DESA MATI

1781 Kata
Leon dan Darren sudah sampai di desa mati , desa ini banyak rumah-rumah kosong dan banyak makam yang menghiasi depan rumah kosong Sunyi , seram , banyak kabut menyelimuti desa itu sehingga pandangan mata Leon dan Darren terbatas , Leon dan Darren tetap berjalan lurus ke depan agar bisa cepat keluar dari desa kematian ini “Berjalan saja , anggap saja kau melewati hutan” ujar Darren lewat pikiran “Aku tahu itu! Eh apa kau lihat ada kakek-kakek di depan sana” ujar Leon Leon dan Darren langsung berlari ke arah kakek-kakek itu , Leon dan Darren memanggil-manggil kakek itu sehingga kakek itu melihat ke arah mereka “Kakek! Kakek ngapain di sini?” tanya Leon Leon dan Darren terkejut ketika melihat setengah badan kakek itu terlihat kerangkanya saja , Leon dan Darren ingin berlari ketakutan tapi kaki mereka seakan-akan lengket di tanah “Aku penghuni di desa ini nak , kalian yang punya tujuan apa ke sini?” tanya kakek itu Seakan-akan ada lem di mulut mereka berdua jadi mereka tidak bisa menjawab pertanyaan sang kakek , sang kakek menyadari jika mereka berdua sangat ketakutan melihat dirinya “Jangan takut , saya enggak makan orang” ujar kakek itu tersenyum ramah tapi yang di lihat oleh Leon dan Darren adalah senyuman mengerikan Jika ada pilihan menghadapi rough apa kakek ini , mereka berdua akan lebih memilih menghadapi rough bukan kakek ini “Ka-ka-kami ha-hanya nu-num-numpang l-le-lewat ke-kek” ujar Leon terbata-bata “Oh tumpang lewat , kalian bisa berjalan ke sana? Kalau bisa ikut sebentar akan kakek kasi tahu kisah desa ini . Kakek merasa kalian bisa menolong kakek” ujar kakek itu setelah memastikan Leon dan Darren bukanlah orang dengan niat jahat Leon dan Darren saling pandang , memastikan bahwa mereka bisa berjalan setelah membuang rasa takut yang menerpa mereka “Da-Darren?” panggil Leon tapi dengan nada menyuruhnya bergerak dulu Darren menatap Leon sinis , Darren berdehem untuk menghilangkan rasa takutnya , Darren mengambil botol minum lalu meminumnya untuk menepis rasa takutnya “Baiklah kek , jika kami bisa bantu akan kami bantu tapi jika tidak kami mohon maaf sebesar-besarnya” ujar Darren “Terima kasih , ayo ikut kakek” ujar kakek itu berjalan dulu Setelah kakek itu membelakangi mereka berdua barulah Leon bisa bergerak lagi , Leon menghirup nafas dengan rakus karena ketakutan dia hampir lupa untuk bernafas “Kau gila , kenapa kau mengiyakan perkataan kakek itu?” tanya Leon tidak percaya “Aku hanya ingin menolong , sepertinya dia sudah lama terjebak di kampung ini” jawab Darren Leon dan Darren mengikuti kakek itu , Leon dan Darren berusaha untuk tidak terlalu takut yang membuat langkah mereka semakin berat “Nah ini rumah kakek , ayo duduk di sini” ujar kakek itu menunjukkan satu rumah sederhana Leon dan Darren duduk di teras rumah kakek itu , kakek itu juga ikut duduk di depan mereka berdua , kakek itu melihat Leon dan Darren lalu terdiam ketika melihat ke arah Leon “Kau sangat mirip dengan orang yang aku kenal sdi kala aku masih hidup dan muda dulu” ujar kakek itu yang membuat Leon dan Darren terkejut Kakek di depan mereka ternyata mayat hidup , Leon dan Darren berusaha untuk tidak kabur dari kakek di depan mereka , Leon dan Darren berulang kali menghirup oksigen dengan rakus “Jangan takut , seharusnya kami mati dari dulu namun semenjak pedang lors tertancap di bukit kunba kami tidak bisa mati” jelas kakek itu “Kami di kutuk! Kami mati tapi hanya fisik kami , kami tidak bernapas tapi bisa hidup selayaknya makhluk yang bernapas , kalian lihat kerangka ini? Daging kami sudah di makan oleh makhluk-makhluk pengurai ketika kami tidur” jelas kakek itu dengan sedih “Kenapa kakek selaku bilang kami?” tanya Leon yang mulai iba dengan sang kakek “Karena aku tidak sendiri nak , banyak yang malu menampakkan wajah mereka . Mereka ada yang hanya kerangka , ada pula yang utuh namun sudah mulai membusuk” jawab kakek itu “Makam yang kalian lihat sebenarnya tempat kami tidur , berharap saat membuka mata kami sampai di surga” ujar kakek itu “Kakek kenapa pedang lors menjadi dampak pada kalian?” tanya Darren “Ini adalah kutukan akibat kesombongan dan keserakahan kami” jawab kakek itu “Bisa di jelaskan?” tanya Leon “Dulu ada seorang anak perempuan yang kesasar , anak perempuan berusia 7 tahun itu sangat terlihat cantik dan ramah , air mata yang menetes di matanya dia akan mengeluarkan permata yang dapat di jual dengan harga mahal Saat masih umur 7-9 tahun dia anak yang selaku di jahili oleh anak-anak desa karena ketika dia marah rambutnya selalu berubah warna menjadi merah menyala seperti api Dia di jahili sampai menangis membuat banyak permata di kampung ini bahkan permata itu di bagi-bagikan ke seluruh desa dan di jual di kota besar Pada ulang tahun yang ke 10 anak perempuan itu berhenti menangis walaupun di jahili , jika anak itu tidak menangis seluruh desa tidak akan bisa membeli emas Kepala desa mulai memikirkan cara agar anak perempuan itu bisa menangis karena dia mau membangun istana dan desa ini menjadi kerajaan bukan desa kecil lagi Anak perempuan itu mulai di jahili lebih kejam , rumah tempat tinggalnya di bakar , rambutnya di potong , bahkan menyileti tangannya , lebih gila lagi kepala desa ingin anak perempuan itu di perkosa Mendengar hal itu anak perempuan itu langsung marah dan bersumpah kalau kami akan membayar seluruh perbuatan kami selama 3 tahun ke dirinya Anak perempuan itu mengambil pedang lors dari pemindai besi , pemindai besi itu membuat pedang lors dari sisik 3 naga legenda yang membuat pedang itu spesial Anak perempuan itu lari ke atas bukit kunba dan di kejar oleh pemuda desa , anak perempuan itu menangis namun bukan permata yang keluar tapi darah Anak perempuan itu mengutuk kami seluruh desa , selama pedang itu di bukit kunba maka selama itulah kami akan tersiksa , kami tidak mati namun fisik kami mati” cerita kakek itu dengan air mata berurai menyesali seluruh perbuatannya di masa lalu “Bagaimana kalian begitu kejam?” tanya Leon yang emosi , Leon tidak tahu ke mana hilangnya rasa takut tadi Leon tidak habis pikir , anak berumur 10 tahun agar dia menangis untuk mengeluarkan permata mereka berniat menyiksa dan mau memperkosanya “Ka-kami-“ “Aku tidak akan menolong kalian! Aku tidak akan membantu kalian! Kalian pantas mendapatkannya!” ujar Leon emosi “Tenanglah! Mereka sudah menyesal Leon” ujar Darren yang berusaha menenangkan Leon “Apa kau dengar itu Darren? Mereka demi harta mampu melakukan hal sekejam itu pada anak di bawah umur” ujar Leon “Mereka pantas mendapatkannya!” ujar Leon lagi Darren mengerti perasaan Leon namun itu lah manusia yang tidak pernah merasa puas dengan yang mereka punya , namun mereka sudah mendapatkan hukuman mereka “Aku akan tetap mencabut pedang itu , ketika kalian bebas aku berharap kalian tersiksa di dunia bawah! Andaikan saja aku mempunyai kenalan di dunia bawah sudah di pastikan aku menyuruhnya untuk menyiksa kalian sampai dunia kiamat” teriak Leon marah “Aku juga marah sepertimu Leon! Tapi kau tidak perlu berteriak kepada kakek ini! Kita akan cari anak itu dan tetap mencabut pedang lors! Kita suruh anak itu untuk tetap mempertahankan kutukannya!” ujar Darren “Ayo kita pergi” ujar Darren yang menarik Leon , aura Leon berubah menjadi ingin membunuh dan menghancurkan seluruh desa mati ini Desa ini tidak pantas di gambarkan di peta dan tetap ada , desa ini layaknya hancur lebur dengan tanah walaupun Leon tidak ingin tanah bercampur dengan orang-orang seperti mereka “Akan aku buat kalian menderita selamanya!” ujar Leon marah “Aku mohon bebaskan kami , kami menyesal , kami tidak sempat memperkosanya” ujar kakek itu “TIDAK SEMPAT? TIDAK SEMPAT KARENA DIA SUDAH LARI DULU KAN? KALAU DIA TIDAK LARI DAN MENGUTUK KALIAN SUDAH PASTI KALIAN AKAN MEMPERKOSANYA HANYA KARENA BERLIAN!” Teriak Leon marah “SUDAH SEPANTASNYA KALIAN HIDUP BEGINI , JALANI LAH SAMPAI DIA MEMAAFKANMU” teriak Darren sangat marah Leon dan Darren pergi dengan keadaan marah , mereka tidak percaya ada seseorang yang pikirannya sekejam itu Leon dan Darren membayangkan jika anak perempuan itu adalah adik mereka atau saudara mereka sudah di pastikan seluruh desa akan hancur saat itu juga “Aku bersumpah di atas tanah ini! Jika aku mencabut pedang lars aku akan tetap membiarkan kutukannya sampai anak perempuan itu memaafkan mereka sendiri” ujar Leon dengan sungguh-sungguh lalu menumpahkan darah di atas tanah desa kematian Seluruh penduduk yang mendengar sangat marah namun mereka tahu , mereka tidak akan mampu melawan Leon dan Darren , mereka juga sadar jika mereka salah Mereka hanya bisa diam dan menerima kenyataan , mereka hanya bisa menangisi dan menyesal atas perbuatan mereka Leon dan Darren satu-satunya harapan mereka namun harapan itu hancur ketika tahu Leon dan Darren sangat membenci perbuatan mereka Mereka tahu mereka pantas mendapatkannya , saat seperti ini intan berlian dan emas sudah tidak ada artinya lagi bagi mereka yang mereka inginkan hanya kata ‘aku maafkan’ dari anak yang mereka siksa dulu “Seharusnya mereka sadar jika mereka menyakiti perempuan sama saja mereka menyakiti ibu mereka dan anak perempuan seharusnya sadar jika mereka menyakiti laki-laki mereka juga menyakiti ayah mereka” ujar Leon “Tidak semua bisa berpikir sepertimu Leon , jika mereka bisa maka desa ini tidak akan disebut desa mati” ujar Darren yang membuat Leon menghela napas “Sekarang aku mengerti kenapa 3 naga menyuruh kita untuk mencabut pedang lors di awal latihan” ujar Leon yang membuat Darren melihat ke arah Leon “Selain untuk menguji kekuatan kita , kita juga banyak dapat pelajaran Darren , sudah berapa banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan ini” ujar Leon tersenyum tipis “Ya kau benar , semua ini pelajaran agar kita menjadi makhluk yang lebih baik , melakukan kesalahan itu wajar namun kesalahan yang di buat secara sengaja itu enggak wajar” ujar Darren “Jika sampai kau melakukan kesalahan saat sadar di saat itu lah aku akan membunuhmu” ujar Leon dengan tatapan datar “Kau sangat cocok menjadi raja , raja Leon!” ujar Darren bersemangat “Aku tidak suka menjadi raja , aku takut menjadi aib , tamak , lalu tidak bertanggung jawab” ujar Leon jujur “Aku yang akan menuntunmu , percayalah kau akan menjadi raja yang baik suatu saat nanti” ujar Darren meyakinkan hati Leon “Dalam mimpimu aku akan menjadi raja” ujar Leon kesal Leon dan Darren berjalan menuju bukit kunba , bukit itu akan memberikan kejutan untuk Leon dan Darren yang tidak akan mereka lupakan selamanya .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN