Kurang lebih tiga minggu lagi pensi dimulai.
Pensi ini adalah kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh SMA Harmony Internasional. Biasanya dilakukan ketika pergantian semester. Setiap kelas berlomba-lomba untuk menampilkan yang terbaik. Hadiah pun tak kalah menarik.
Cowok itu—Rama—yang kini menjabat dalam bidang advokasi OSIS malah bersantai-santai di dalam perpustakaan. Ia tengah menghindari kegiatan kelas dalam mempersiapkan lomba pensi tiga minggu lagi. Walau sulit, Rama berhasil kabur dari berbagai macam teriakan cewek-cewek di kelasnya.
Biasalah. Jika ada sebuah perlombaan, cewek selalu heboh. Yang tanding cowok, yang heboh cewek.
Rama membolak-balikkan buku Sherlock Holmes. Walaupun sudah berusaha menaruh titik fokusnya ke dalam bacaan, tetap saja ia gagal fokus. Pikirannya tidak di sini. Entah ada di mana yang nggak tahu kapan baliknya. Rama menghela napas dan menatap salah satu fitur pesan di handphone-nya.
Ia tersenyum. Ia cukup terkejut dengan apa yang dilakukan gadis itu. Tetapi, hal ini membuat Rama yakin akan satu hal, gadis itu benar-benar serius.
Erina mengintip dari celah-celah pintu. Ia melihat Rama sedang tersenyum menatap sesuatu di handphone-nya. Kemudian, ia menoleh pada Febri.
“Ayo, Feb. Maju! Kesempatan buat lo. Ingat, kesempatan kayak gini nggak dateng dua kali,” ucap Erina menyemangati Febri.
“Ta-tapi—”
“SMS lo nggak dibales. Kalo gitu, lo harus pake cara manual. Ngobrol langsung sama dia,” bisik Erina.
Febri menatap Rama diam-diam. “Gue takut.”
Erina mendecak. “Kemarin lo berani dateng langsung ke Kak Rama. Kenapa sekarang takut lagi?”
“Soalnya, kemarin, kan… kan….”
“Apa?” sahut Erina. “Halah, kelamaan, Ingat, pasang wajah badak. Go!”
Erina mendorong tubuh Febri masuk ke ruangan di mana ada Rama. Jantungnya kembali berdetak keras. Lebah-lebah kembali menyengat perut Febri. Namun, Febri harus menguatkan hatinya. Ingat, wajah badak.
“Kak.”
Rama menurunkan bukunya. Febri. Cewek itu tengah menyapanya sambil tersenyum.
“Iya.” balas Rama singkat. Cowok itu sedang berusaha keras mengendalikkan pikirannya yang seketika berantakan saat cewek yang tengah menyapanya adalah Febri.
“Kok di sini? Nggak ikut ngurusin kelas?” Febri langsung mengambil posisi nyaman dan duduk di hadapan Rama.
Rama masih terlihat dingin. “Apa urusan lo?”
Febri berusaha tersenyum agar tak terlihat menyedihkan. Kedua tangannya membuka novel teenlit yang baru saja ditemukannya di perpustakaan. “Eng-enggak, nggak papa Kak.”
Rama melirik Febri yang sudah menenggelamkan seluruh wajahnya di balik novelnya.
Febriana ... dia cewek biasa yang nggak populer dan nggak cantik. Nggak pintar tapi berani mencoba. Cewek yang kini menjadi alasan mengapa Rama memandang Dimas sedikit berbeda. Lambat laun Rama mulai menganggap Dimas adalah saingan. Saingan untuk mendapatkan cewek ini. Rama sudah berusaha untuk membuang pikiran itu jauh-jauh tetapi efek yang ditimbulkan cewek ini sungguh luar biasa.
Rama terheran sendiri. Apa yang dilakukan Febri sehingga membuat Rama menjadi oleng begini? Rama mendengus.
Saat tengah memikirkan Febri, tiba-tiba terbersit satu nama yang membuatnya mendadak kesal. Della.
Cewek cantik dari kalangan siswa populer. Siapa pun pasti mengenal sosok Della. Anggun, tetapi sombong dan terkenal judesnya. Mimpi apa Rama bisa terjebak dalam hubungan super rumit dengan Della. Tiba-tiba saja Rama sudah terikat sebuah janji pada Della yang telah disaksikan oleh beberapa temannya: Jika kelas Rama menjadi juara satu saat acara pensi, dia akan menembak Della di depan semua orang.
Oke, itu adalah sebuah janji yang konyol. Rama tak punya perasaan apa pun pada Della, tapi mengapa dia bisa terikat janji seperti itu?
Tak akan pernah ada yang tahu, bahwa di balik kecantikan Della yang membahana, dia sebenarnya lebih mirip ular yang licik. Gadis itu mengetahui sesuatu tentang masa lalu Rama, dan menggunakannya untuk mengancam cowok itu.
Terkadang, Rama sungguh berharap acara pensi dibubarkan saja, atau setidaknya kelasnya jangan sampai menang. Tapi itu sungguh harapan yang egois. Yang bisa Rama lakukan saat ini hanyalah ... terus ikuti permainan Della. Selesaikan apa yang sudah dimulai. Lagian semua sudah terlanjur.
Sialnya, semenjak Rama bertemu dengan Febri, pikiran mulai kacau. Imbasnya sampai ke hati. Bagaimana caranya bisa bersama Febri tanpa diketahui Della? Jika Della sampai tahu bahwa Rama menjalin hubungan dengan cewek lain, Della tak akan segan-segan menyakiti cewek itu. Benar-benar posisi yang sulit.
“Oi!”
Mendengar seruan yang mendadak itu, Rama langsung tersadar dari lamunannya. Kini di hadapannya sudah ada Dimas dan adik kelas temannya Febri, yang entah siapa namanya, Rama tak tahu dan juga tak peduli.
“Apa?”
“Yeee! Dari tadi dipanggilin ngelamun mulu. Ngelamunin apa? Kucing lagi buat anak?” canda Dimas garing.
Rama mendesis dan memutar bola matanya.
Dimas melanjutkan, “Kok tadi gue kayak ngelihat Della ya di luar sekolah.”
Rama terkejut. Benar, semalam Della menelepon. Dia mengirim pesan bahwa dirinya sudah berada di Surabaya.
“Oh.” Rama mengangguk. “Nggak tahu.”
Febri melirik Rama dari celah-celah buku. Otaknya berputar keras mengingat apakah ia mengenal Della. Namun ternyata tidak. Erina yang kali pertama ini bisa sedekat itu dengan cowok most-wanted seantero sekolah hanya bisa tertegun. Walaupun sesama anggota OSIS, tetapi untuk bisa melihat dekat sosok Rama itu peluangnya kecil sekali.
“Kak Rama nggak ikut rapat?” tanya Erina yang bermaksud cari perhatian. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan cowok populer yang pertama kali diliriknya saat keterima OSIS.
Rama bergeming. Ia tetap fokus pada bukunya membuat Erina sedikit melemaskan pundaknya. Ternyata susah juga untuk bisa dekat dengan sosok Rama. Hanya orang-orang beruntung yang bisa dilirik olehnya.
Lo beruntung, ya, Feb. Sejujurnya, gue juga suka sama Kak Rama, Erina tersenyum kecut dalam hati.
***
Sore itu langit mendung. Tak lama disusul oleh buliran tipis air hujan yang berjatuhan. Semua orang yang berlalu-lalang saling berebutan mendapatkan tempat berteduh. Cuaca dingin pun ikut menambahkan kondisi.
Rama berguling-guling di kasur, menutupi dirinya dengan selimut. Semua jendela sudah ditutupinya dengan gorden. Cowok itu tidak suka dengan hujan. Dia bukan petrikor atau pun pluviophile.
Tok Tok…!
Pintu kamarnya diketuk. Rama mengembuskan napas kasar lalu beranjak turun menyentuh lantai kamar yang dingin karena semburan AC. Dibukanya pintu itu.
“Rama,” sapa hangat Mamanya.
“Ya, Ma?”
“Della telepon tuh, gih dijawab,” kata Mamanya sambil menyodorkan telepon rumah yang berupa telepon genggam.
Rama mengernyit. “Ngapain?” bisiknya tanpa suara. Takut jika Della mendengarnya dari seberang telepon.
Mama hanya mengendikkan bahu, lalu membiarkan Rama kembali menutup pintu kamarnya. Cowok itu langsung rebahan di kasur dan menyalakan televisi.
“Kenapa, Del?” sapa Rama langsung to the point. Sejujurnya dia malas banget harus berkomunikasi dengan cewek ular itu.
“Lo bisa jemput gue nggak? Ini hujan, gue nggak bisa pulang,” kata Della dengan nada manja.
Rama mengusap rambutnya dengan kasar. “Lo di mana sekarang?”
Della menggumam. “Kayaknya, sih, gue di deketnya toko buku biasanya lo beli itu, Ram, tapi nanti gue nggak pulang ke rumah. Gue mau ke rumah tante Donna, lo drop gue di situ aja.”
“Oke.” Rama mematikan televisinya.
“Pake mobil aja, ya, Ram,” kata Della sebelum telepon dimatikan. “Oh ya, jangan lama-lama.”
Telepon mati. Rama melempar telepon rumah ke kasurnya. Dia membuka pintu kamar dan beranjak keluar kamar.
Mama yang melihat anaknya buru-buru mengambil kunci mobil jadi ikut terheran-heran. Pasti Della minta dijemput lagi. Mama sudah hapal dengan kelakuan mereka berdua dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“Rama pamit dulu, Ma.” Cowok itu mencium tangan Mamanya.
Mama tersenyum sambil merapikan kaos anaknya. “Hati-hati ya.”
Rama tersenyum tipis lalu berjalan ke garasi.
Hujan sudah pasti menyebabkan kemacetan arus lalu lintas. Dari seribu alasan Rama malas keluar rumah di saat-saat hujan adalah ini salah satu contohnya. Sudah hujan macet lagi.
Cowok itu menyalakan tape lagunya sambil menunggu lampu merah menjadi hijau. Diputarnya lagu dengan genre kesukaannya, pop punk. Green Day – Still Breathing.
Rama kembali melajukan mobilnya sambil sekali-kali bersenandung. Sampai di pertigaan, Rama memutarkan kendaraan ke arah kanan, lalu mobilnya berhenti tepat di depan toko buku. Rama membuka kaca mobil dan menyapa Della yang sedang fokus pada handphone-nya.
“Hei, ayo masuk.” Rama menyunggingkan senyuman yang sangat kentara terpaksanya, tapi tetap disambut hangat oleh Della.
Cewek itu membuka pintu mobil dan langsung duduk cantik di samping Rama. “Lama deh lo, Ram.”
“Sori, macet.”
“Oke deh, bisa dipahami.” Della tersenyum manja ke arah Rama. “Gue laper, makan dulu, yuk.”
Rama mengangguk dan menjalankan mobilnya.
“Makan bebek mau?” tanya Rama.
“Bebek pinggir jalan kesukaan lo yang waktu itu? Ogah Ram. Zangrandi aja,” tawar Della menyentuh tangan Rama.
Rama mengernyit. “Itu kan menunya cuma es krim doang Del, katanya laper?” Cowok itu membelokkan mobilnya. “Ini gerimis pula.”
“Ya nggak papa, Ram. Dingin-dingin sambil makan es krim.” Della bergerak untuk mengganti lagu kesukaan Rama. “Ini lagu apaan, sih? Nggak bisa didengerin bikin telinga rusak.”
Rama mendecak sebal dalam hati. Siapa yang berani mengatakan suara emas Billie Joe Armstrong bikin telinga rusak?! Dasar buta nada!
Walau sedang kesal karena grup band favoritnya dihina-hina di depan hidungnya, Rama terus memaksakan fokusnya ke jalanan dan membiarkan Della melakukan hal sesukanya.
Della akhirnya mengganti lagu Green Day menjadi Adele – Easy on Me. Really not his cup of tea!
Rama berhenti saat dihadangkan dengan lampu lalu lintas. Saat Della sedang asik bernyanyi, Rama menyempatkan diri untuk rileks dan menatap ke samping jendela. Masih banyak orang-orang berjualan koran sambil ditutupi oleh plastik agar tidak terkena tetesan air hujan.
Selang beberapa detik sebuah motor CBR putih berhenti di samping mobil Rama. Mereka sama-sama menunggu hijaunya lampu lalu lintas. Rama iseng menatap pengendara itu. Matanya membulat sempurna ketika yang dilihatnya ternyata Dimas sedang memboncengi Febri! Mereka berdua nekat basah-basahan. Dan sepertinya mereka berdua menikmatinya. Terlihat dari canda-tawa yang mereka lakukan.
“Febri?” tanya Rama spontan. Matanya semakin dekat ke jendela mobil, hampir-hampir membuka jendelanya.
Della yang mendengarnya pun langsung berhenti bernyanyi dan menoleh ke Rama. Cowok itu sedang menatap jendela di sampingnya.
“Kenapa, Ram?” tepuk Della lembut di pipinya. Rama terkejut dan menggeleng-gelengkan kepala. Dilihatnya kembali ke jendela sampingnya.
Bukan. Itu bukan motornya. Dia bukan Febri. Juga bukan Dimas.
Lampu sudah menunjukkan warna hijau. Bunyi klakson terdengar seketika. Rama menginjak pedal gas dan mobil pun melaju kencang.