Bab 16: Buku Harian Rama

1195 Kata
Dimas memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah Rama. Dia lalu mengetuk pintu. Tak lama Papa Rama keluar. “Selamat malam, Om, Kak Rama ada?” tanya Dimas sopan. Dan hanya di depan orang tuanya saja ia memanggil Rama dengan sebutan “Kak”. “Waduh, Rama belum pulang tuh, Nak. Ditunggu aja di kamarnya, gih masuk dulu,” sila Papa Rama. Dimas menunduk dan mengucapkan permisi untuk memasuki kamar Rama. Dimas sering sekali main ke rumah Rama. Bahkan orang tua Rama sudah menganggap Dimas sebagai adik kandung Rama sendiri. Dimas membuka pintu kamar Rama. Cowok itu langsung rebahan di atas kasur memandangi poster-poster yang tertempel. Ada poster Green Day, All Time Low, Avenged Sevenfold, Blink-182, banyak deh. Bahkan poster Avril Lavigne dan Paramore saja ada. “Ini kamar atau tempat jualan poster, sih?” Dimas bangkit dan berjalan mendekat ke meja belajar. Ketika dibuka, banyak sekali buku-buku detektif dan juga sastranya Kahlil Gibran. Diambilnya buku yang paling dekat dengan tangannya. Cowok itu lalu duduk santai di kursi meja belajar. Cinta. Begitulah judul yang tertera di puisi karya Kahlil Gibran. Dimas langsung membacanya. Mereka berkata tentang serigala dan tikus Minum di sungai yang sama Di mana singa melepas dahaga Dimas mengernyit. “Apa hubungannya cinta sama serigala dan tikus yang lagi minum? Emang mereka pernah mengikrarkan janji cinta bersama?” Dimas menggeleng-geleng. “Pikiran pencinta sastra emang nggak bisa ditebak. Ada-ada aja.” Cowok itu menutup bukunya dan mengembalikan ke rak. Lalu matanya menemukan lagi sebuah buku hitam seperti diari. Karena dasarnya Dimas itu kepo luar biasa, diambillah buku itu. “Jangan-jangan ini buku The Death Note.” Setelah dibuka ternyata bukan seperti ekspektasi otak Dimas, melainkan sebuah buku harian. Nggak nyangka banget ya cowok seperti Rama punya buku harian. “Intip ah.” Dimas menoleh ke belakang dan langsung menutup pintu agar tidak ada yang melihatnya membaca aib kawan sendiri. Setelah semuanya aman, barulah Dimas berani membaca halaman pertama. “Yo buku harian,” ucap Dimas membaca tulisan yang tertera. Ini hari di mana gue langsung terjun ke lapangan, yaitu jadi panitia MOS. Ngelihat bawahan gue sengsara itu kesenangan tersendiri buat gue (oke ini terdengar seolah gue emang berengsek banget). Apalagi liat mereka jalan sambil jongkok buat perut gue pengen ngakak keras-keras. Apakah ini pertanda bahwa gue sebenernya seneng nyiksa orang? Kemudian gue ngeliat ada seorang cewek—modelnya sih nerd gitu, pake kacamata dan gak modis sama sekali—lagi dimarahin sama Varo, ketua OSIS. Abisnya disuruh pake pita pink malah pake pita hitam. Lemah sekali penangkapan informasinya. Dimas mencoba mengingat-ingat apakah dia kenal dengan yang dimaksud oleh Rama atau tidak. Karena sewaktu MOS, bukannya Dimas yang tunduk dengan senior cewek, tetapi malah senior cewek yang tunduk pada Dimas. Kekuatan orang ganteng memang ajaib. Halaman kedua dibukanya. Dan masih dalam kenangan MOS. Yo hari kedua! Gue ketemu lagi sama cewek itu pas di toilet. Bukannya segera balik ke lapangan, dia malah nyanyi di toilet. Niatnya mau langsung gue tegur, tapi sebelum niat itu terlaksana gue malah denger dia nyanyiin lagu kesukaan gue dengan hati yang berbunga-bunga. Minority – Green Day. Beruntunglah buat dia karena suaranya lumayan enak didengar dan dia memilih band yang tepat. Gue punya prinsip untuk tidak mengusik penggemar Billie Joe Armstrong. Tapi kemudian di tengah-tengah nyanyian, dia mergokin gue lagi curi-curi dengar dan langsung kabur deh. Dimas ikut tertawa-tawa sendiri membaca buku harian Rama. Kmudian suara berisik dari luar kamar mengganggu konsentrasinya. “Iya, Pa, entar aja. Aku abis makan.” Gawat! Dimas buru-buru menutup buku tersebut dan langsung menaruhnya ke tempat semula. Lalu dirinya melompat dan rebahan di kasur seolah tidak terjadi apa-apa. Selisih beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka. “Enak aja lo nangkring di kasur gue. Minggir!” usir Rama saat melihat Dimas mengacak-acak kasurnya. Dimas menggumam. “Dasar tega!” Rama melemparkan kunci mobilnya ke meja belajar dan ikut rebahan di kasur. Wajahnya kusut tampak seperti orang yang sangat kelelahan. “Abis dari mana lo?” tanya Dimas berjalan membuka gorden. Rama mengucek kedua mata dengan lengannya. “Nganterin Della.” Terdengar kekehan kecil dari mulut Dimas. “Dan jam setengah sembilan baru pulang?” “Iya.” Dimas membuka pintu balkon lalu bersandar di ambang pintu menatap luar. “Nggak bisa bayangin kalo gue jadian ama si Della,” rutuknya. “Bakal kempes dompet gue, mah.” Tidak ada jawaban dari Rama. Dilihatnya cowok itu sudah tertidur di atas kasur. Tanpa perlu mengganti pakaian. Dimas menggelengkan kepala lalu mengambil kontaknya dan berjalan keluar kamar. Tak lupa untuk mematikan lampu. . === . Dimas sedang menyandar pada dinding sekolah. Ditatapnya satu per satu cewek yang baru saja datang. Rupanya ia sedang menunggu seseorang. Di sampingnya sudah berdiri Rama dengan handphone-nya. Cowok itu baru saja diseret Dimas untuk menemaninya menunggu Febri. Rama yang malas berdebat di pagi hari pun cuma bisa pasrah. Itung-itung bantuin teman yang lagi mabuk cinta dapet pahala. Febri berjalan tergesa-gesa menuju gerbang sekolah karena tinggal lima menit lagi bel akan berbunyi. Dimas yang sudah setia menunggu di balik pilar langsung menepuk-nepuk pundak Rama. “Ram, Ram. Itu dia!” seru Dimas. Rama hanya melirik Dimas. “Ya udah, sih.” Febri mengembuskan napas lega begitu melewati gerbang sekolah. Langkahnya mulai teratur. Cewek itu berjalan hingga muka Dimas mengejutkannya dari balik pilar. “Ya Allah, Dimaaas, ngagetin tau nggak?” seru Febri sambil tertawa. Dimas mendeham. “Lo … apa kabar?” Febri mengerutkan dahi melihat Dimas cengar-cengir sendiri. “Baik?” “Loh? Bukannya lo habis jatuh ya?” Muka Dimas berubah menjadi khawatir. Febri dibuat bingung olehnya, sedangkan Rama hanya bisa menutup wajahnya malu. “Gue? Jatuh? Jatuh dari mana coba?” Dimas mendeham lagi. “Bukannya … lo bidadari jatuh dari surga?” “Eaaa!” seru Tsania saat cewek itu tidak sengaja mendengarkan gombalan basi dari Dimas. “Apaan, sih, Dim?” kekeh Febri. “Basi tau nggak?” Rama langsung tertawa kecil mendengar tuturan terakhir dari Febri. Cewek itu ikut senang mendengar Rama tertawa karenanya. Dimas merutuki dirinya sendiri dalam hati. “Udah, deh, Dim. Pagi-pagi udah s***p,” kata Febri. “Gue kelas ya.” Cewek itu meninggalkan Dimas yang mukanya udah bete pol-polan. Tsania yang melihat Dimas gagal modus cuma bisa ngakak sambil megangin perut. “Makanya Dim, yang romantis dikitlah. Yakali digombalin kek gitu,” tepuk Tsania di pipi Dimas. “Setidaknya diriku pernah berjuaaaang.” Dimas tanpa malu langsung menyanyikan lirik lagu milik Last Child. Rama lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala. “Apaan berjuang?” sahut Tsania. Dimas menoleh. “Eh, Monyong, gini-gini gue udah berusaha ngedeketin dia, loh. Gue anter pulang, ke toko buku, terus—” Tsania langsung menyahut lagi. “Monyong-monyong pala lo. Gue senior lo inget! Lagipula kan elo sendiri yang modus pengen nganterin dia, bukan dia yang pengen dianterin elo!” “Ck, ah! Tauk deh.” Dimas melingkarkan kedua tangannya di depan d**a. “Cepetan gebet,” kata Rama memperingatkan, “sebelum gue yang ngegebet.” Rama mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Dimas yang mukanya kembali bete. Lalu ia berjalan kembali ke kelas. “Awas aja lo, Ram!” seru Dimas. Tsania menatap mata Rama sebelum cowok itu pergi, berusaha menemukan keseriusan di balik ungkapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN