Tania yang baru saja keluar dari dalam apartemennya dibuat kaget dengan kehadiran El yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu apartemen. “Kak El,” lirih Tania. “Pagi.” El menyapa dengan senyum menawannya yang seketika itu langsung membuat Tania mengalihkan pandangan. Tania sengaja beralih pandang karena tidak mau tergoda dengan senyum El yang belakangan ini mampu menciptakan tsunami di dalam hatinya, bahkan terkadang Tania merasa pikirannya kalut hanya karena terbayang-bayang oleh senyum mantan kakak iparnya itu. “Aku barusan mau panggil kamu, enggak tahunya kamu udah keluar duluan,” cakap El. “Iya. Aku mau berangkat kerja.” Tania menanggapi seadanya. Sebenarnya bukan maksud Tania ingin menanggapi sesingkat itu, tapi ia bingung harus berkata apa. Terlebih lagi Tania masih merasa

