Deyana terlihat berdiri dengan ragu di depan pintu rumah Bastian. Tangannya beberapa kali tampak menggantung di udara, ia ragu antara ingin mengetuk pintu tersebut atau tidak.
Sampai kemudian, sebuah tangan terasa menyentuh bahu Deyana, membuat si empunya bahu tersentak kaget, Deyana pun langsung menoleh.
“Mbak Tania,” lirihnya, mengembuskan napas lega.
“Maaf, Mbak enggak bermaksud buat kamu kaget,” ucap Tania.
Deyana menghela napasnya pelan, lalu mengangguk singkat. Karena tak ingin terlalu mempermasalahkan hal sepele seperti itu, ia pun mencoba meredam kekesalannya.
“Kamu mau ketemu sama Mas Bastian?” tanya Tania kemudian.
Deyana menganggukkan kepalanya. “Kak Bastian ada di rumah, ‘kan? Soalnya ini hari minggu, enggak mungkin dia ke kantor,” cakap Deyana.
Tania mengurai senyumnya. “Mas Bastian memang enggak ke kantor, tapi dia lagi pergi ke Bali,” terang Tania.
Deyana mengernyit. “Ke Bali?”
“Iya, dia lagi ada proyek di sana, jadi dari kemarin dan selama beberapa hari ke depan dia enggak ada di rumah,” jelas Tania. “Kamu kalau butuh sesuatu bilang aja ke Mbak,” lanjutnya.
Deyan mengembuskan napasnya berat. “Enggak usah sok baik,” tukas Deyana, sebenarnya dia tidak ingin bersikap ketus pada kakak ipar itu lagi. Tapi karena sikap ketusnya itu sudah menjadi sebuah kebiasaan, Deyana pun tak dapat mengontrolnya.
“Aku mau pulang, assalamu’alaikum,” pamit Deyana kemudian.
“Wa’alaikumussalam, hati-hati di jalan, salam buat bunda sama ayah, ya,” ujar Tania, yang terlihat sama sekali tidak marah walaupun Deyana sudah bersikap kurang ajar padanya.
***
Senyum sumringah yang terukir di wajah Intan menggambarkan bahwa wanita itu terlihat sangat bahagia.
Bahkan orang-orang yang ada di sekitarnya pasti akan mengira jikalau dirinya dan Bastian adalah sepasang pengantin baru.
“Bas, aku seneng banget kita bisa ada di sini menikmati liburan berdua,” ujar Intan. “Eh, maksudnya bertiga. Aku, kamu dan anak kita,” timpalnya.
Bastian mengurai senyumnya tipis, ia sebenarnya tidak terlalu senang dengan liburan ini. Pikirannya bahkan sejak kemarin terus terngiang-ngiang pada sosok istrinya, Tania.
“Bas,” tegur Intan, membuat Bastian tersentak dari lamunannya.
“Iya, ada apa?” tanya Bastian, sepertinya sejak tadi dia memang tidak terlalu mendengarkan perkataan Intan, pikiran Bastian seolah sudah terisi penuh oleh Tania.
“Tuh kan enggak dengerin aku ngomong apa. Kamu kenapa sih dari kemarin kok ngelamun terus?” keluh Intan.
“Maaf,” lirih Bastian.
Intan mendengus kesal, lalu ia mengikat tali outerwear-nya hingga membuat tubuhnya yang hanya mengenakan bikini itu tertutup rapat.
“Kamu ngeselin,” rajuknya.
Bastian menghela napasnya pelan, ia lantas mendekati Intan untuk merayunya agak wanita itu tidak marah lagi. Walau sebenarnya Bastian tidak begitu paham tentang bagaimana cara merayu wanita yang sedang kesal padanya, karena selama ini Tania tidak pernah sekalipun marah sekalipun Bastian mengabaikannya.
“Aku minta maaf,” ucap Bastian.
“Aku tahu kamu lagi mikirin istri kamu, Bas,” ujar Intan, mengalihkan pandangannya dari Bastian. Ia seolah enggan menatap pria di sampingnya itu.
Bastian terdiam untuk beberapa saat lamanya, dia sendiri tidak dapat membohongi fakta bahwa dirinya memang sejak kemarin terus memikirkan Tania yang dengan tega telah dia tipu dan ia tinggal di rumah seorang diri.
“Maaf,” lirih Bastian, tak mau menyangkal kalau apa yang Intan katakan tadi adalah sebuah kebenaran.
Intan yang mendengar pernyataan maaf dari Bastian tampak mengembuskan napasnya berat dan tersenyum miris.
“Aku heran sama kamu,” ucap Intan. “Kamu mau turutin kemauan aku dan kamu juga seolah enggak masalah sama perselingkuhan kita, tapi pas kita lagi berduaan kayak gini, kamu malah sibuk pikirin istri sah kamu. Kalau emang kamu cinta sama dia, kamu enggak akan selingkuh dari dia, apalagi sampai bohongi dia demi bisa liburan sama aku,” tukasnya.
Bastian merasa tertampar, dia sendiri juga bingung, di saat berada di sisi Tania, Bastian merasa sangat hambar dan seolah tidak puas dengan sosok istrinya yang padahal begitu sempurna di mata laki-laki lain.
Dan, ketika Bastian berada di sisi selingkuhannya, ada masa di mana ia terkadang merasa bersalah hingga membuatnya selalu terpikirkan oleh sosok istrinya.
Apakah Bastian seperti ini karena Tania yang tidak bisa memberikannya keturunan?
Bastian mengembuskan napasnya berat, lalu tiba-tiba ia melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi pada Intan.
“Kamu mau ke mana, Bas?” tanya Intan.
“Pulang,” jawab Bastian, tanpa menoleh.
“Pulang? Pulang ke mana?” Intan kembali bertanya.
“Jakarta,” ucap Bastian, sejenak ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Intan yang menatapnya. “Berkat perkataan kamu, aku sadar kalau aku enggak seharusnya bohongi istri aku apalagi tinggalin dia seorang diri,” ujarnya.
Setelah berkata seperti itu, Bastian langsung melangkah pergi tanpa memedulikan panggilan ataupun teriakan dari Intan yang tampak berusaha menahannya untuk tidak pergi.
Intan yang melihat Bastian tampak goyah untuk melanjutkan perselingkuhan mereka pun kini ia merasa sangat murka.
***
Tok. Tok. Tok
Suara ketukan pintu membuat Tania yang tengah berada di ruang tengah pun lekas mendekati pintu utama rumahnya.
“Iya, tunggu bentar,” seru Tania dari dalam rumah.
Sesaat setelah Tania berada di depan pintu rumah, ia langsung membuka pintu tersebut, dan terlihatlah seorang laki-laki yang tampak berpakaian seperti kurir.
“Ada apa ya, Mas?” Tania bertanya pada sosok pria itu.
“Apa benar ini rumahnya Bastian Rafardhan, Mbak?” tanya pria yang masih mengenakan helmet.
“I-iya benar, ini rumahnya Bastian Rafardhan,” jawab Tania, sedikit ragu walaupun dia sudah tahu kalau yang ada di depannya saat ini adalah seorang kurir pengantar paket.
“Orangnya ada, Mbak?” Pria itu kembali bertanya.
“Suami saya lagi keluar kota, Mas,” ujar Tania.
“Mbak, istrinya, ya?”
“Iya, saya istrinya,” ucapnya.
“Oh, kalau gitu, ini ada paket atas nama Bastian Rafardhan, Mbak. Saya kasih ke Mbak ya. Dan ini tanda tangan dulu di sini,” kata si pria berjaket merah itu.
Tania mengangguk, lalu ia menerima paket tersebut dan menandatangani kertas sebagai tanda bahwa paket tersebut telah diterima.
Selesai Tania menandatanganinya, kurir itu berpamitan pergi dari rumahnya. Lalu, Tania pun masuk dan menutup pintu rumah.
Saat di dalam, Tania yang sedikit penasaran dengan paket tersebut tampak membaca informasi pengirim paket itu.
Dan, alangkah terkejutnya Tania saat ia membaca bahwa orang yang mengirimkan paket tersebut bernama Intan.
Seketika Tania teringat dengan sosok wanita di dalam video tabu yang saat itu Bastian sebut sebagai Intan.
Tania yang dilanda rasa curiga sekaligus penasaran pun akhirnya tanpa ragu membuka paket tersebut, yang ternyata ... isinya berupa lembaran foto berisi foto-foto liburan Bastian dan Intan di Bali.
Tania tercengang melihatnya, hatinya yang belum lama kemarin terluka pun kembali terasa perih.
Bastian telah menipunya. Suaminya itu sudah membohonginya. Dan bodohnya dia, kenapa harus percaya begitu saja?
Detik itu juga, Tania menyesal, ia menyesal karena telah memberikan kesempatan kedua bagi suaminya. Ia juga menyesal karena terlalu naif dan percaya pada suaminya itu.
Tangan Tania tampak terkepal kuat, meremas foto yang berada dalam genggaman tangannya. Apakah ini saatnya ia untuk membalas semua perbuatan suaminya?