“Masih sakit?” tanya El, mendekati Tania yang kini tengah duduk di sofa sembari mengompres pipinya yang sedikit bengkak. “Udah enggak,” jawab Tania. El bernapas lega. Kemudian ia duduk di samping Tania. “Soal tadi ....” Tania tiba-tiba bersuara. El yang ada di sampingnya menoleh. “Apa?” tanya El, menatap lembut wanita yang dicintainya itu. “Maaf udah peluk kamu tanpa izin,” cicit Tania, tak berani beradu pandang dengan pria di sampingnya. Melihat sikap malu-malu Tania, El mengulum senyumnya. “Aku juga mau minta maaf,” kata El, berkata dengan tulus. Tania mengernyit, dia bingung dengan El yang tiba-tiba melontarkan kata maaf. Karena seingatnya—El sama sekali tidak pernah berbuat salah apa pun padanya. “Maaf untuk apa?” Tania bertanya. El mengembuskan napasnya pelan sebelum pria it

