Bab 6: Don't Trust Boys

1040 Kata
Sunyi. Sepi. Hanya ketukan pensil di atas meja yang sedari tadi mengisi kesunyian perpustakaan. Febri duduk sambil menaruh kepalanya di atas tangan. Sepertinya merangkum satu bab yang tebalnya hampir separuh buku itu cukup membuat jari-jari kram. Erina yang juga merasakan kram di jarinya pun berhenti untuk menulis. Dia lebih tertarik untuk membuka handphone dan ketawa-ketawa sendiri ngelihatin postingan i********:. Febri yang merasa risi karena tawa Erina yang nggak ada habisnya pun langsung merebut handphone-nya dan mematikannya. “Apaan sih, Feb? Rese lo!” Erina berusaha merebut kembali handphone-nya, namun langsung dijauhkan oleh Febri. “Lo yang rese! Dari tadi ketawa nggak jelas. Autis kalo udah pegang handphone.” “Balikin Feeeb!” Erina berdiri dan mendekat ke Febri untuk mengambil handphone-nya di balik punggungnya. “Ogah!” Erina merengus kesal lalu kembali ke tempat duduknya dan membenamkan mukanya di atas lipatan tangan. Tak lama, beberapa cowok memasuki perpustakaan dan berjalan santai melewati mereka berdua. Febri yang masih asyik menjaili Erina pun langsung berhenti ketika melihat beberapa kakak kelas duduk persis di depannya. Bukan secara face to face, namun duduk di meja lain di depan Febri. “Eh, Rin, bangun deh,” tepuk Febri pada bahunya dan langsung mendapatkan tatapan kesal dari Erina. “Itu… yang pake jam tangan hitam itu temennya Kak Balok Es, kan?” Erina langsung melihat ke arah yang dimaksud Febri. Cewek itu menyipitkan mata. “Kak Balok Es siapa?” “Kak Rama.” “Sejak kapan dia ganti nama jadi Balok Es?” tanya Erina bingung. “Itu panggilan kesayangan gue.” Febri memutar bola matanya. “Itu temennya, kan?” Erina mengangguk. “Kak Naufal? Kenapa?” Febri tersenyum lebar dan meremas jari-jari Erina. “Berarti… sebentar lagi pasti ada Kak Balok Es.” “Yakin banget lo,” cibir Erina. “Yakinlah. Gue sering ngelihat Kak Rama bareng temennya itu selain sama Dimas.” Erina hanya mengendikkan bahu dan mengambil handphone-nya secepat kilat dari tangan Febri selagi cewek itu sedang fokus menunggu Rama. Febri menggigit bibir bawahnya begitu melihat Rama datang sambil tertawa bersama satu temannya dan langsung duduk bergabung dengan yang lainnya. Sudah gue duga, batin Febri senang. “Feb! Katanya lo nyariin Kak Rama?” kata Erina tiba-tiba dengan suara yang cukup keras. Febri panik dan langsung membekap mulut Erina. Sayangnya, suara keras Erina sudah sampai ke telinga para senior itu. Akibatnya mereka serempak melirik ke arah Erina dan Febri. “Sst… kecilin suara lo, elaah.” Febri hampir menangis melihat tingkat sahabatnya. Erina tertawa dalam mulut terkatup. “Dia ngeliatin lo, tuh.” “Sialan!” umpat Febri sedikit jengkel dengan kelakuan Erina. “Lo yakin suka sama dia?” bisik Erina dengan nada serius yang secara tiba-tiba. Febri terdiam. Ia sendiri bingung apakah dirinya memang beneran suka atau tidak. Yang ia tahu, ia bisa tersenyum sepanjang hari walau hanya dengan menatapnya. “Dia cowok populer, Feb. Setahu gue, cowok populer itu bukan selera lo. Bukannya lo paling benci sama cowok populer?” Febri hanya bisa mengangguk. Perkataan Erina memang benar. Seumur-umur, Febri tidak pernah menyukai cowok-cowok populer. Karena menurutnya, cowok populer itu udah pasti ngerepotin banget. Nggak akan ada kedamaian deh kalo pacaran sama cowok populer! Apalagi Febri kenal banget dengan para cowok populer di sekolahnya ini. Selain pada sombong, mereka juga diskriminasi banget! Kalo derajatnya nggak sesuai, pasti bakal dijauhin. Paling parah sih bakal di-bully secara tidak langsung. Nggak terlalu kaget juga, sih. Secara sekolah yang mereka tempati ini berbasis internasional, punya reputasi yang elit. Walau swasta, nggak semua anak bisa jadi siswa di SMA Harmony Internasional. Hanya yang pintar, kaya, terkenal, punya koneksi, dan berprestasi saja yang bisa masuk. Febri jelas masuk di kategori siswa yang pintar (lupakan soal fisika itu, Bu Cinta emang nggak nakar banget kalo ngasih soal). Keluarga Febri berkecukupan. Kalau Erina ... keluarga dia kaya banget! Febri pernah berkunjung ke rumah Erina yang super besar dan keren bak istana. Saat berkunjung, rasanya seperti putri kerajaan. Walau begitu, Febri dan Erina itu down to earth. Nggak ikut masuk kelompok sosial nggak jelas, mereka justru membuka diri untuk berteman dengan siapa saja. Sejujurnya, Febri agak tertekan dengan kehidupan di SMAHI. Gara-gara terlalu down to earth, kehadirannya justru terlihat seperti bayangan. Tapi entah mengapa, sejak bertemu dengan Rama, kehidupannya berubah. Sepertinya, Febri melupakan satu hal terpenting bahwa perasaan suka tidak akan pernah memandang di mana ia berada, atau siapakah dia. Perasaan suka timbul begitu saja, kapan pun, di mana pun, dan pada siapa pun. Yang mana, kita tidak akan pernah tahu perasaan suka itu akan jatuh ke siapa. Febri mendesah pelan. Ia menatap Erina sekilas. “Mungkin, gue harus merobohkan prinsip gue untuk nggak menyukai cowok populer.” “Berarti lo juga harus siap untuk sakit hati. As your dad says, don’t trust boys.” “Dia kan beda! Siapa tau dia nggak akan buat gue sakit hati.” “Lo bisa ngomong kayak gitu, karena lo sedang jatuh cinta,” balas Erina. “Satu hal. Orang akan melupakan bagaimana sakitnya sakit hati ketika mereka jatuh cinta.” “Bukannya itu memang tujuannya? Bukankah orang jatuh cinta untuk melupakan sakitnya sakit hati?” Erina terdiam. Tidak mampu mengeluarkan kata-kata untuk membalas perkataan Febri. Rasa yang paling dihindarinya muncul kembali di d**a Erina. Ia hanya tidak ingin sahabatnya merasakan apa yang kini ia rasakan. Sakitnya sakit hati. “Lo yakin? Lo tau, kan, kalo Kak Rama itu orangnya cuek, dingin. Lo tau, kan, risiko yang bakal lo dapet kalo lo suka sama dia? Bakal dihujat netizen! Keras tau kehidupan di SMAHI!” Febri tidak sepenuhnya sependapat sama Erina tentang Rama. Waktu itu Rama bisa tau kalo ternyata Febri lapar. Berarti, kan, setidaknya Rama masih punya rasa perhatian sama sekelilingnya. Nggak selamanya dingin itu menyakitkan, bisa jadi dingin itu awal dari adanya rasa hangat. “Kemarin-kemarin lo dukung gue. Kenapa sekarang jadi nggak suka?” tanya Febri heran kepada sahabatnya. “Gue cuma nggak mau lo sakit hati, Feb. Gue ini sahabat lo.” Febri tersenyum. Kejadian kemarin malam terbayang lagi di benaknya. “I’ll be fine.” Tanpa ia sadari, dari kejauhan Rama diam-diam curi pandang ke arahnya. Dalam hati ia juga tersenyum mengingat kejadian tadi malam. Andai Febri bisa melihat saat Rama sedang memandanginya dengan tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN