Saat melangkah ke area parkiran, tubuh Rama langsung saja terhuyung ke depan. Ia menoleh ke belakang dengan ekspresi bertanya-tanya. Lagi-lagi Dimas. Rama memasang wajah bete sambil melanjutkan jalannya.
"Ram." Dimas menyentuh pundak Rama, lalu berjalan sok akrab seperti layaknya sepantaran.
Padahal di SMA Harmony Internasional ini siswanya menganut sistem senioritas. Lihat aja tuh kelompok tertinggi di SMAHI alias kelompok tim paduan suara Harmony Voice. Nggak tersentuh sama sekali. Pengurusnya terdiri dari para murid pilihan kelas 12. Kebutuhan mereka selalu jadi prioritas di SMAHI. Apalagi kalo lagi rebutan makanan enak di kantin. Beuh! Nggak perlu ikut desak-desakan, tim Harmony Voice selalu didahulukan.
Namun tidak dengan Dimas dan Rama. Mereka berdua bodoh amat dengan yang namanya senioritas.
"Lo kenal Febriana?"
Rama tidak begitu mengindahkan pertanyaan Dimas—adik kelas sekaligus sohibnya—walaupun ia cukup kaget mendengar Febriana menjadi topik pembicaraan saat ini.
"Kayaknya gue beneran suka dia deh." Dimas tersenyum sendiri sambil menghadap langit seolah terdapat bayangan cewek itu di angkasa.
"Terus?" Rama menaiki motornya lalu memakai helm.
"Bantuin gue deket sama dia dong!"
Dimas berganti posisi menjadi menghadap Rama. Sesaat kemudian, matanya melebar melihat seorang cewek yang baru saja dibicarakannya berlari ke arah mereka berdua.
Rama yang memperhatikan ke mana sorot mata Dimas pun ikut menoleh ke belakang. Cewek itu, Febriana, tengah berlari dan sepertinya menuju ke arah mereka berdua.
"Kak Rama!"
"Hai." Dimas menyahuti sapaan sambil tersenyum pada Febri.
Febriana terengah-engah sambil memegang lututnya yang terasa nyeri karena mengejar Rama dan Dimas yang jalannya super cepat. Febri tersenyum ke arah Dimas, oknum yang membuat Febri pingsan di tribun saat itu.
"Ada apa, Feb? Nyariin gue?" Dimas memulai candanya.
Febri tak menggubris candaan Dimas melainkan langsung merogoh sakunya dan mengambil uang lembaran lima puluhan. Cewek itu menyodorkan pada Rama.
"Buat?"
"K-kan kemarin saya utang," jawab Febri kembali gerogi. Entah kenapa tiap kali berada di dekat Rama, ia tidak bisa bersikap biasa, beda sekali bila di samping Dimas. Rasanya biasa saja.
Rama mengambil uang tersebut dan mengangguk tanda terima kasih. Febri ikut mengangguk sambil menggaruk tengkuknya.
"Lo pulang sama siapa?" tanya Dimas berharap cewek itu dapat ia antarkan sebagai modus awalnya agar bisa dekat dengan Febri.
"Harusnya sih sama Erina, tapi dia tadi ada rapat OSIS buat pensi."
Dimas langsung menoleh ke arah Rama yang tidak ikut bergabung dengan pembicaraan Febri dan Dimas. "Ada rapat loh, Ram! Kita bolos nih?"
Rama mengangguk, lalu menyalakan mesin motornya. "Itu rapat buat junior OSIS. Maksudnya, anggota OSIS yang masih kelas sepuluh."
"Lah, kan gue junior OSIS," tunjuk Dimas pada dirinya sendiri.
"Ya urusan lo lah." Rama menyalakan mesin motornya dan bersiap ngacir. "Dah, gue cabut."
Rama lebih dulu meninggalkan Dimas di parkiran dengan Febri.
"Ya udah, gue bolos deh," cengir Dimas. Dalam hati, cowok itu ingin menikmati pedekatenya dengan Febri.
Dan semoga kesampaian.
.
===
.
Semua orang tahu apa yang sangat disukainya. Bahkan hal ini sudah menjadi sebuah kegiatan primer yang wajib dilakukannya. Alasannya sih ... buat cari jati diri.
Nggak cowok namanya kalo nggak daki!
Kutipan di kamarnya itu dibuatnya beberapa tahun yang lalu dan sekarang sudah menjadi prinsip dirinya. Ya, Rama suka mendaki. Beberapa gunung di Jawa Timur sudah pernah didakinya.
Gunung Penanggungan, salah satu contohnya. Gunung ini berada 55 kilometer dari Surabaya ke arah dua kabupaten, Mojokerto dan Pasuruan. Puncak gunung ini sudah pernah ditaklukannya bersama kawan pendakinya yang tak lain tak bukan adalah teman sekelasnya.
Tsania namanya. Satu-satunya cewek yang ikut mendaki di antara Naufal dan Dimas. Tapi, hal itu nggak jadi masalah. Toh, mereka saling percaya satu sama lain.
"Now watch me whip. Watch me nae nae." Rama bersenandung sambil memutar-mutar kunci motornya lalu melemparnya ke atas meja belajar.
Tasnya ia geletakkan langsung di dekat lemari baju dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tangannya bergerak untuk menyalakan pendingin kamar agar istirahatnya nyenyak. Rama paling tidak bisa tidur dalam kondisi panas.
Saat mata mulai terpejam karena rasa dingin yang menyentuh kulitnya, pintu kamar terbuka.
"Rama, itu ada Tsania di ruang tamu."
Terpaksa cowok itu harus menunda istirahatnya. "Suruh ke kamar aja, Ma. Aku lagi mager ke ruang tamu."
"Pintunya dibuka aja tapi ya." Mama tersenyum dan membiarkan pintu kamar terbuka lebar, lalu beranjak memanggil Tsania. Cewek cantik yang selalu berpakaian modis itu memasuki kamar Rama dan langsung berteriak nyaring.
"Ramaaaa!"
Rama langsung menutupi kepalanya dengan bantal. Namun cewek bersuara nyaring itu terus berteriak. "Lo kenapa kabur pas tadi rapat? Kita itu lagi bahas buat pensi, kok lo malah kabur. Mana Dimas ikut-ikutan pula."
Rama langsung mengalihkan bantal yang menutupi kepalanya. "Kan itu buat junior doang. Ngapain gue harus capek-capek hadir."
Tsania terkekeh. "Iya sih...."
Cewek itu memiliki mata yang cukup belo. Jadi saat matanya memandang sekeliling kamar Rama, wajahnya terlihat imut. Tak jarang Rama merasa gemas dan langsung mengacak-acak rambut cewek itu.
"Jadi inget waktu kita ke 1.653 mdpl." Tsania teringat saat mereka berhasil sampai di puncak tertinggi gunung Penanggungan. "Kapan daki lagi, nih? Mumpung kita banyak waktu kosong."
Rama mengambil buku catatannya di meja sampingnya. "Gue sih rencana mau ke Carstensz Pyramid."
"Bohong banget!" ledek Tsania. "Ortu lo juga kagak izinin kaliii."
Rama tertawa singkat. "Gue kan bilangnya rencana. Bisa nanti-nanti waktu gue udah gede dan tabungan cukup. Kalo rencana untuk waktu dekat ini ... gimana kalo Arjuno?"
"Ikuuuuttt!!!" teriak Tsania lagi-lagi membuat telinga Rama panas mendengarnya. "Coba lo hubungi Naufal sama Dimas ke sini. Ayo dirundingin!"
Rama menurut saja dan langsung membuka aplikasi hijau di handphone-nya. LINE. Jari-jarinya menekan grup yang dibuatnya khusus untuk kawan-kawan pendakinya.
Rama: Rek, kapan hiking-an maneh?
LINE! Ponsel Tsania langsung bergetar tak lama setelah Rama menekan tombol send. Cewek itu membacanya melalui papan notif.
"Loalah Suroboyone metu," tawa Tsania setelah membaca pesan grup dari Rama. Sedangkan cowok itu hanya tersenyum tipis.
"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung," jawab Rama kembali merebahkan tubuhnya, sedangkan Tsania duduk di kursi meja belajar.
LINE!
Naufal: Gue, sih, tinggal gas pol.
Dimas: Bersisik! Nggak tau gue lagi nge-date?
Rama dan Tsania saling bertatapan saat membaca balasan Dimas. Nge-date? Tumben banget Dimas nge-date? Cowok itu kan sebelas dua belas dengan Rama. Sama-sama dingin ke cewek.
Tsania: Jiah, bau pajak jadian, nih.
Dimas: Doain ajalah. Masalah pajak gampang.
Naufal: Lo? Nge-date? Emang ada cewek yang mau sama lo?
Dimas: Ngehina lo? Gini-gini gue blasteran Jepang-Belanda tau! Bukan tanpa alasan gue dijadikan cowok paling menggiurkan nomor dua di SMAHI!
Tsania: E.W.H!
Naufal: Nomor satunya siapa emang?
Dimas: Ya siapa lagi kalo bukan si Rama. Nggak usah senyum-senyum lo, Ram. Gue tau di balik sikap dingin dan cuek, lo tuh sebenernya narsis berat!
Rama: Mana ada.
Tsania: Mending gue leave group aja dah.
Tsania terkekeh membaca semua balasan dari grup. Selalu seperti ini. Satu topik cabangnya ke mana-mana, entar ending-nya pasti nggak bakal nyambung sama topik awal.
Anak Remaja.
Rama: Gue emang ganteng sih. Udah akuin aja.
Dimas: Tuh kan narsiiis!
Naufal: Ramaaa!!! I love youuu!
Tsania: E.W.H! (2)
Dimas: Ramaaa!!! I love youuu!
Tsania: E.W.H! (3)
Rama: Thanks, Bro. I love me too.
Tsania memandang Rama dengan tatapan masa-iya-lo-ganteng. Rama membalas tatapan Tsania dengan satu kedipan mata. Tsania langsung menatapnya tajam.
Tsania: Lo nge-date siapa, Dim?
Dimas: Yang pasti cakep banget! Ini gue lagi nganterin dia ke toko buku.
Tsania: Kencan kok di toko buku. Emang siapa sih? Spill nama!
Dimas: Febri. (Read by 3)
Naufal: Wooo! Maju terus, Bray! (Read by 2)
Tsania: Nggak kenal. (Read by 2)
Tsania mengunci layar handphone-nya dan langsung saja ringtone Line bunyi kembali. Tsania mengembuskan napas dan membuka grup chat tersebut.
Dimas: Ini siapa yang nge-read gue? 3 orang yang bales 2. Jahat lo, Ram! Dukung kek gue!
Tsania melirik ke arah Rama yang melingkarkan kedua tangannya di belakang kepala sebagai sandaran tidurnya. Matanya masih menghadap ke langit-langit kamar, sedangkan handphone-nya masih menyala di sampingnya.
Tsania merasakan ada sesuatu di antara mereka. Firasat cewek selalu benar, kan?
"Ram," panggil Tsania mendekatkan kursinya ke sisi ranjang. Rama memiringkan sedikit kepalanya. "Dimas minta didukung, tuh, buat deketin Febri siapa nggak tau," lanjut Tsania memancing.
"Hm." Mata Rama kembali menghadap atas.
Tsania tersenyum miring lalu mendorong lengan Rama. "Cemburu ngomong aja, Bray!"
Rama melirik sinis ke arah Tsania. "Enggak banget."
"Masa, sih?"
"Iya."
"Ah masa?"
"Ya."
Tsania tertawa lalu matanya kembali menatap handphone-nya. "Febri itu yang mana, sih? Kok kayaknya wow banget sampe direbutin dua cogan."
"Lo ngaku juga kalo gue cogan," sahut Rama dengan nada datar dan muka lempeng. Lalu tangannya bergerak untuk mengambil buku Kahlil Gibran; Adakah Cinta Abadi Dalam Sanubarimu.
"Ah terpaksa aja kok."
Tsania sudah biasa melihat Rama membaca buku kumpulan sastra. Sekilas tampak seperti kutu buku, padahal di kelas tidur mulu. Tapi kalau sudah terlanjur niat buat belajar, semangat Rama ini kuat. Dia bakal memaksa anak satu kelas buat ngajarin dia sampai bisa. Nggak mau tahu.
Pernah suatu ketika, Rama sedang berada di les-lesan. Berhubung otaknya nggak pernah nyambung dengan pelajaran kimia, Rama langsung memaksa Intan untuk menjelaskan semuanya dari awal. Intan yang merasa terganggu oleh desakan Rama pun akhirnya mengalah. Sayangnya setelah satu jam berlalu, tetap tak ada satu bab pun yang menempel di otak Rama. Intan yang sudah lelah dengan Rama hanya bisa menangis di bangkunya. Yah, Rama memang payah banget kalo masalah kimia.
Timbul niat jail dalam benak Tsania. Gadis itu emang kepo luar biasa dan selalu mau tahu rahasia.
"Eh, gila! Dimas nembak Febri!" teriak Tsania heboh sambil memelototi handphone-nya.
Mendengar itu, Rama langsung melempar bukunya dan mendekat. Lalu merebut handphone Tsania.
"Eaaaa," goda Tsania saat kawannya masuk ke dalam perangkapnya.
"Ck, ah!" decak Rama malas.
"Lo suka Febri tapi lo pedekatenya sama Della. Nasibnya Della gimana, tuh?" kata Tsania mengingatkan gebetan rahasia Rama dari kelas sepantaran. "Katanya kalo kelas kita menang pensi lo bakal nembak Della? Inget janji lo itu!"
"Apa sih? Lo nggak tau apa-apa! Minggir gue mau tidur." Rama mendorong tubuh mungil Tsania keluar kamar.
Tsania terus terkekeh melihat Rama menghindari topik yang dibicarakan. Lalu tak lama pintu tertutup dan terkunci.