Erina mendengus sebal. Sedari tadi perkataannya tidak ada satu pun yang dihiraukan Febri. Sohibnya itu dari pagi sampai pulang sekolah, terus menatap ke luar jendela. Padahal tidak ada apa-apa di luar sana. Hanya ada siswa yang berlalu-lalang.
Lagi-lagi Erina mendecak. “Feeb! Kalo gue ngomong tuh didengerin dooong!”
Febri tersadar dan mengerjapkan mata berkali-kali. Lalu memandang Erina polos. “Apa?”
“Tuh, kaan!”
“Apa, sih?”
Erina geleng-geleng kepala. Sahabatnya ini tampaknya sedang gelisah galau merana. Apa jangan-jangan, karena SMS-nya masih belum dibalas oleh Rama? Begini-begini, Erina juga takut. Takut jika ternyata Rama sudah tahu pemilik nomor asing tersebut.
Demi apa pun, tiba-tiba Febri menggeser bangkunya dengan kasar lalu melangkah cepat keluar kelas. Erina yang bingung hanya bisa memantau dari dalam kelas.
Oh. Ternyata ada Rama.
Hah, apa? Erina yang beberapa saat tadi hanya menghela napas kini langsung kembali menatap Febri dari balik jendela. Anjir, berani banget dia? batin Erina was-was.
“Kak Rama,” panggil Febri begitu melintas di depan teman-teman Rama.
“Ah, cie cie… Rama gitu sekarang? Aku diselingkuhin?” goda Naufal saat melihat adik kelas itu berani menyapa Rama yang terkenal dingin. “Rama nggak terima jasa permintaan nomer hape, Dek, sori ya,” kata Naufal membuat Febri mengibaskan tangannya.
Sori aja. Gue udah punya, gumam Febri dalam hati.
Banyak sekali yang naksir dengan Rama. Namun, banyak juga yang takut untuk berbicara padanya karena tatapan Rama sangat tidak bersahabat. Banyak yang harus menelan rasa sukanya dalam-dalam jika tidak yakin berpenampilan cantik dan menarik. Tetapi Febri? Dia bodoh amat. Sejak memutuskan untuk menghubungi Rama dengan nomor asing, dia sudah kehilangan rasa malunya. Lagipula saat ini dia memberanikan diri bertemu dengan Rama hanya untuk menanyakan suatu hal. Rasa khawatirnya pada Dimas jauh lebih besar daripada ketakutannya pada Rama. Toh, cowok itu juga belum tahu siapa pengirim SMS itu.
“Dimas nggak masuk, Kak?” tanya Febri tanpa basa-basi. Kali ini dia dapat menahan degupan jantungnya yang tidak karuan walaupun masih tersisa sedikit.
“Cie nanyain Dimas. Suka ya?” tanya Tsania sambil mengangkat alisnya menggoda.
“E-enggak, Kak.” Febri geleng-geleng sambil memasang senyum malu-malu. Lalu matanya beralih menatap Rama tepat di manik matanya. Febri lepas kendali. Jantungnya kembali berdegup kencang. Mata hitam Rama menusuk tepat di hati. Mata itu selalu mengintimidasi.
“Demam,” jawabnya dingin.
“Eh, iya?” sahut Naufal langsung menoleh. Rama mengangguk. Ditatapnya cewek mungil di depannya. Rama tersenyum dalam hati melihat ekspresi Febri. Ingin rasanya dia mencubit pipinya saking gemasnya.
“Oh ya udah kalo gitu, makasih, Kak.” Febri menundukkan kepala lalu berjalan kembali ke kelas.
“Loh, Dek, nggak minta nomer hape gue?” seru Naufal membuat Febri menoleh.
“Enggak, deh, Kak, makasih.” Febri terkekeh lalu berjalan kembali ke kelas membuat Erina terheran-heran.
Alisnya saling bertautan melihat Febri langsung menduduki kursi di sampingnya. “Lo kenal mereka?”
“Kak Rama doang,” jawabnya datar. Cewek itu sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. “Lo pulang sendiri ya, Rin, gue mau ke Dimas.”
Sekali lagi Erina dibuat melongo olehnya. Sahabatnya itu langsung melambaikan tangan dan keluar dari kelas. Erina yang masih di ambang kebingungan, hanya menatap kepergian Febri dengan mengernyitkan dahi. Tak menyangka sohibnya bisa seberani itu menampakkan dirinya di hadapan para cowok populer. Rasanya seperti out of character.
.
===
.
Langit mulai redup. Saatnya magic hour menunjukkan dirinya, membuat siapa pun yang sedang terpuruk bisa sedikit terlena dengan keindahan langit senja. Febri turun dari angkot lalu berjalan memasuki sebuah perumahan.
Rumah-rumah elit saling berjajaran seolah sedang beradu. Bahkan ketika Febri berjalan sampai tikungan, banyak rumah-rumah besar yang akan dibangun. Cewek itu benar-benar takjub dengan perumahan yang ditempati Dimas.
Febri membuka handphone-nya. Membaca lagi alamat rumah Dimas dari Annisa—teman sekelas Dimas. Setelah membaca, dia menolehkan kepala ke kanan. Sebuah rumah bertingkat dua warna abu-abu itu menyambut kedatangan Febri. Dia spontan merapikan rambut dan seragamnya, lalu berjalan mendekat.
Dimas sedang terbaring lemah di atas ranjang. Kepalanya dikompres. Wajahnya pucat. Dimas yang terkenal kuat kini menjadi sosok Dimas yang lemah. Bahkan cowok itu belum makan dari pagi. Cindy—kakak Dimas—cuma bisa geleng-geleng kesal karena adiknya itu super keras kepala. Bubur yang sudah disiapkannya hanya tergeletak dingin di samping Dimas.
“Dimas, makan buburnya...!” seru Cindy sambil berjalan membukakan pagar begitu mendengar bel rumah.
“Aku bukan bayi, Kak,” balas Dimas dengan suara lemas.
Tidak ada jawaban. Dimas kembali menatap jendela di depannya. Jarang-jarangan Dimas jatuh sakit. Ini semua gara-gara kemarin Dimas nekat ngebut abis-abisan di bawah derasnya hujan. Apalagi hujannya sekarang adalah hujan asam. Hujan yang memberikan sinyal kematian secara perlahan kepada masyarakat sebagai ulah dari pabrik-pabrik yang tidak bertanggung-jawab. Gimana Dimas nggak jatuh sakit coba?
“Dimas, ada temen kamu, nih,” kata Cindy mempersilakan Febri memasuki kamar Dimas.
“Makasih, Kak Cindy,” kata Febri sopan.
Dimas melebarkan matanya. Bertemu cewek yang kini sedang menatapnya dengan khawatir sama sekali tidak pernah terpikirkan. Lalu secepat kilat Dimas menyandarkan tubuhnya di dinding dan menatap Cindy.
“Kakak minggir! Kasian jomblo kalo harus ngeliat adeknya pacaran!” ketus Dimas berusaha mengusir kakaknya dari ambang pintu.
“Aku nggak jomblo!” seru Cindy melotot kepada adiknya. “Aku ada Matthew, kamu kali yang jomblo. Emang ada yang mau sama kamu?”
Dimas menunjukkan senyum terbaiknya, lalu mengusap rambutnya dengan jari-jari. “Lo mau kan, Feb?” tawar Dimas sambil mengangkat alisnya berulang kali.
DEG! Febri membisu. Dimas langsung tertawa melihat ekspresi cewek di depannya yang antara bingung mau jawab apa.
“Feb, tolong jagain Monyet satu ini ya. Jangan biarin kabur,” kata Cindy memperingatkan Febri untuk menjaga Dimas.
Sedangkan Dimas menjulurkan lidah. “Jerapah minggir dulu.”
Febri menahan tawanya melihat perdebatan antara kedua kakak beradik ini. Dimas tersenyum ke arah Febri. Cewek itu dibuatnya tersipu. Lalu cepat-cepat Febri mengubah mimik wajahnya menjadi sok tidak peduli.
“Apa sih senyum-senyum mulu?” Febri menatap tajam ke arah Dimas yang kini duduk bersandar di dinding. “Kenapa lo tadi gak masuk?”
“Kan gue sakit. Cie nyariin.” Dimas tersenyum manja menggoda Febri yang lagi-lagi tersipu malu. Jujur, kedatangan Febri di luar harapan Dimas. Cowok itu awalnya hanya berharap Febri menelponnya lagi. Berhubung semalam pulsanya habis dan sedang dalam kondisi nggak bisa mengangkat telepon.
“Elo, sih. Udah gue bilang jangan pulang, masih aja nekat nerobos hujan, terus.…”
Dalam hati Dimas tersenyum. Tak pernah menyangka rencana yang ia susun bisa menjadi boomerang untuk hatinya sendiri. Harus diakui, Dimas mulanya memiliki niat buruk pada Febri, hanya semata-mata untuk membalaskan dendamnya pada seseorang. Namun, seiring berjalannya waktu, Dimas semakin merasa bersalah karena memanfaatkan kepolosan hati gadis itu. Febri bukanlah gadis yang tepat untuk menjadi bahan pembalasan dendam. Dia terlalu baik, dan Dimas sudah jatuh dalam pesonanya.
Sebenarnya Dimas benci mengakui hal ini. Semuanya kacau bahkan sebelum dimulai. Tapi hati memang suka semaunya sendiri dan tak mudah ditebak.
Kini Dimas hanya berharap, gadis itu tak akan pernah tahu bahwa dirinya sempat dimanfaatkan oleh Dimas. Karena kalau sampai Febri tahu, gadis itu sudah pasti akan meninggalkan dirinya ... dan Dimas akan kembali merasakan kesepian.
“Feb.” Panggilan lirih Dimas memotong omelan Febri.
Cewek itu berhenti berbicara, dipandangnya Dimas dengan tatapan bertanya-tanya. “Apa? Ada yang sakit?”
Dimas menggeleng. “Kenapa lo perhatian sama gue?”
Mata cokelat Febri bergerak mencari jawaban. Sejujurnya pertanyaan itu belum pernah terlintas di benaknya. Cewek itu hanya … khawatir. Entah apa alasannya dia sendiri juga belum sempat memikirkannya.
“Gue… juga nggak tau kenapa gue bisa perhatian sama lo,” kata Febri polos mengundang senyum Dimas.
“Entar kalo udah nemu alasannya, jangan lupa kasih tau gue, ya,” senyum Dimas. “Yah… walau gue harap alasan lo perhatian adalah karena lo jatuh cinta sama gue.”
“Apa?” tanya Febri terkejut.
“Enggak. Nggak papa,” sahut Dimas meninggalkan beberapa pertanyaan di benak Febri. “Eh, gue suapin dong buburnya.” Kalimat manja Dimas membuat Febri langsung melupakan topik barusan.
Gadis itu mengambil semangkuk bubur yang sudah dingin dari meja di samping ranjang Dimas. “Udah dingin, Dim, gue angetin lagi, ya.”
Dimas menggeleng cepat. “Nggak usah, ngeliat lo udah anget, kok.”
“Bisa diem gak?” pukul Febri di lengan cowok itu.
Dimas merintih sambil menyentuh lengannya. Ekspresinya benar-benar membuat Febri spontan langsung mendekat dan menyentuh lengan Dimas perlahan.
“Eh, sakit ya? Maaf, nggak sengaja … ih dasar aku!” Febri sibuk mengusap lengan Dimas dengan raut khawatir.
“Bakal lebih sakitan ngeliat lo ngehindarin gue nantinya.”
Febri berhenti mengusap lengan cowok itu. Kepalanya perlahan mendongak. Tatapan itu saling bertemu. Pantulan diri keduanya terpampang jelas di manik mata masing-masing. Dimas tertegun. Apakah Febri memang secantik ini? Kenapa dia baru bertemu dengannya sekarang? Dimas benar-benar ingin merengkuh gadis itu saat ini. Dia ingin memilikinya. Tapi ... hatinya juga belum bisa melepaskan Kiera.
"Ke ... napa gue harus ngehindari lo?" Mata Febri masih terkunci pada Dimas. Degupan jantungnya mulai memberontak tak karuan. Apa yang sebenarnya dia rasakan? Mengapa ini sangat membingungkan?
"Karena gue nggak sebaik yang lo kira." Tubuh Dimas bergerak tanpa kehendaknya. Merapatkan jarak antara dia dan hatinya. Menutup segala kenangan suram yang sempat terbangunkan. Menghadirkan kembali kisah baru dengan tinta jingga.
Febri menatap wajah Dimas yang kian mendekat. Degupan jantungnya meloncat-loncat ingin keluar. Namun pandangannya terkunci di kedua bola mata cokelat milik Dimas. Belum pernah dilihatnya kedua bola mata yang sangat indah itu. Mengirimkan sinyal kehangatan bagi Febri.
Ketika wajah mereka semakin dekat dan jarak mereka semakin terhapuskan, Dimas mengucapkan sebuah kalimat. “Walaupun begitu, tolong jangan hindarin gue, sekali pun itu disuruh kakak lo.”
Febri membeku di tempat. Permasalahan yang sampai sekarang belum terjawabkan dibawa kembali oleh Dimas.
Febri menatapnya dengan dahi berkerut. “Kenapa?”
Dimas terlihat enggan menjawab pertanyaan Febri. Cowok itu memundurkan wajahnya dan menyibakkan selimutnya. Perlahan cowok itu berjalan ke meja belajar dan mengambil kunci mobil. Membiarkan Febri termenung di tempatnya.
“Gue anter lo pulang.”