi ke pengadilan agama sama Kak El buat ajuin gugatan cerai dengan bukti-bukti yang udah dia dapet,” terang Deyana. “Apa?!” Bastian tampak syok mengetahui istrinya sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama tanpa berdiskusi dengannya terlebih dulu. “Kenapa kamu enggak bilang dari tadi, Dey,” kesal Bastian. Kemudian, Bastian langsung mengambil kunci mobilnya yang ada di dalam rumah, ia berniat untuk segera pergi ke pengadilan agama setempat. Walaupun Bastian merasa bahwa dirinya sudah sangat terlambat, tapi sebisa mungkin dia ingin berusaha mencegah Tania mendaftarkan gugatan cerainya. Melihat kakaknya yang tampak kalang kabut, Deyana menghela napasnya panjang. “Kalau memang Kak Bas sangat mencintai Mbak Tania, kenapa Kak Bas selingkuh?” gumam Deyana, yang benar-benar heran dengan isi pikiran kakak keduanya itu. “Sungguh miris nasib kedua kakakku, yang satu diselingkuhin dan akhirnya bercerai, dan yang satu lagi selingkuhin istrinya dan sekarang ... hampir bercerai,” lirihnya bersama helaan napasnya yang terdengar berat. *** Tania diam merenung, menatap sebuah kertas putih yang berada dalam genggaman tangannya. “Kamu pasti kuat, Tania,” ucap El, membuat Tania menoleh padanya. El yang saat ini tengah mengendarai mobilnya pun tampak menoleh sekilas, ia mengurai senyumnya, mencoba memberikan dorongan semangat untuk wanita yang duduk di sampingnya itu. “Aku enggak pernah mengira kalau ternyata ajuin gugatan cerai itu bakal seberat ini,” lirih Tania. “Aku pikir hatiku bakal baik-baik aja, ternyata enggak semudah yang aku bayangkan,” imbuhnya dengan helaan napas berat. El yang sudah pernah merasakan perasaan seperti itu pun hanya bisa mengurai senyumnya tipis. Kemudian, El terlihat menggenggam tangan Tania hangat, memberikan dukungan pada wanita itu agar tetap kuat dan tegar. “Kamu pasti bisa lewatin semua ini, Tania,” ucap El, menatap Tania dengan sorot teduhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN