“Minggu lalu kenapa kamu enggak dateng?” tanya Rina—dia adalah seorang dokter kandungan sekaligus teman Tania semasa SMA dulu. “Aku udah tungguin kamu sampai sore loh,” lanjutnya. Tania meringis, ia menggusap tengkuknya sekilas. Lalu menatap temannya itu dengan raut bersalah. “Maaf, Rin. Waktu itu aku ada urusan mendadak, jadi enggak sempet buat kontrol kandungan,” terang Tania, terpaksa berbohong. “Urusan apa sampai buat kamu abai periksain kandungan kamu sendiri,” omel Rani. “Kerjaan,” cicit Tania, sekali lagi berbohong. Rani menghela napasnya pelan. Wanita itu tak lagi berkomentar. Apalagi dia sudah tahu kalau Tania semenjak bercerai dengan Bastian—kini harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri. “Lain kali jangan diulangi lagi,” pinta Rani. “Kandungan kamu emang enggak

