Bab 13: Secret Questions

1023 Kata
Derasnya hujan tidak membuat Dimas memelankan pacuan motornya. Cowok itu terus melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Jalanan yang macet bukan halangan bagi Dimas untuk ngebut. Tak jarang cacian dan u*****n keluar mulus dari mulut pengendara yang lainnya. Mungkin sudah sepuluh kali Dimas hampir menabrak tiang di tiap tikungan. Cowok itu tidak mengenal tempat. Hampir di semua jalan ia pacu motornya asal-asalan. Bunyi derung motornya membuat Dimas terus menaikkan kecepatan. Dimas benar-benar kalap oleh sebuah kenangan. Selama dua tahun dia terus berlarian tanpa arah. Mencari tempat di mana kenangan itu bisa lepas dari pikirannya. Namun luka itu tak kunjung reda, hingga akhirnya Febri hadir di kehidupannya. Menyulut api yang sempat padam di sudut hatinya. Namun tak pernah ia sangka, sosok di belakang Febri membuat api dalam hatinya kian membara. Sialan! u*****n itu terus menggema di kepalanya. Cowok itu membelokkan motornya tanpa mengurangi kecepatan. Motor itu berbelok dengan lutut Dimas hampir menyentuh aspal. Lalu motor itu kembali tegak dan melaju layaknya raja jalanan. Hujan tak kunjung reda. Semakin lama tetesannya semakin sakit. Dimas memarkirkan motornya di sebuah bukit. Jauh dari perkotaan. Tempat di mana Dimas bisa melepaskan semua keterpurukannya. Tempat di mana Dimas meneriakkan sebuah kerinduan. Bersama hujan. Sebagai saksi atas penyesalan Dimas. Andai waktu itu dia mencegahnya. Andai waktu itu dia mengungkapkan yang sebenarnya. Andai waktu itu… Dimas dapat memeluknya untuk yang terakhir kali. “Argh!!!” jerit Dimas frustrasi. Rambut-rambutnya ia tarik hingga beberapa helai terjatuh. Penyesalan yang terus ia teriakkan tidak mengubah keadaan. Semua yang telah berlalu tetaplah berlalu. Sebagaimana kerasnya dirinya mencoba untuk memutar waktu, itu hanyalah mampu di cerita-cerita fiksi. Tidak di dunia nyata. Tubuh Dimas menggigil. Ia memeluk lututnya sendiri. Cowok itu menangis bersama hujan. Tangisan yang telah lama dipendamnya kini meluncur deras dari kedua kelopak matanya. Semua ungkapan bahwa Dimas adalah cowok yang kuat itu hanyalah sebuah fiksi. Kini Rama, Tsania, Naufal, bahkan Febri, memandang Dimas adalah cowok yang murah senyum, selalu ceria di saat apa pun, dan semua sifat baik yang dapat membuat orang lain tertawa karenanya. Dimas menggeleng. Itu bukan dirinya. Apa yang orang lain nilai adalah separuh dari keterpurukan dirinya. Itu adalah cara agar Dimas bisa melewati kesehariannya yang suram. Dimas yang sekarang adalah sebagai cowok yang lemah. Cowok yang mudah putus asa dan kehilangan harapan. Cowok itu mendongakkan kepala. Membiarkan hujan menghapus air matanya. Tubuhnya terhuyung tanpa sadar ke belakang. Sebelum matanya tertutup, mulutnya mengucapkan sebuah nama yang telah lama ia kubur dalam-dalam kini terlepas bebas. “Kiera.” . === . Febri terus memandang keluar jendelanya. Suasana hatinya seketika memburuk. Dimas pergi begitu saja, padahal hujan belum reda. Febri melihat raut Dimas berubah total. Mata cokelatnya tidak lagi menunjukkan kehangatan. Bibirnya tidak lagi tersenyum seperti Dimas yang ia kenal. Febri khawatir. Dimas benar-benar terlihat buruk beberapa saat yang lalu. Matanya menyiratkan kesedihan yang mungkin ia pendam sendirian. Cewek itu terus memandang hujan yang tak kian reda. Pikirannya hanya terfokus pada cowok itu. Berbagai pertanyaan terus memenuhi otaknya. Apakah dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang? Apa sudah sampai rumah? Ia menoleh kepada handphone-nya yang tergeletak manis di atas kasur. Tanpa berpikir panjang, diambilnya benda itu dan mencari kontak Dimas. Febri kembali menghadap derasnya hujan sambil menggenggam handphone-nya di telinga. Beberapa saat kemudian sambungannya terputus. “Dimas,” gumam Febri gelisah sambil terus mencoba untuk menghubungi Dimas. Pintu terbuka tiba-tiba. Spontan Febri menyembunyikan handphone-nya seolah tidak ada apa-apa. Febri memaksakan untuk tersenyum. “Kak Tika, ada apa, Kak?” Tika hanya tersenyum lalu menutup pintu kamar. Cewek yang saat ini menduduki kelas satu tingkat di atas Febri langsung mengempaskan pantatnya di atas kasur. Febri ikut duduk di sampingnya. Tika memandang Febri dengan tatapan yang susah diartikan olehnya. “Kak Tika kenapa?” Dengan satu helaan napas, Kak Tika mengusap pipi Febri. “Dimas pacar kamu?” Febri sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Tanpa disangka Tika menanyakan seseorang yang kini sedang digelisahinya. “Dimas cuma teman, Kak, kenapa?” tanya Febri masih menggenggam handphone-nya di balik bajunya. Raut Tika menunjukkan sebuah kesedihan yang mendalam. Namun cewek itu berusaha menyunggingkan sebuah senyuman. “Kakak boleh minta sesuatu sama kamu?” Perasaan Febri kembali kacau. Ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia mencoba untuk menebak apa yang dipinta olek kakaknya. Yang pasti itu berhubungan dengan Dimas. Cowok yang saat ini sedang bergulat dipikiran Febri. “Boleh, Kak,” kata Febri berusaha menahan ketakutannya. “Tolong jauhi Dimas.” Perkataan itu keluar secara mulus dari mulut Tika. Halus tetapi menyayat. Permintaan yang sempat ditakutinya kini hadir secara telak di telinga Febri. Cewek itu mengerjapkan mata tak percaya. Setahunya Dimas tidak pernah melakukan hal apa pun yang membahayakan. Dimas juga tidak mengenali Tika. Begitu sebaliknya. Jadi apa alasan Tika agar Febri tidak mendekati Dimas? Apa yang pernah dilakukan Dimas sehingga membuat Tika tidak menyukainya? “Ke-kenapa, Kak?” tanya Febri meminta sebuah kejelasan mengapa ia tidak diperbolehkan untuk dekat dengan Dimas. Tika terdiam. Dia menolehkan mukanya ke jendela yang penuh bulir tetesan hujan. Febri yang merasa digantungkan oleh sesuatu yang tak jelas awal-mulanya, hanya menunggu Tika untuk berbicara. Sesuatu buruk sedang terjadi. Langit tahu itu. Namun Tika tetap terdiam. Tidak ada satu patah kata pun terucap dari bibirnya yang merah merona. Pandangan kakaknya hanya tertuju lurus keluar jendela. Tak peduli petir menggelegar. Kakaknya tetap bergeming. “Kak Tika? Jawab Kak!” desak Febri sudah tidak bisa menunggunya lebih lama. “Pokoknya jauhin aja!” Suara Tika meninggi satu oktaf membuat Febri tercengang. Cewek itu terkejut dengan reaksi kakaknya. Tika mengusap mukanya dengan kasar. Lalu melangkah keluar kamar. Febri buru-buru mencegatnya. “Kak Tika nyuruh aku buat jauhin Dimas, sedangkan aku nggak mendapatkan alasannya. Maaf, Kak, aku nggak bisa, Dimas itu temen aku,” kata Febri berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. Tika memandang arah lain sambil satu tangannya menyentuh gagang pintu. “Ya sudah.” Febri menatap kakaknya yang sudah menghilang di balik pintu dengan tidak percaya. Ada apa dengan Dimas? Mengapa sepertinya Tika sangat membencinya? Febri terduduk lemas di sisi ranjang. Apa karena Tika, Dimas langsung pamit dan pergi di tengah derasnya hujan? Tangannya masih memegang handphone. Matanya bergerak untuk menatap hujan. Semoga hujan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan Febri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN