Bab 11: It's Now or Never

895 Kata
DI dalam kamar, Febri sedang gelisah, galau, merana. Erina terus mendesaknya untuk segera meng-SMS Rama. Tetapi Febri masih terlalu takut. Alhasil, ia hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil menggenggam handphone di telinganya. “Sekarang waktunya, Feb,” kata Erina. “Gue takut, Rin,” balas Febri sambil me-natap jendela kamarnya. “Waktu itu gue udah pernah ngomong. Kalo lo jatuh cinta, lo juga harus siap-siap sakit hati. Kemungkinan yang bakal lo dapet adalah, lo semakin dekat sama Kak Rama, atau justru Kak Rama menjauh dari lo,” jelas Erina. Febri menggigit bibir bawahnya. Ragu. “Menurut lo, kemungkinan apa yang bakal gue dapet?” “Gue nggak tau. Gue cuma bisa berharap yang terbaik aja. Itu tergantung seberapa besar usaha lo buat deket sama dia.” “Masa cewek duluan yang deketin?” “Itulah masalahnya. Kita nggak bisa selalu bergantung sama cowok. Kalo lo nunggu dia dulu yang deketin lo, sampe tahun gajah pun gak bakal jadi. Ingat, cinta nggak bisa dipaksa. Banyak orang bilang, cewek itu takdirnya dikejar bukan mengejar. Menurut gue, itu nggak sepenuhnya benar. Lo cinta sama dia, tapi lo nungguin dia ngejar lo. Atau justru, lo berusaha untuk cinta sama orang yang ngejar lo. Seperti apa yang gue bilang, sampe tahun di mana kadal bisa berdiri juga nggak bakal jadi. Iya kalau dia kenal lo. Kalo nggak? Iya kalo lo cinta dia yang ngejar lo, kalo nggak?” “Berarti novel-novel yang gue baca, salah dong?” tanya Febri polos. “Gue nggak bisa bilang itu salah atau enggak. Itu, kan, opini. Setiap orang beda-beda. Atau lo punya opini sendiri, ya itu terserah lo,” balas Erina. “Oke, gue paham. Doain yang terbaik buat gue, ya, Rin. Makasih tips-tipsnya. Gue bakal SMS dia sekarang!” ujar Febri dengan penuh semangat. “That’s my girl!” kata Erina dengan semangat yang sama. Telepon terputus. Febri kembali duduk di kursi meja belajar. Memikirkan taktik yang bagus untuk bisa mengobrol dengan Rama. Pertama, kenali dulu bagaimana sifat orangnya. “Kak Rama itu orangnya dingin. Yang pasti, dia nggak akan mau bertahan lama untuk mengobrol dengan seseorang yang belum ia kenal dekat. Apalagi kalau itu cewek,” ucap Febri sambil mencorat-coret kertas kosong di atas meja belajar. Kedua, persiapkan bagaimana caranya agar dapat bertahan lama untuk mengobrol dengan orang yang dingin. “Kalau gitu, gue harus petakilan. Harus cerewet dan super pede. Astaga, itu bukan gue banget.” Febri menyentuh dahinya. Membayangkan betapa malunya jika dirinya harus petakilan di depan Rama. “Oke, Feb. Perjuangan nggak akan mengkhianati hasil. Cepetan, Feb! Sebelum disikat orang.” Febri bangkit dari duduknya penuh semangat. Ia mengetik beberapa deret nomor telepon Rama dari Erina. Kemudian, mengetik beberapa kata-kata yang telah ia susun dengan sangat hati-hati. Ingat, harus petakilan. Itu caranya agar dapat mengobrol lama dengan orang dingin. Kedua, jangan cepat memberikan identitas asli. Pertahankan anonymous. Seperti secret admirer. Okay, it’s now or never! Untuk: Kak Balok Es Eh, ini siapa, ya? Sent. Haaah. Febri menghela napas panjang dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpejam rapat-rapat. Berdoa untuk hasil yang terbaik. Harus pasang wajah badak, ucap Febri dalam hati. Tak lama, handphone-nya bergetar. Sontak Febri langsung membuka mata dan memungut handphone-nya cepat. Dari: Kak Balok Es Lah, yang SMS siapa, yang tanya juga siapa. “What the…!!! Aaaaaa!!!” teriak Febri spontan loncat dari kasur dan berjingkrak-jingkrak di atas lantai kamarnya. “Feeeb? Kok rame, ya, di atas?” teriak mamski dari dapur. “E-enggak, Mam. Kukira tadi ada vampir di kamarku,” balas Febri asal ceplos. “Vampir?” tanya mamskinya lagi. “Oh, enggak, Mam. Nggak pa-pa. Lanjut lagi masaknya. Entar, Febri turun,” jawab Febri cepat dan langsung memelototi handphone-nya. Ini serius? Nyata, kan? Dia bales SMS gue!!! Ya ampun!!! teriak Febri dalam hati. Tanpa sadar, ia menggenggam handphone-nya dengan sangat erat dan senyumnya mengembang lebar. “Taktik gue hampir berhasil.” Secepat kilat, ia memikirkan balasan yang tepat dan mengetiknya. Untuk: Kak Balok Es Ini cewek atau cowok? Sent. Tak sabar Febri menanti balasan. Sekitar dua menit kemudian, handphone-nya bergetar lagi. Dari: Kak Balok Es Cowoklah. Ini siapa, ya? Dapet nomor gue dari siapa? “Calm down, Feb.” Febri menarik napas panjang dan mengembuskannya. Jantungnya berpacu cepat sejak awal, dan kini rasanya meledak-ledak. Erina pasti tertawa keras jikalau membaca pesan-pesan Febri untuk Rama. Secara, itu bukan typing-an Febri banget. Untuk: Kak Balok Es Dapet dari corat-coretan di uang seribuan. Sent. Febri mengepalkan kedua tangannya. Menahan rasa malu melihat dirinya sendiri. Ya Tuhan. Apa yang bakal dia pikirkan tentang Febri? Pasti yang aneh-aneh. Dari: Kak Balok Es Hah? “Mampus! Malu gue sumpah! Plis, Feb, ini bukan lo banget. Ini, mah, kerjaannya orang bego.” Febri merutuki dirinya sendiri. Untuk: Kak Balok Es Enggak-enggak, canda. Kenalin, saya peri baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Sepertinya, kita ada di sekolah yang sama, SMAHI. Sent. Dari: Kak Balok Es Oh, anak SMAHI. Kelas? Damn! Jawab apa ini? Untuk: Kak Balok Es Kepo. Sent. Dari: Kak Balok Es Yaudah. “Udah? Gitu doang? Ah, gue salah ngomong!” Febri mendecak. Untuk: Kak Balok Es Iya-iya. Nggak usah ngambek juga, dong. Saya kelas 10. Situ kelas apa, ya? Sent. “Febri, ayo makan, dulu!” teriak mamski lagi. Febri menyahut, “Bentar, Mam!” “Sekarang!” “Iya-iya, Mam!” Teriakan mamski berhasil mengalihkan perhatian Febri dari kegiatan di handphone-nya, hingga esok hari tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN