"Pagi, Cantik," sapa Dimas dari arah parkiran bersama Rama.
Febri yang baru saja menjejalkan langkah ke gerbang sekolah langsung berjalan di samping Dimas. Ia sempat melirik Rama yang memasang raut cuek.
"Masih pagi, Dim," kata Febri diiringi tawaan kecil.
"Kan elo emang cantik," gombal Dimas.
Febri menggeleng-gelengkan kepala. "Aamiin, lo juga."
“Gue? Cantik?” Dimas bertanya dengan nada sebal yang dibuat-buat.
“Enggak, bercanda,” cengir Febri.
“Coba lo bilangnya gini, ‘Dimas, lo ganteng banget, deh. Bikin jantung gue meleleh’, gitu.” Dimas menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
“Jijik,” desis Rama tanpa memandang ke lawan bicaranya.
Sudut bibir Febri berkedut ringan mendengar desisan itu, sedangkan Dimas mendecak sebal.
Dalam langkah menuju kelasnya, Febri menatap langit biru yang cerah. Tak pernah disangkanya sejak kejadian malam itu--di mana Rama mengantarnya pulang ke rumah--Febri bisa merasakan sedikit perkembangan baik antara dirinya dengan Rama. Nggak bisa dibilang dekat sih--bahkan terkadang masih terasa jarak yang sangat jauh--tapi setidaknya tak sekaku waktu awal berjumpa. Itu semua juga berkat campur tangan Dimas secara tak langsung.
Febri masih merasa kalau kedekatan Dimas dengan dirinya terlalu tiba-tiba, membuatnya bertanya-tanya mengapa cowok populer nomor dua di SMA Harmony Internasional mau berteman dengan Febri yang cupu banget. Tapi nggak mungkin Febri bertanya hal itu pada Dimas, rasanya nggak enak aja.
Karena Dimas sering sekali mengobrol dengan Febri di sekolah, membuat gadis itu otomatis juga sering bertemu Rama. Di mana ada Dimas, di situ ada Rama. Begitu sebaliknya. Anak-anak pun akhirnya memberi mereka julukan "Kembar Populer" walau tak ada kembar-kembarnya sama sekali kecuali predikat populer mereka itu.
Namun, hari-hari di mana Febri semakin dekat dengan Dimas, tidak terlalu mengubah sikap Rama kepadanya. Cowok itu tetap dingin dan tak ada rasa penasaran sedikit pun pada Febri. Kalau Dimas asik mengobrol dengan Febri, Rama hanya fokus pada ponselnya.
Ya jelaslah. Terlalu maruk kalau cewek secupu Febri bisa mendapatkan atensi Rama. Masih untung Rama tak menghindar tiap kali bertemu Febri, seharusnya cewek itu bisa bersyukur sedikit dengan perkembangan ini.
Tiba-tiba, perkataan Erina beberapa hari yang lalu terdengar lagi di benak Febri. Apa benar kalau ternyata Rama sama dengan cowok populer lainnya?
Febri menoleh ke belakang. Rama dengan wajah datarnya berjalan di belakang mereka tanpa sekali pun memandangnya. Lalu ia berbelok ke arah koperasi sekolah. Sedangkan Dimas terus berjalan ke kelas bersama Febri.
"Eh, lo nggak nemenin Kak Rama?" tanya Febri nggak enak. Secara mereka dari parkiran barengan masa iya langsung pisah nggak ngomong-ngomong.
"Enggak, gue nemenin lo aja." Dimas menyengir lalu kembali berjalan.
Di kelas tampak kacau. Meja berantakan, kursi ada yang terbalik, kertas-kertas berserakan, dan botol-botol bekas bertebaran. Sedangkan anak-anaknya lari sana-sini nggak jelas sambil membawa buku.
Febri bengong di depan pintu kelas, sedangkan Dimas tampak sedang berpikir sesuatu.
“Feb.”
Febri menoleh. “Ya?”
Dimas menggerakkan kedua bola matanya ke sembarang arah. Memikirkan sebuah pertanyaan yang pas.
“Itu….” Dimas tidak berani menatap wajah Febri. Sedangkan cewek itu sudah berpikiran yang macam-macam. Jangan-jangan … Dimas mau….
“Omongan lo yang waktu itu, yang gue aneh, emangnya aneh kenapa?”
Oh, gue kira mau tanya apaan, batin Febri lega dan mendadak malu karena telah kegeeran.
“Masih inget aja lo,” kekeh Febri.
“Gue kepo.”
Febri masih terkekeh, kemudian menjawab, “Ya gitu. Pertama kali gue ketemu lo, gue kira lo anaknya pendiam, cuek, ya, gitu deh. Tapi semakin ke sini, gue salah. Lo itu anaknya berisik, suka gombal, cerewet. Wajah lo nipu tau, nggak.” Febri tertawa.
Dimas tersenyum. “Kalau gitu, mulai sekarang lo nggak boleh menilai orang langsung dari wajahnya. Kayak gue, nih, contohnya. Tadi lo bilang, wajah gue cuek, pendiam, tapi setelah lo kenal gue, gue ini nggak kayak yang lo pikirkan. Intinya, jangan langsung menilai kalau lo belum kenal dekat sama orang itu.”
Dimas mengusap kepala Febri, kemudian berjalan kembali ke kelasnya. Febri termenung di tempatnya, memikirkan kata-kata Dimas barusan sampai tidak menyadari bahwa Bayu melintas di depannya.
"Apaan nih, woy?!" teriak Bayu ketika melihat kelasnya seperti kapal pecah. Sedangkan Febri terkejut akan teriakan Bayu di sampingnya.
"Ulangan fisika dadakan, coy!" teriak anak cowok di pojokan yang sedang dikerubungi sekumpulan anak cowok lainnya. Maha dahsyat memang jika menggunakan teknik kepepet. Yang awalnya otak masa bodoh, kini mendadak berubah menjadi otak Einstein. Apalagi kalau gurunya Bu Cinta.
Nama yang cantik, tetapi ditakuti oleh seantero sekolah. Bagaikan bidadari pencabut nyawa.
"Eh, sumpah? Anjir!" Bayu ikut panik dan langsung bergabung dengan anak cowok lainnya.
Febri berjalan ke bangkunya yang mejanya raib entah ke mana. Lalu Erina dari arah belakang memanggil nama Febri.
"Feb, oi! Sini belajar buruaan!!!" teriak Erina. Febri langsung mengambil buku fisika dari dalam tas dan langsung bergabung dengan Erina.
Dilihatnya temannya itu sedang menulis banyak rumus di atas kertas lecek. Dalam hal membuat sontekan, semua barang yang digunakan mendadak menjadi sederhana, murah, dan meriah. Seperti kertas contohnya. Janganlah menggunakan kertas HVS yang utuh dan rapi. Nanti bingung mau disimpan di mana. Pakailah kertas seadanya. Cari di kolong meja, biasanya banyak bekas bungkus kacang atau kulit kuaci. Atau kalau mau nekat, cari di tong sampah.
Sekali-kali gunakan metode merakyat.
"Katanya belajar?" tanya Febri polos.
"Ya ini belajar," jawab Erina masih sibuk menulis rumus fluida, "belajar bikin sontekan."
Febri menaruh bukunya di atas meja, lalu memperhatikan Erina yang matanya nampak buru-buru. Tulisan udah kayak ceker ayam. Mungkin masih bagusan ceker ayam kali.
"Lo curang, Rin. Masa iya bikin sontekan?" tanya Febri mengernyit.
Erina mendecak. Pandangannya masih fokus menulis sontekan. "Halah. Elo mau liat apa nggak?"
"Mau, mau!" sahut Febri ikut duduk dan memperhatikan Erina.
Biasa, ya. Pasti ada yang namanya teman sok alim nggak mau nyontek, tapi ending-ending-nya nyontek juga. Heleh.
Erina menoleh ke arah Febri yang tampak sibuk memperhatikannya menulis. "Bantu kek."
"Iya ini gue lagi bantuin lo."
"Bantu apaan?"
"Doa," jawab Febri polos.
Erina langsung menyundul pipi Febri dan kembali melanjutkan menulis sontekan sebelum Bu Cinta datang.
“Oh, lo utang cerita ke gue ada apa lo sama Dimas di depan pintu kelas tadi.”