“Kak El, berhenti bentar,” pinta Tania. El menoleh, menatap Tania yang tampak pucat pasi. Bahkan keringat dingin terlihat singgah di kening wanita itu, padahal AC mobil yang dikendarainya itu jelas sekali menyala di suhu yang cukup tinggi, mengingat pagi ini sinar matahari bersinar terang benderang. El yang khawatir dengan kondisi Tania pun dengan cepat langsung menepikan mobilnya, lalu ia melepaskan sabuk pengamannya dan mendekat ke arah Tania untuk melihat kondisi wanita itu. “Kamu kenapa?” tanya El, menyentuh kening Tania yang sama sekali tidak terasa panas. Namun, saat El beralih memegang tangan wanita itu, El merasa tangan Tania terasa sangat dingin, bahkan rasanya seperti menyentuh bongkahan es. “Kamu sakit?” El kembali bertanya, tapi Tania hanya diam saja, wanita itu bahkan tamp

