Esoknya, Febri turun dari angkutan umum dan berjalan cepat menuju rumah seseorang. Rumah besar itu tampak tidak ada penghuninya. Kosong. Mobil pun tidak ada. Di bawah langit mendung, Febri celangak-celinguk mencari keberadaan seseorang sebelum ia menekan bel. Pas banget ya, langit dan hati gue sama-sama mendung. Sudah sepuluh menit menunggu, masih tidak ada yang keluar. Kebetulan, tetangga yang mendengar bunyi bel tersebut keluar. Memastikan rumah yang dititipkan padanya baik-baik saja. “Iya? Ada apa, ya?” Febri terkejut dan memalingkan wajahnya menatap seorang gadis muda nan tinggi yang keluar dari rumah sebelah. “Oh, itu … saya sedang mencari Dimas.” “Dimas? Bukannya dia masih di Belanda, ya?” Febri melotot. “Hah?! Belanda?!” Gadis itu menatap Febri takut-takut. “Bentar, kamu

