Perdebatan El dan Bastian

1158 Kata
Bastian baru saja tiba di rumah orang tuanya. Di area ruang tamu ia tidak mendapati seorang pun ada di sana. Kemudian, Bastian melangkah menuju dapur, di sana dia melihat ayah, ibu dan adik perempuannya tengah berbincang riang satu sama lain.   “Kak Bas.” Suara Deyana membuat semua orang yang ada di dapur itu menatap pada Bastian.   Bastian pun tersenyum menyapa kedua orang tuanya yang terlihat duduk sembari menikmati teh dan kopi serta kue kering yang tadi Tania bawa.   “Tania kok enggak ada? Bukannya dia dateng ke sini?” tanya Bastian.   “Mbak Tania tadi pergi keluar sama Kak El,” ujar Deyana.   Mendengar hal itu Bastian tampak melotot tajam. “Apa kamu bilang?” tanyanya.   “Mbak Tania sama Kak El pergi keluar,” ulang Deyana.   “Mereka pergi ke supermarket, Bas. Tadi Bunda mau minta ajarin Tania buat kue, tapi ternyata tepungnya habis,” sahut Bunda Tari.   Bastian menghela napasnya berat. “Mereka pergi ke supermarket mana?” tanya Bastian, berniat ingin menyusul.   Bunda Tari mengerutkan keningnya. “Emangnya kenapa, Bas? Kamu kok kayak enggak seneng denger Tania pergi sama El?” herannya.   Deyana yang tahu segalanya tampak diam dan tak ingin ikut campur lebih jauh lagi. “Aku—” “Mas Bastian.” Suara itu memecahkan keheningan. Bastian yang tahu siapa pemilik suara itu langsung menoleh, menatap Tania yang baru saja kembali bersama kakaknya. El tampak tersenyum ketika Bastian menatapnya, sebuah senyuman yang menggambarkan ancaman bagi Bastian. “Kamu dari mana?” tanya Bastian, padahal dia jelas-jelas sudah tahu dari mana dan dengan siapa istrinya itu pergi. “Dari supermarket, Mas. Beli bahan-bahan untuk buat kue,” jawab Tania, yang tak peka kalau suaminya itu tengah dilanda cemburu. Bastian mendengus kasar. “Lain kali kalau kamu mau pergi keluar sama laki-laki lain, izin dulu sama aku,” tukas Bastian. Perkataannya itu membuat semua orang mengernyit heran menatapnya. Kecuali El dan Deyana, dua kakak beradiknya itu sangat paham kenapa dia cemburu.   “Maksudnya apa, Mas? Kan aku tadi pergi sama Kak El. Kakak kamu sendiri, dia juga bukan orang asing,” ujar Tania, benar-benar heran.   “Dalam agama kita, saudara ipar itu seperti sebuah kematian, harus kamu waspadai,” tukas Bastian.   Tania terdiam, dia membenarkan perkataan Bastian barusan. Tapi tetap saja ia merasa aneh dengan sikap Bastian yang terlihat seperti cemburu jika dia berdekatan dengan El—yang padahal merupakan kakak kandung Bastian sendiri.   “Tania pergi keluar sama aku aja kamu ributin. Aneh kamu itu,” celetuk El. “Kenapa kamu enggak ributin diri kamu sendiri aja? Daripada kamu ngehakimi Tania yang pergi sama aku tanpa izin kamu, lebih baik kamu introspeksi diri kamu sendiri,” sahut El, merasa geram dengan tingkah laku adiknya yang seolah ingin menggurui Tania, padahal Bastian sudah melakukan sesuatu yang lebih parah, bahkan benar-benar di luar batasan. “Maksud Kak El apa?!” sergah Bastian, tergerus emosi. “Kak El jangan coba pengaruhi Tania, ya,” kesalnya. El tersenyum miring. “Kenapa? Kamu takut?” balas El.   Bunda Tari yang sadar kalau dua putranya itu sedang tidak akur pun langsung menengahi.   “Sudah, sudah. Kenapa malah berantem sih,” omelnya. “El, buruan bawa belanjaannya ke sini,” kata Bunda Tari kemudian.   El menatap Bastian sejenak, usai mengintimidasi adiknya itu, ia lantas menuruti perintah ibunya. El berjalan mendekati sang ibu yang duduk di salah satu kursi makan.   “Tania, kita pulang sekarang juga,” ajak Bastian tiba-tiba. El yang baru saja melangkah pergi dari hadapan Bastian pun seketika itu menoleh, menatap Bastian yang tampak sudah mencengkeram pergelangan tangan Tania, hendak mengajak wanita itu untuk pergi dari sana.   “Tapi, Mas. Aku ....”   “Pulang,” tegas Bastian.   “Kamu itu kenapa, Bas?” ujar sang ayah, yang padahal sejak tadi diam akhirnya buka suara setelah melihat suasana semakin keruh. “Kalian berdua berantem?” tanyanya sembari menatap Bastian dan Eldison bergantian.   “Enggak, aku enggak ngerasa berantem atau pun musuhan sama Bastian,” cakap El.   “Enggak ngerasa berantem? Tapi sikap lo ke gue itu kayak ngajakin orang berantem,” tukas Bastian, emosinya sudah meluap sulit terkendali. “Bastian, yang sopan sama kakak kamu,” tegur sang ibu. “Sopan? Untuk apa aku sopan sama orang yang mau rebut istri aku, Bunda?” ujar Bastian. Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. Kini semua pasang mata terpaku pada sosok El yang tampak membeku dalam keheningan. “El, apa bener yang dibilang Bastian barusan?” tanya Bunda Tari, raut wajahnya terlihat menampilkan kecemasan. El mengembuskan napasnya pelan, sejenak ia diam, seperti mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berbicara. “Kalau ini yang kamu inginkan, oke, Bas. Aku bakal turutin permainan kamu,” ujar El, lalu menatap Bastian lekat. Bastian yang mendapatkan tatapan dari kakaknya itu seketika dia paham dengan maksud El. Sekarang situasi pun berbalik, Bastianlah yang kini merasa terpojok. “Kak El.” Deyana tiba-tiba menyahut, ia menatap kakaknya itu dengan raut memohon. Memohon agar El tidak membeberkan tentang perselingkuhan Bastian dengan beberapa wanita di luar sana. Karena Deyana takut membuat hati wanita yang dicintainya—Bunda Tari—terluka. El menghela napasnya panjang, lalu ia memutuskan untuk melangkah pergi dari dapur. El pergi menuju kamar Deyana yang berada di bagian ruang tengah. Melihat kakaknya pergi ke kamarnya, Deyana langsung bergegas menyusul, dia tahu kalau kakak pertamanya itu sedang berusaha menahan emosi, dan Deyana sebagai adik ingin membantu El untuk meredam emosinya yang bergejolak. Tania yang melihat semua itu hanya bisa diam dengan pikirannya yang sudah berkecamuk. Banyak hal yang terlintas di dalam benak Tania, termasuk rasa curiganya terhadap Bastian yang entah kenapa rasanya kembali singgah di dalam hatinya. “Ayo pulang,” ajak Bastian, membuyarkan lamunan Tania yang tampak sedikit tersentak kaget. “Tapi, Mas. Aku masih mau bantu Bunda buat kue,” ujar Tania. Bastian menghela napasnya kasar, ia sepertinya sedang tidak ingin dibantah, begitulah yang Tania tahu ketika ia melihat ekspresi suaminya saat ini. “Bunda, kami harus pulang,” kata Bastian pada sang ibu. Bunda Tari mengangguk pelan, mempersilakan Bastian dan Tania untuk pulang ke rumah mereka. “Pulanglah,” ujarnya. “Hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa mobilnya,” pesan Bunda Tari. “Iya, aku tahu,” jawab Bastian, sangat singkat. Lalu setelah itu ia menarik paksa Tania yang bahkan belum sempat berpamitan pada mertuanya. Usai kepergian anak dan menantunya itu, Bunda Tari terlihat mengusap dadanya yang terasa berdenyut. Ia benar-benar pilu melihat dua putra kebanggaannya bertengkar seperti tadi. “Tenang, Bun. Mereka berdua pasti cuma berantem biasa. Nanti juga baikan lagi,” cakap sang suami. “Lagian ini bukan pertama kalinya El berantem sama Bastian. Jadi hal yang wajar kalau kakak beradik itu berantem karena beda argumen, apalagi mereka berdua sama-sama punya sifat keras,” imbuhnya, mencoba menenangkan istrinya yang sebenarnya menderita sakit jantung. “Tapi sebagai seorang ibu, aku merasa ada yang enggak beres, Yah. Aku ngerasa kayak ada sesuatu yang besar, yang mereka sembunyikan dari kita,” ujar Bunda Tari, mengutarakan kegundahan hatinya sebagai seorang ibu dari dua pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN