Di toilet, Febri menatap dirinya sendiri di depan cermin. Seragam yang masih rapi, ikatan rambut yang cantik, namun wajah yang ditekuk-tekuk. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk. Sejujurnya, hatinya masih terasa perih. Foto itu masih terbayang-bayang di otaknya, menghantui tidurnya semalam. Febri nggak habis pikir. Dirinya begitu terlena dengan sikap manis seorang Rama. Hingga ia tak menyadari bahwa jalan terakhir yang ia pijak adalah jurang yang sangat dalam. Febri terjatuh sangat dalam. Dipenuhi kegelapan. Sunyi. Tidak ada apa-apa. Ia hanya akan terus memandang langit biru yang pernah membuatnya tersenyum sepanjang hari, selagi dirinya terus jatuh ke dalam jurang. Udah dimanfaatin Dimas, di-PHP Kak Rama lagi. Nasib gue sepertinya menyenangkan bagi Semesta. Lagi. Butiran air itu

