Bab 10: Ketangkap Basah

772 Kata
Ujian fisika selesai. Tapi bukan berarti penderitaan anak-anak berakhir. Yang ada mereka tambah stres, kulit pucat, dan mata memandang kosong. Seperti mayat hidup. Gimana enggak, orang mereka sibuk mencatat rumus fluida tetapi yang diujikan adalah alat optik. Otomatis mereka berubah menjadi mumi saat melihat soal yang beda jauh sama sontekan. Ini semua gara-gara Bu Cinta yang licin banget menyusun siasat. BRAK! Bunyi gebrakan meja terdengar keras membuat separuh kelas loncat dari kursi. “Ujian fisika bukan berarti akhir dari segalanya, guys!” teriak Bayu berdiri di atas meja. Gayanya sudah mirip jendral Sudirman. Sayangnya rambut Bayu acak-acakan nggak seperti awal masuk kelas yang rapi, klimis, sampai dibelain pake minyak rambut (langganan minta Ardani). “Bayu napa, tuh?” bisik Febri di dekat telinga Erina sambil menunjuk arah Bayu. “Ayannya kambuh kali,” bisik Erina masih sama-sama menatap Bayu. “Ini kita sekolah cari ilmu apa cari nilai sih! Terus—aduh!” kata Bayu terpotong perkara ia merintih menyentuh dahinya. “Pusing gue, eh, Dan, bantuin gue turun dari meja.” Alamat remedi lagi deh! Erina menarik tubuh Febri keluar kelas. Sebenarnya belum jam istirahat, tetapi sekarang sedang jam kosong. Guru kimia yang juga menjabat sebagai guru tata tertib itu seharusnya mengajar saat ini, tapi beliau dikenal memang jarang masuk kelas (biasanya cuma kasih tugas). Alasannya sih karena beliau sibuk mengurusi ketertiban sekolah. Memang nggak sinkron dengan tugasnya sebagai guru tata tertib. Tapi nggak papa. Harapan semua siswa SMA Harmony Internasional untuk mendapatkan jam kosong hanyalah kepada golongan guru-guru tata tertib. Hanya merekalah yang rela meninggalkan kelas setiap harinya demi kepentingan golongannya. Apalagi mendapatkan jam kosong di SMAHI tuh susah banget. Jadi jika ada jam yang kosong, itulah surga dunia anak SMAHI. Kini mereka berdua sudah duduk manis di bangku kantin. Kantin masih sepi. Jadi nggak perlu mengantre lama-lama buat beli makan. “Gimana? Lo udah follow Kak Rama belum?” kata Erina memulai pembicaraan. Febri menggeleng sambil menyesap es cokelatnya. “Yah, kok belom? Gue aja udah lama nge-follow dia,” kata Erina. “Di-follow back?” Febri penasaran. “Enggaklaaah,” jawab Erina diiringi tawa kecut. “Setahu gue yang di-follow dan di-follow back itu yang cantik-cantik doang.” Perkataan Erina semakin membuat Febri merasa bahwa perasaan ini salah. Tetapi kata Dimas, jangan langsung menilai orang kalau belum kenal dekat dengan orang itu. Yah, mungkin Febri harus lebih bersabar sebelum menilai. “Line udah di-add?” tanya Erina lagi. “Udah, tapi gara-gara kepencet,” kata Febri. “Lah, kok bisa kepencet? Tapi nggak masalahlah, yang penting sekarang lo bisa makin mulus buat pedekate sama dia," sahut Erina. Lalu ia membulatkan matanya "Eh, eh, Feb, liat!” Febri menoleh. Ada gerombolan—lebih tepatnya tiga orang cowok termasuk Rama—datang dan duduk di beberapa bangku di depan Febri. Febri langsung mengalihkan pandangan, lalu menatap Erina yang santai memakan makanannya. “Rin, kalo kita nge-add orang lewat Line itu ketahuan nggak sama orangnya?” tanya Febri. “Ya iyalah.” Duh! Febri jadi makin gak keruan. Serius deh, dia beneran kudet banget sama yang namanya aplikasi. Dia jarang bermain Line, paling-paling cuma untuk cek info kelas dan chat ke beberapa temannya yang bisa dihitung jari. “Haduh, Riiin, kok lo gak bilang sih?” rengek Febri dengan degupan jantung yang keras. “Jaman sekarang siapa sih yang gak bisa main Line, Feb. Gue aja kaget denger pertanyaan lo barusan, kayak lo abis keluar dari goa aja. Lagian santai aja sih, dia juga cuek-cuek aja kan?” Apa kata Erina? Bersikap biasa aja? Mana bisa? Febri nggak bisa bersikap biasa kalo ketemu Rama. Pasti bingung semaunya sendiri. Rasanya ada yang meledak-ledak di dadanya, lalu turun ke perutnya. Orang kata, ada kupu-kupu yang bangan di dalam perutnya. Tapi kalo ini, sih, lebah beterbangan dan menyengat dalam perut Febri. Alias mules. Febri pelan-pelan menggeser kepalanya untuk mengintip Rama yang duduk di bangku di depannya. Cowok itu sedang makan roti sambil sesekali mengangguk-angguk mendengar obrolan teman-temannya. “Rin, gue mules, nih.” Febri pura-pura merintih agar terhindar dari efek gelombang radioaktif dari Rama. “Lebay lo sumpah.” Erina melirik Febri sekilas. Febri meringis. Kemudian diam-diam lagi mencuri pandang ke arah Rama. Rama yang sedang makan. Rama yang sedang berbicara. Rama yang sedang tertawa. Dan Rama yang sedang... melirik ke arah Febri. “Sial!” bisik Febri saat ketangkap basah olehnya. Febri salah tingkah. Cewek itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba menenangkan dirinya. Sayang, setelah Rama mengetahui dirinya telah diperhatikan oleh Febri, cowok itu langsung berpindah tempat duduk membelakangi Febri. Febri merasa nggak enak, secara dia sudah membuat cowok gebetannya merasa risi atas tindakannya. Febri mendesah dalam hati, I messed up myself.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN