Bab 31: Bangun dari Mimpi

1906 Kata

Hujan sudah mereda, hanya menyisakan buliran air hujan di dedaunan. Kendaraan lainnya sudah berlalu-lalang dengan lancar. Febri dan Erina berpindah duduk ke tepi trotoar—dengan bangku kayu dari warung bakso tadi—sambil memandang ke arah kendaraan-kendaraan yang melintas. Selagi perut sudah kenyang, tidak akan ada masalah. “Terus, kita nunggu apaan?” tanya Febri. “Entah. Kalo perut gue kenyang, penyakit mager akut stadium akhir gue kumat. Efeknya, gue cuma pengen diem aja di sini,” kata Erina. Febri terkekeh. “Kalo gue mah perut kenyang, penyakit ngantuk akut gue kambuh. Dan sekarang rasanya gue pengen tidur aja di sini.” “Stop! Sebelum lo tidur, lo harus cerita dulu ke gue. Apa yang terjadi sama lo ketika kita sedang bermusuhan.” Erina mulai menginterogasi. Seketika, Febri teringa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN