Raut wajah Intan tampak tertekuk masam, ia bahkan tanpa ragu membanting tas mahal pemberian Bastian beberapa waktu lalu. “Kamu kenapa banting-banting tas begitu?” tanya Bastian, nada suaranya terdengar sedikit kesal. Intan menatapnya dengan raut tak bersahabat. “Kenapa kita malah pergi dari sana? Kenapa kamu enggak lawan saja kakak kamu itu?” tukasnya. Bastian menghela napasnya berat, lalu memijat pelipisnya pelan, merasa kalau dirinya sepertinya mulai menyesal karena dulu telah mengkhianati Tania demi wanita seperti Intan, yang kenyataannya sangat egois dan keras kepala. Dan sekarang, Bastian sangat kewalahan pada sosok Intan yang benar-benar sulit ia kendalikan, bahkan menghadapi wanita itu setiap hari rasanya bisa membuat darahnya melonjak tinggi. “Kamu tahu dia itu kakak aku, ‘kan

