El tersenyum usai menyelesaikan masakannya. Setelah itu ia melihat arloji yang melekat di tangannya. Jam telah menunjukkan pukul empat sore, El ingat kalau dia punya janji dengan Deyana yang meminta dijemput olehnya di tempat les bahasa Inggris pukul empat lewat lima belas menit, sebentar lagi.
Tak mau terlambat menjemput sang adik, El pun dengan segera melepaskan apronnya, lalu ia melihat sekitar, berniat menyuruh orang lain untuk memberikan pesanan yang sudah dia masak itu pada pengunjung restoran.
“Maya,” panggil El pada sosok wanita yang merupakan salah satu pegawai seniornya.
Maya yang saat itu hendak keluar untuk membuang sampah pun langsung menoleh.
“Iya, Pak El?” tanya Maya, sopan.
“Tolong kasih pesanan ini ke meja nomor delapan, ya. Saya ada urusan di luar jadi harus pergi sekarang juga,” ujar El.
“Baik, Pak El.” Maya menanggapi. “Tapi saya mau buang sampah ini dulu, Pak,” katanya.
“Sini sampahnya biar saya aja yang buang, sekalian saya mau keluar juga,” cakap El.
Maya mengangguk, lalu menyerahkan plastik hitam berisi sampah dapur itu pada bosnya.
Setelah menerima plastik hitam berisi sampah, El langsung membuka pintu yang ada di belakang restorannya, dia keluar melalui pintu itu dan berjalan menuju tempat sampah yang berada di samping restoran.
Selesai membuang sampah tersebut, El mendekati mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
“El.” Sebuah suara terdengar, membuat El yang mengenalinya langsung berhenti melangkah, dia bahkan tampak terdiam membeku.
Suara langkah kaki dari sepatu hak tinggi di belakangnya itu membuat hati El merasa ngilu, terlebih lagi dia tahu betul siapa orang yang kini tengah melangkah mendekatinya.
“Ternyata beneran kamu,” ujar wanita itu setelah sampai di hadapan El. “Tapi, kamu kelihatannya emang udah banyak berubah, ya. Aku bahkan hampir enggak bisa kenalin kamu. Dulu kamu agak gendutan, sekarang tubuh kamu ideal banget,” komentarnya, menatap tubuh El dari atas hingga bawah.
El yang ditatap hanya diam saja, dia sama sekali belum memberikan respons apa pun, pria itu hanya diam dengan ekspresi datarnya.
“Kamu apa kabar? Rasanya kita udah lama banget enggak ketemu, kalau aku enggak salah ingat, terakhir kali kita ketemu itu sekitar tujuh tahun yang lalu ya, di hari perceraian kita,” ujar si wanita sembari mengurai senyum manisnya.
“Oh, ya. Kenalin, ini anak aku,” lanjut wanita itu, yang sebenarnya adalah mantan istri El, Salsha.
El lantas menatap sosok kecil yang tengah berdiri di samping kaki mantan istrinya itu. Saat menatap anak laki-laki itu, El seketika teringat dengan perbuatan mantan istrinya di masa lalu. Rasa sakit yang El pikir sudah terkubur pun ternyata masih singgah sangat pekat.
“Dia mirip banget sama kamu,” ujar Salsha, membuat El mengernyit dan menatap mantan istrinya itu dengan raut kesal.
Apanya yang mirip?! Dia bukan anakku, tapi anak dari hasil perselingkuhanmu dengan pria lain di saat dulu kamu masih menjadi istriku. Begitulah sekiranya isi kepala El mengamuk.
“Senang bertemu denganmu, Salsha. Maaf, aku enggak ada waktu untuk ngobrol sama kamu, aku ada urusan, permisi,” pamit El, yang kemudian melangkah melewati Salsha tanpa berbicara apa-apa lagi.
Salsha merasa kecewa dengan sikap mantan suaminya itu, yang terkesan dingin dan seolah enggan bertemu dengannya.
“Aku udah cerai sama Leo,” seru Salsha.
Perkataan Salsha barusan tiba-tiba membuat El kembali menghentikan langkahnya dan terlihat berdiam diri di tempat.
“Aku udah cerai sama dia lima tahun yang lalu,” jelas Salsha.
El terdengar mengembuskan napasnya panjang, lalu dia menoleh pada Salsha, menatap mantan istrinya itu dengan senyum miringnya.
“Lalu apa urusanmu memberitahuku? Aku tidak pernah tertarik dengan kehidupanmu, Salsha. Aku juga tidak penasaran dengan kehidupan rumah tanggamu dengan pria itu, baik di masa lalu ataupun di masa sekarang,” tukas El. “Aku harap kita enggak akan pernah ketemu lagi,” tandasnya.
Kemudian, El kembali melangkah, tetapi langkahnya terhenti saat ia melihat Deyana yang berdiri tak jauh dari dekat restoran. El lantas melihat arlojinya dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat lima puluh lima menit. El mengembuskan napasnya berat, Deyana pasti akan marah padanya, karena dia benar-benar sudah terlambat menjemput gadis itu.
“Jadi wanita ini yang buat Kak El telat jemput aku?” ujar Deyana, melangkah mendekati kakaknya, siap menjadi tameng yang akan melindungi hati kakaknya itu.
“Dey,” lirih El, ia tahu betul dengan tabiat Deyana, gadis itu akan melakukan apa pun demi melindungi orang-orang terdekatnya, bahkan bertengkar dan berakhir di kantor polisi bukanlah hal yang menakutkan bagi Deyana.
“Wah, hasil dari perselingkuhanmu ternyata sudah sebesar ini, ya. Aku salut padamu mantan kakak iparku,” sindir Deyana.
“Deyana, sudah cukup, ayo kita pulang,” ajak El, tak mau membuat keributan.
“Kalau saja tidak ada Kak El di sini, aku pasti sudah mencakar wajah sok cantikmu itu,” ancam Deyana, menatap tajam ke arah Salsha.
Setelah itu Deyana melangkah menuju mobil kakaknya, ia berdiri di dekat pintu mobil tersebut dengan tatapannya yang masih tampak menyorot tajam Salsha.
El menghela napas pelan, kemudian ia pergi menuju mobilnya tanpa berkata apa pun pada Salsha yang ada di belakangnya.
***
“Kamu enggak mau pamit sama orang tua kamu dulu, Mas?” tanya Tania, saat ia mengantarkan suaminya sampai di depan rumah.
“Kenapa harus pamit, aku kan cuma pergi beberapa hari doang,” cakap Bastian.
Tania menghela napasnya pelan. “Iya, aku tahu kamu cuma pergi beberapa hari aja. Tapi kan kamu juga masih butuh ridho mereka, Mas. Apalagi Bunda, surga kamu masih di bawah telapak kakinya,” nasihat sang istri.
“Apaan sih, Tan. Lebay banget. Aku itu cuma mau pergi bentar, ngapain pakai acara pamitan segala,” tukas Bastian, sungguh suami yang tak tahu dinasihati.
Tania yang tak ingin berdebat pun hanya diam saja, dia mengelah.
“Ya udah aku berangkat, kamu hati-hati di rumah, dan inget pesan aku semalam,” cakap Bastian.
Tania mengangguk singkat, lalu ia mengamit tangan suaminya itu dan menciumnya dengan santun.
Setelah itu, Bastian berjalan menuju mobilnya, ia memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil, lalu melangkah menuju pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil tersebut.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Bastian pun melaju keluar dari pekarangan rumah, menyisakan Tania yang tampak masih berdiam diri di tempatnya.
“Kok hati aku rasanya enggak ikhlas ya lihat Mas Bastian pergi?” gumam Tania sembari mengusap dadanya yang terasa gelisah.
Sebenarnya sejak semalam Tania sedikit ragu dengan kepergian Bastian, dia gelisah dan cemas tanpa alasan. Bahkan, dirinya sampai bermimpi tentang Bastian dan wanita yang ia ketahui bernama Intan.
Tania bahkan masih ingat dengan sangat jelas mimpinya itu. Apalagi mimpinya semalam seolah benar-benar terjadi dan sangat nyata.
“Istighfar, Tania. Itu cuma mimpi, dan enggak seharusnya kamu suudzon sama suami kamu yang sedang pergi jauh untuk cari duit buat nafkahin kamu,” ujar Tania, menyadarkan dirinya dari pikiran buruknya terhadap Bastian, yang padahal pikiran buruknya itu adalah sebuah kenyataan dan fakta. Fakta bahwa Bastian pergi meninggalkannya ke Bali untuk liburan dengan Intan—selingkuhan Bastian.