Pintar-pintar membagi waktu

1246 Kata
Tidak terasa selama satu bulan ini Mirai rajin berlatih dengan Aksa, lelaki itu juga mengatakan kalau Mirai sudah begitu piawai memegang dan memainkan biolanya. Tidak seperti saat pertama kali gadis itu memegang biola dengan begitu kaku, sekarang Mirai bak pemain profesional dan Aksa begitu senang sekali dengan pencapaian Mirai, gadis yang tidak mudah menyerah dan selalu terus berusaha untuk lebih baik. Selama satu bulan ini juga Mirai berusaha untuk memberanikan diri berbicara kepada orang tuanya perihal ia yang mendalami dunia musik dengan berlatih bermain biola. Tetapi memang belum memiliki kesempatan karena di sibukkan dengan pertunangan kakaknya, yang memang sudah menjalani hubungan selama dua tahun dan di tahun ini akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Hari ini acara pertunangannya dan Mirai ikut dalam memersiapkan segala hal yang di perlukan untuk acara kakak perempuannya. Mirai juga senang karena sebentar lagi Kak Ayu akan bersanding dengan seorang lelaki yang begitu menyayanginya dan bertanggung jawab kepada Kak Ayu. Meski dalam hubungan mereka kerap kali di warnai pertikaian kecil apalagi menjalani hubungan jarak jauh tetapi Mirai tahu dua pasangan itu saling membutuhkan dan begitu mencintai satu sama lain. Mengingat hari ini adalah acara pertunangan Kak Ayu dan Kak Heru –kekasih Ayu- Mirai mengatakan kepada Aksa bahwa mereka tidak bisa latihan seperti biasa dan Aksa pun memakluminya apalagi ada acara keluarga seperti itu tentu Aksa tidak bisa memaksa, meski ia begitu ingin melihat gadis yang selama satu bulan ini sudah membuat ia terbiasa akan kehadirannya dalam kehidupan Aksa. “Rai, aku jadi pengin juga gelar acara kaya gini.” Dewi yang sejak tadi duduk di samping Mirai dan mereka tengah menunggu kedatangan keluarga dari pihak lelaki malah mengatakan hal yang membuat Mirai menoleh dan berdecak. Pasalnya Dewi dan dirinya ini jomlo dan kenapa juga harus mengatakan seperti itu, iya sih tidak apa-apa tetapi kan seolah Dewi mengatakannya ingin menggelar acara yang sama di waktu dekat. “Ingat calonnya belum ada, lagian kenapa juga tiba-tiba ngomong kaya gitu, kaya mau besok gelar acara aja,” ucap Mirai membalas perkataan Dewi. Sahabatnya itu malah cekikikan, “Habisnya gemas banget lihatnya, pake ada temannya segala, kan aku jadi bayangin gitu bikin acara kaya Kak Ayu gini dan nggak usah ngeledek ya, iya tahu calonku belum ada, mentang-mentang ada calonnya.” “Siapa?” “Ya kamu lah, Rai. Kan udah ada calon doi, sebulan ini juga kelihatan makin dekat banget. Aku iri banget sama kamu, Rai. Dalam waktu dekat kamu udah nggak jomlo lagi dan aku merasa mengsedih sekali.” “Apa sih kamu, Wi. Kok ngomong seenaknya begitu, lagian siapa juga yang punya calon dan kalau yang kamu maksud itu Aksa, please ya Dewi sahabatku yang paling manis sekampung kita, dia teman doang. Aku belajar musik dari dia dan kamu tahu itu,” ucap Mirai dengan memelankan perihal musiknya karena tidak ingin ada yang mendengar. “Iya deh iya, tapi Aksa ganteng ya, Rai. Kalian cocok deh,” celetuk Dewi yang membuat Mirai terdiam. Cocok dari mana? Lagian mereka benar-benar teman kan? “Dan nggak usah mengelak kalau emang kalian sama-sama suka, nggak ada ya ceritanya pertemanan antara cewek sama cowok yang mulus-mulus aja kaya jalanan tol, karena kemungikinannya hanya ada dua, kalau nggak cinta sepihak, ya saling mencintai.” “Haduh, Wi. Kamu kalau bahas cinta udah kaya orang yang berpengalaman banget, lancar banget kamu ngomong, Wi.” “Dewi gitu lho! Walau aku jomlo dari orok tapi kalau perihal asmara percintaan dan perbucinan, aku luamayan jago. Ya ini juga karena sering nonton film roman sama baca novel sih, pengalaman dari sana.” “Tapi kamu nggak usah asal tebak ya, gimana pun aku sama Aksa baru kenal sebulan ini dan murni aku belajar dari dia tentang biola, nggak ada perasaan apa pun.” “Bukan nggak ada, Rai. Tapi belum ada, percaya sama aku kalau kemungkinannya hanya ada dua. Lihat aja nanti, saling jatuh cinta atau cinta bertepuk sebelah tangan.” **  “Akhir-akhir ini kamu kok sering bareng pulang telat, Dek. Emang ada kegiatan apa di kampus?” Hampir saja Mirai tersedak mendengar pertanyaan dari ibunya, memang kalau lama-lama akan menimbulkan kecurigaan mengingat ia yang kerap kali pulang terlambat, tidak seperti biasanya. Jangan salah, orang tuanya tahu jam berapa ia pulang dan selesai dari kampus, mengingat memang tidak pernah ada kegiatan apa pun yang Mirai ikuti, bisa di bilang ia sejenis mahasiswa kupu-kupu alias kuliah-pulang. Tetapi sekarang kerap kali pulang dari jam biasanya dan Bu Gita tentu saja menaruh curiga kepada anak bungsunya seperti ini. “Banyak tugas selompok, Ma. Kan udah mau akhir semester dan mau ujian juga, Mama tahu sendiri biasanya memang banyak tugas kan kalau di akhir.” “Tapi ini sering banget, emangnya nggak bisa kamu kerjain di rumah sekali-kali ajak teman kamu biar Mama tahu gitu, selama ini yang Mama tahu cuma Dewi aja tuh teman kamu, itu pun karena kalian udah saling kenal lama dan tetanggaan.”     “Teman-temannya lebih sering ngajakin di kampus, biar nggak makan waktu lagi di jalan katanya. Jadi ya udah kita setuju aja, mending di kerjain di kampus, sekalian kalau ada buku yang di perlu bisa langsung ke perpus kan.” Bu Gita tampak mengangguk membenarkan, hal tersebut membuat Mirai diam-diam bernapas lega, semenjak sembunyi-sembunyi bermain biola, Mirai jadi lebih sering memikirkan alasan untuk bisa mengatakan dan meyakinkan orang tuanya kalau memang ia sedang sibuk di kampus. Mau bagaimana lagi, Mirai masih belum juga menjelaskan semua kepada kedua orang tuanya. “Oh iya, Kak. Persiapan pernikahan kan dari sekarang, biar nggak terlalu lama deh dari pertunangan kalian kemarin,” ucap Bu Gita kali ini berbicara kepada Ayu. Mereka memang sedang di ruang tengah, Ayu tampak melihat-lihat majalah yang menunjukkan beberapa model gaun pengantin, sementara Mirai sendiri tengah menyantap puding buatan kakaknya. Kemarin pertunangan kakaknya berjalan dengan lancar dan kedua keluarga berbincang dengan begitu hangat. Dan karena pertunangan sudah di lakukan, kedua keluarga pun sepakat untuk tidak lama-lama melangsungkan pernikahan, tidak baik kan kalau ada niatan yang baik dan tidak segera di langsungkan. “Iya, Ma. Rencana mau cari dulu gedung sih, kan biasanya sulit banget karena pasti banyak orang yang butuh.” “Adatnya sunda ya, Mama kepengin banget lihat kamu menikah pakai adat sunda.” Ayu mengangguk, “Kan emang udah rencana dari awal, Ma. Lagian sama-sama keturunan sunda jadi mau adat apa lagi, bundanya Mas Heru juga udah semangat pake adat itu sama kaya Mama.” “Alhamdulilah kalau begitu, jadi dua keluarga setuju pakai adat itu.” “Besok bisa temani Kakak lihat gedung nggak, Dek?” tanya Ayu kepada Mirai yang sejak tadi lebih asyik menyimak obrolan Ibu dan kakaknya. Mirai tampak berpikir, besok ia kembali latihan dengan Aksa, tetapi kalau menolak ajakan kakaknya di depan sang ibu seperti ini tentu saja akan kembali menambah kecurigaan dan Mirai tidak mau kalau sampai ketahuan sekarang-sekarang ia belajar musik. Menyembunyikan biola di kamarnya saja susah sekali waktu itu, Mirai memang jadi pusing sendiri karena belajar musik di belakang orang tuanya seperti ini. “Dek!” Mirai terkesiap. “Eh, iya Kak, bisa kok.” “Ya pasti bisa kan besok kamu kuliah nggak sampai sore, benar kan?” timpal Bu Gita yang begitu ingat dengan jadwal kuliah anaknya. “Iya, Ma.” Dan lagi-lagi Mirai harus mengatakan kepada Aksa kalau mereka tidak bisa latihan lebih dulu. Sepertinya sudah ada rintangan dalam proses belajarnya di dunia musik, selain tugas dari jurusan bahasa yang sudah menumpuk, dari hal kecil seperti ini pun membuat Mirai harus pandai mencari waktu untuk latihan bersama Aksa. Berutung Aksa begitu mengerti dengan posisinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN