Aksara si pelatih biola

1446 Kata
“Cantik ya, Kak.” Aksa terkesiap dan menapati bundanya sudah duduk di sampingnya, entah sejak kapan bahkan Aksa tidak menyadari keberadaan sang bunda di sini. “Siapa tuh, kenalin dong sama Bunda,” ucap bundanya dengan wajah yang sudah menatap sang anak sulung penuh penasaran. Pasalnya tidak biasa sekali ia mendapati sang anak lelakinya tengah memandangi foto seorang perempuan, ini kali pertama dan tentu ia sebagai seorang ibu sangat penasaran siapa perempuan tersebut. “Teman, Bun.” Aksa tidak bisa mengelak lagi, dia sudah ketahuan sedang memandangi foto seseorang dan lagi kenapa bundanya datang tanpa ia sadari, bisa-bisa kena gosip Bunda dan ayahnya kalau sudah begini, Bunda kan suka sekali menceritakan semuanya kepada ayahnya. Kalau kata Zahra, orang tua mereka itu sudah sama-sama bucin, bermesraan saja tidak malu meski di depan mereka, anaknya. “Masa sih, kok Bunda nggak pernah tahu ya kamu punya teman cewek, apalagi sampai ada foto candidnya gitu di handphone.” “Cantik kok, Kak. Cocok sama kamu,” lanjutnya yang malah membuat Aksa malu-malu. Jihan –Bunda Aksa- tampak terkekeh melihat wajah anaknya yang memerah. Menggemaskan sekali. “Apa sih, Bunda. Kok ngomong gitu, pake bilang cocok segala, orang cuma teman aja kok.” “Lebih dari teman juga nggak apa-apa. Siapa namanya?” tanya Jihan kemudian, masih begitu penasaran dengan gadis tersebut. Aksa tampak mengembuskan napas pelan, tidak bisa lagi ia mengelak atau pun berbohong kepada bundanya, pasti akan panjang sekali pembahasan ini apalagi selama ini dirinya tidak pernah terlihat dekat dengan teman yang berjenis kelamiin perempuan. Baru Mirai saja, itu pun Aksa tidak menyangka bisa langsung dekat bak teman lama. “Namanya Mirai, Bun.” “Mirai? Artinya masa depan, bagus banget namanya.” “Dia lagi belajar main musik, pengin bisa biola katanya.” Aksa akhirnya bercerita kepada sang bunda tentang Mirai, memang selama ini tidak pernah ada rahasia dengan orang tuanya, Aksa selalu menceritakan apa yang sedang ia lakukan, apa yang terjadi di kesehariannya selama di luar rumah dan yang lainnya. Tetapi untuk bercerita perihal perempuan, baru pertama kali dan Mirai menjadi perempuan pertama yang pada akhirnya Aksa ceritakan kepada bundanya. Entah, Aksa merasa perlu saja bercerita apalagi setelah tadi ia menelepon gadis itu dan meminta maaf karena tidak bisa  mengantarnya ke toko Pak Dani untuk membeli biolanya, tetapi Aksa senang karena Mirai akhirnya memiliki alat musik yang selama ini di inginkan olehnya. “Terus kok sampe di pandangin gitu fotonya, kamu ambil foto dia diam-diam ya,” tuduh bundanya yang ternyata malah tepat sasaran. Aksa sebenarnya tidak sengaja, waktu itu mereka yang berada di Alun-alun dengan Mirai menunggu ia dan yang lain tengah tampil seperti biasa, menghibur orang-orang yang datang dan berada di Alun-alun, lalu saat itu Aksa melihat Mirai yang tengah berbicara dengan salah seorang pengamen anak-anak yang memang bersama mereka waktu itu, dan akhirnya Aksa mengambil handphone dari saku jaketnya lalu mengambil potret Mirai yang tengah tersenyum lebar, membuat hatinya menghangat dan Aksa tidak tahu kenapa seperti itu. “Nggak sengaja tadi lihat-lihat foto yang di ambil waktu di Alun-alun.” “Masa?” “Ah iya-iya, aku nyerah Bunda. Emang Bunda selalu bisa menebak apa yang aku pikirkan dan rasakan.” Aksa menyerah dan akhirnya mengaku kalau dirinya memang tengah memandangi foto Mirai. Jihan tersenyum melihat anaknya, tidak terasa Aksa sudah tumbuh besar. Padahal rasanya baru kemarin ia melahirkan anak pertamanya ini, anak lelaki yang kelahirannya begitu di tunggu karena merupakan anak pertama, dan sekarang lengkap sudah dengan anak kedua yang berjenis kelamiin perempuan, adiknya Aksa. “Kamu udah gede ya, dulu masih jajan permen sama es krim.” “Dan sekarang yang jajan itu Zahra, Bun. Heran deh sampe es krim seminggu bisa sampe tiga kali beli.” “Kaya yang nggak pernah aja, dulu juga kamu begitu. Tapi, Kak, beneran kalian cuma teman aja? Jangan-jangan kamu suka ya sama cewek itu?” “Nggak tahu, Bun. Baru aja kenal, tapi nyaman aja sama dia. Asyik juga di ajak ngobrol apalagi aku lihat dia tertarik sama musik.” “Terus kamu yang ajarin dia main biola?” Aksa mengangguk, “Aku juga heran, Bun. Kok bisa ya aku tawarin diri sendiri buat ajarin dia, tapi lihat antusias dia sama musik, apalagi berbinar banget pas lihat orang main biola, bikin aku mau aja ajarin dia.” “Bagus dong. Kan nggak apa-apa saling bantu apalagi kamu yang emang bisa bantuin dia. Kapan-kapan ajak ke rumah lah, kenalin sama Bunda.” “Nanti deh, Bun. Nggak enak masa baru kenal udah ajak ke rumah.” “Tapi kamu emang suka kan sama dia?” “Bunda tahu sendiri jawabannya apa.” “Ah beneran anak Bunda udah gede.” ** Aksa tampak memainkan gitarnya, mengiringi teman-teman lain yang tengah bernyanyi. Memang kalau tidak mengamen ke jalanan atau beristirahat seperti ini mereka kerap kali bermain musik di sini, rumah khusus para pengamen yang Aksa berikan kepada teman-temannya. Lebih tepatnya sudah dua tahun mereka menempati rumah ini, ada seorang wanita paruh baya yang berada di sana sebagai penanggung jawab, yang juga merupakan ibu dari salah seorang dari anak-anak pengamen tersebut. Aksa bak malaikat tak bersayap bagi yang lainnya. Di mana dua tahun yang lalu lelaki itu memberikan sebuah rumah yang cukup luas untuk menampung mereka yang selama ini luntang lantung di jalanan. Sebagian dari pengamen tersebut memang merupakan anak yang tidak memiliki orang tua, dengan alasan memang orang tua sudah meninggal dan lebih miris karena di terlantarlan sejak kecil oleh orang tua mereka. Aksa yang tidak ingin teman-temannya kebingungan tidur di mana akhirnya meminta kepada sang ayah untuk membelikan sebuah rumah bahkan biaya yang lainnya pun sudah Aksa berikan setiap bulan kepada mereka, Aksa juga memberikan pendidikan yang layak untuk teman-teman dengan mendatangkan seorang guru yang akan memberikan pelajaran satu minggu tiga kali di tengah pekerjaan mereka yang masih tetap mengamen untuk tambahan dan di tabung masing-masing. “Kak, itu cewek yang teman kakak bukan sih.” Aksa menghentikan permainan gitarnya saat salah seorang dari mereka menunjuk ke belakang tubuhnya membuat ia membalikkan badan dan mendapati Mirai yang baru saja sampai dengan tas biola yang berada di tangan kanannya. Aksa tersenyum, lalu beranjak dan memberikan gitar tersebut kepada yang lain. Aksa menghampiri Mirai dengan wajah yang berbinar, entah ia selalu merasa senang setiap kali mereka bertemu. Seperti janji mereka yang memang akan mulai latihan di sini, sekaligus makan siang bersama. “Kamu udah lama di sini, Sa?” tanya Mirai setelah Aksa berada di hadapannya. “Iya habis ikut ngamen juga di lampu merah nggak jauh dari sini, kita baru sampe barengan di sini.” “Maaf ya aku baru sampe sekarang, tadi agak susah juga cari alasan sama Mama kalau aku bakalan pulang terlambat.” “Nggak apa-apa, santai aja lah, Rai. Oh iya kita makan siang dulu sebelum mulai belajar biolanya.” “Iya, aku janji mau traktir.” “Kita delivery aja ya, sekalian aku juga mau tambahin biar kita makan besar.” Mirai mengangguk setuju, mereka pun berjalan ke arah rumah di mana yang lainnya sudah beramai-ramai berada di dalam rumah, memang sudah tahu kalau mereka akan makan siang bersama dan sejak tadi menunggu kedatangan Mirai. “Kamu semangat banget hari ini, Rai.” Aksa melihat Mirai yang tampak bersemangat, setelah mereka menyelesaikan makan bersama sambil mengobrol satu dengan yang lain, Aksa mengajak Mirai untuk duduk di halaman belakang, sementara yang lain sudah kembali melanjutkan aktifitasnya. “Iya dong, kamu tahu sendiri aku nggak sabar banget biar bisa jago main biola kaya kamu, Sa. Mana kamu jago juga main alat musik lain, nggak cuma biola aja kan.” “Nggak usah puji aku, nanti hidung aku terbang, Rai,” ucap Aksa terkekeh membuat Mirai juga ikut tertawa mendengar perkataan Aksa. Lelaki itu memang tidak kaku dan itu bagus karena Mirai kadang bingung kalau berhadapan dengan orang yang agak kaku atau tidak suka memulai pembicaraan. “Jadi aku mulai dengan apa ni?” tanya Mirai yang sudah mengeluarkan biolanya. Biola yang akhirnya dia miliki, bahkan Mirai masih tidak menyangka bahwa dirinya memiliki alat musik klasik ini. Yang dulu hanya bisa di lihatnya lewat video di internet. “Aku yakin kamu udah tahu dan hapal dasarnya kan, Rai. Tinggal prakteknya aja biar kamu nggak kaku pegang biola.” Mirai mengangguk, “Doremi aja gimana, nanti baru masuk ke lagu.” “Boleh, coba mainkan biola kamu. Aku sekarang mau serius kaya pelatih ni.” Perkataan Aksa malah membuat Mirai tertawa, bukannya serius wajah Aksa malah kelihatan lucu sekali, sok serius begitu. “Ayo ayo! Mulai nggak boleh ketawa gitu sama pelatih.” Aksa berkacak pinggang, benar-benar membuat perut Mirai tergelitik, lelaki di hadapannya ini memang ada saja tingkahnya. Tetapi itu yang membuat mereka sudah seperti teman lama, tidak ada kecanggungan satu sama lain. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN