Kebohongan Lain

1467 Kata
Deyana membuka pintu kamarnya lebar, lalu masuk ke dalam kamar tersebut dan menutupnya rapat.   “Kak El bukannya udah janji sama aku kalau Kakak enggak akan kasih tahu Bunda sama Ayah?’ tegur Deyana, menatap kakaknya itu dengan raut sedikit kesal.   El menghela napasnya berat, kepalanya terasa berdenyut kuat memikirkan semua yang mengganggu batinnya.   “Maaf, tadi aku kebawa emosi,” ujar El.   “Lain kali tolong jaga emosi Kak El. Kakak harus inget kalau Bunda punya penyakit jantung, makanya aku enggak mau Bunda tahu masalah ini,” cakap Deyana.   Kemudian, gadis itu duduk di kursi belajarnya, mengubah arah kursi itu menghadap pada El yang saat ini tengah duduk di tepi ranjang.   “Kak El masih punya perasaan sama Mbak Tania, ya?” tanya Deyana kemudian.   El awalnya diam seperti tak ingin menjawab, tapi kemudian ia tampak mengembuskan napasnya berat, lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur milik Deyana. El lalu berkata, “Menurut kamu bagaimana?”   “Aku heran,” ucap Deyana. “Sebenernya apa sih bagusnya Mbak Tania? Kenapa kalian berdua suka sama dia?” komentarnya.   El tersenyum mendengarnya. “Dia itu sosok wanita yang sederhana, lemah lembut, dan terlalu polos dengan kehidupan dunia ini. Makanya setiap kali dia ada masalah, aku selalu kepikiran terus, juga berandai-andai, jika saja aku suaminya, aku ingin melindunginya dan melihatnya tersenyum bahagia bagaimanapun caranya,” ujar El.   “Secinta itu Kak El sama Mbak Tania?” Deyana kembali bertanya. Heran dengan hati kedua kakaknya yang jatuh cinta pada satu wanita yang sama.   “Dia punya daya tariknya sendiri, Dey,” terang El.   “Aneh,” gumam Deyana, lalu memutar tubuhnya, memunggungi sang kakak yang kini tersenyum sendiri.   ***   Dering suara panggilan masuk dari ponsel Bastian membuat Tania yang berada di depan meja rias tampak menoleh ke arah nakas—tempat ponsel itu tergeletak di sana.   Awalnya Tania ingin mengabaikan panggilan masuk dari handphone suaminya itu. Tapi, karena nada dering panggilan masuk itu terus-menerus terdengar, Tania mulai merasa terganggu, apalagi dia butuh ketenangan untuk bisa berpikir jernih.   Setelah beberapa saat mencoba mengabaikan panggilan masuk tersebut, pada akhirnya Tania bangkit dari duduknya, dengan berat hati dia mendekati handphone milik suaminya itu.   Tapi, saat Tania baru saja ingin menyentuh handphone tersebut—dan berniat mengangkat panggilan masuk dari seseorang yang Bastian beri nama ‘lady’, tiba-tiba saja Bastian yang baru keluar dari dalam kamar mandi terlihat berlari cepat dan merebut ponselnya yang hampir Tania pegang.   Tania tersentak kaget dengan tindakan suaminya itu. “Mas, kamu kenapa?” tanya Tania, merasa heran dengan tingkah laku aneh suaminya barusan. “Kamu kok kelihatan panik ‘gitu? Emangnya siapa yang telepon kamu, Mas?” tanyanya lagi.   “I-ini ... ini ... bos aku yang telepon,” ujar Bastian, dari sorot matanya yang tampak menghindari kontak mata dengan Tania, sudah jelas sekali kalau pria itu tengah berbohong pada istrinya. “Bos?” Tania mengernyit curiga. Ia seolah merasa tidak percaya. “Iya, dia Bu Andreana, wakil direktur utama di perusahaan aku,” ujar Bastian. “Aku mau jawab telepon dia dulu,” imbuhnya, yang kemudian langsung melangkah pergi keluar dari dalam kamar.   Tania menghela napasnya pelan, ia menatap kepergian suaminya itu dengan raut heran.   Entah kenapa Tania merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya, sejujurnya dia benar-benar merasa ada yang aneh, batinnya seolah diselimuti keraguan. Apalagi saat dirinya mendengar penjelasan Bastian yang mengatakan kalau si penelepon itu adalah seorang wakil direktur. Padahal Tania ingat nama yang dia baca di layar kontak suaminya tadi adalah ‘lady’ yang jelas sekali berbeda dengan nama Bu Andreana yang sebelumnya pernah menghubungi Bastian dengan nama kontak ‘Wakil Direktur’.   Pikiran Tania pun semakin berkecamuk, bahkan kecurigaannya pada sang suami terasa semakin menggila. Terlebih lagi ketika Tania kembali teringat dengan perdebatan Bastian dan El di rumah mertuanya tadi. Tania ingat dengan sangat jelas bagaimana ekspresi wajah El yang seolah ingin mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi. Tania pun menjadi penasaran dibuatnya. Di sisi lain, Bastian terlihat berdiri di dekat jendela lantai satu rumahnya. Di sana dia menerima panggilan masuk dari seseorang yang dia beri nama lady. Namun, sebelum dia menjawab panggilan tersebut, Bastian sempat menatap ke arah tangga, memastikan kalau Tania tidak mengikutinya.   “Hai, Bas,” sapa seorang wanita dari seberang panggilan, Intan.   “Kamu beneran udah enggak waras, ya?! Kamu ngapain telepon aku malem-malem begini? Kamu tahu, barusan hampir aja Tania angkat telepon dari kamu, bener-bener gila kamu, ya,” kesal Bastian, mengocehi Intan dengan suaranya yang tertahan, karena tidak mau terdengar oleh Tania.   “Kamu kok marah-marah sih?” komentar Intan, terdengar tidak suka dengan respons Bastian di seberang panggilan. “Aku telepon kamu karena anak kamu,” tukasnya.   Bastian seketika itu terdiam, emosinya pun perlahan luruh. “Maksud kamu?” tanya Bastian, suaranya sedikit melunak.   “Aku tiba-tiba pengen sesuatu,” cakap Intan.   “Maksudnya kamu lagi ngidam?” Bastian kembali bertanya.   “Bisa dibilang begitu,” ujar Intan.   Bastian menghela napasnya pelan. “Oke, kamu bilang aja sama aku, kamu lagi pengen apa, mau makan apa? Nanti aku pesenin makanan lewat ojek online,” kata Bastian. Intan yang mendengarnya tentu saja merasa sangat tidak senang.   “Ih, siapa yang mau makan.” Intan bersuara dengan manja.   “Terus kamu maunya apa?” balas Bastian, masih menanggapi dengan sabar.   “Anak kamu pengen liburan ke Bali sama kamu,” ujar Intan tanpa basa-basi.   “Apa?!” Bastian terkejut dengan keinginan aneh selingkuhannya itu, ia langsung menutup mulutnya saat sadar kalau barusan suaranya terdengar tersembur keras. “Otak kamu di mana sih, Tan?” omel Bastian, nada suaranya kembali tertahan, takut Tania yang ada di lantai atas mendengarnya. “Kamu gila, ya. Aku enggak bisa turutin kemauan kamu itu,” tolaknya. “Kan ini kemauan anak kamu, Bas. Masa kamu enggak mau turutin kemauan dia sih? Nanti kalau dia udah lahir, emangnya kamu mau anak kamu ini cap kamu sebagai sosok ayah yang enggak baik buat dia?” ancam Intan. Bastian mengusap wajahnya kasar. Dia kembali dibuat pening dengan masalah yang padahal disebabkan oleh dirinya sendiri. “Oke, aku bakal coba bicara sama istri aku,” cakap Bastian, kemudian langsung menutup panggilan tersebut dan mengembuskan napasnya berat.   *** Tania terlihat tengah berdiam diri di depan meja riasnya. Wanita itu baru saja menyelesaikan rutinitas malamnya—menggunakan skincare rutin. Namun, kini ia tampak melamun di sana, menatap pantulan dirinya dari cermin yang ada di depannya dengan tatapan kosong.   “Tania,” panggil Bastian, suaminya itu terlihat baru saja masuk ke dalam kamar usai menerima panggilan telepon dari Intan. Tania yang tersadar dari lamunannya pun lekas menjawab panggilan dari suaminya itu.   “Iya, Mas?” Tania menanggapi seraya menoleh menatap suaminya yang terlihat sudah berada di belakangnya.   “Em ... besok aku harus pergi ke Bali,” cakap Bastian, dengan sorot matanya yang tampak ragu sekaligus cemas.   Tania mengernyit. “Kenapa tiba-tiba mau pergi ke Bali?” tanyanya.   “Ada proyek yang harus aku pantau secara langsung, kamu tahu ‘kan kalau aku baru aja naik jabatan, jadi aku harus kerja lebih ekstra lagi buat buktiin kalau aku pantas pegang jabatan aku saat ini,” urai Bastian, sungguh pandai mengumbar kebohongan.   Dan, Tania yang sama sekali tidak merasa curiga pun mengangguk begitu saja. Bukankah perempuan ini sangat bodoh? Bagaimana bisa dia dengan mudahnya ditipu berulang kali oleh suaminya? Tapi, jangan hina Tania sebagai perempuan bodoh, karena suaminya itu benar-benar sangat ahli dalam hal mengelabui orang lain, termasuk istrinya sendiri.   “Berapa hari kamu di sana?” tanya Tania kemudian.   “Sekitar ... empat harian sih kayaknya, satu hari berangkat, dua hari di sana dan satu harinya lagi pulang ke sini,” jawab Bastian. “Kamu tenang aja, aku enggak akan lama kok tinggalin kamu,” imbuhnya, berkata seperti itu karena selama ini dia tidak pernah pergi meninggalkan Tania keluar kota seorang diri.   “Oke, hati-hati di sana, jaga kesehatan dan makannya jangan sampai enggak teratur,” pesan Tania.   Bastian mengangguk, lalu mengusap puncak kepala istrinya itu lembut.   “Oh, ya.” Bastian tiba-tiba teringat sesuatu. “Selama empat hari itu, kamu dilarang keluar rumah tanpa izin dari aku, aku juga enggak mau kamu ketemu sama Kak El,” ujar Bastian, mengingatkan. “Kamu paham ‘kan maksud aku?” lanjutnya.   Helaan napas berat terdengar dari diri Tania, dia sebenarnya masih heran dengan kecemburuan suaminya itu pada El. Padahal tadi Tania sudah menjelaskan bahwa dirinya dan El sama sekali tidak ada hubungan apa-apa selain sebagai saudara ipar. Tania juga menjelaskan kalau El sama sekali tidak menggodanya, kakak iparnya itu justru sangat sopan dan begitu santun padanya.   Namun, sebanyak apa pun Tania menjelaskan, Bastian malah semakin cemburu padanya.   “Sayang, kamu dengerin aku enggak sih?” tukas Bastian saat mendapati istrinya hanya diam saja.   “Iya, aku denger, Mas,” jawab Tania.   “Aku harap kamu enggak langgar pesan suami kamu ini,” ujar Bastian, memperingatkan Tania dengan sangat tegas, membuat istrinya itu sampai enggan membantahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN