Bab 30: Musuhan dengan Erina

1522 Kata

Esoknya, Febri turun dari angkutan umum dan berjalan cepat menuju rumah seseorang. Rumah besar itu tampak tidak ada penghuninya. Kosong. Mobil pun tidak ada. Di bawah langit mendung, Febri celangak-celinguk mencari keberadaan seseorang sebelum ia menekan bel. Pas banget ya, langit dan hati gue sama-sama mendung. Sudah sepuluh menit menunggu, masih tidak ada yang keluar. Kebetulan, tetangga yang mendengar bunyi bel tersebut keluar. Memastikan rumah yang dititipkan padanya baik-baik saja. “Iya? Ada apa, ya?” Febri terkejut dan memalingkan wajahnya menatap seorang gadis muda nan tinggi yang keluar dari rumah sebelah. “Oh, itu … saya sedang mencari Dimas.” “Dimas? Bukannya dia masih di Belanda, ya?” Febri melotot. “Hah?! Belanda?!” Gadis itu menatap Febri takut-takut. “Bentar, kamu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN