Segera memulai apa yang di inginkan

1364 Kata
Tiga hari setelah Mirai dan Aksa pergi ke toko alat musik yang tidak jauh dari Alun-alun, Mirai kembali ke sana, hanya sendirian dan akhirnya membeli apa yang beberapa waktu lalu sudah ia pilih dan di simpan oleh Pak Dani. Biola yang akhirnya menjadi milik Mirai membuat gadis itu senang luar biasa. Mirai membawa pulang biola tersebut dengan perasaan yang begitu lega karena ia akhirnya bisa membeli biola setelah cukup lama menabung dari hasil uang jajannya, tetapi tentu ia tidak bisa membawanya ke rumah karena kalau sampai ketahuan orang tuanya, Mirai masih belum berani menjelaskan. Mirai membawanya ke rumah Dewi, sesuai rencana awalnya waktu itu dan Dewi pun sudah mengetahuinya. “Dan sampai kapan kamu mau simpan biola ini di sini?” Dewi tengah menikmati puding sementara Mirai tampak sibuk dengan biolanya, saat ini mereka sedang berada di kamar Dewi. Mirai menatap Dewi, “Belum tahu lah, Wi. Emang kenapa, kamu nggak mau tampung biola aku?” “Apa sih, Rai. Kamu kok ngomong gitu, ya santai aja lah.” “Kirain kamu nggak mau tampung.” “Huh! Kamu ini. Emangnya aku setega itu apa?! Btw jadi kamu belajar sama cowok itu? Namanya siapa sih, Aksa bukan?” tanya Dewi mengingat lelaki yang di ceritakan oleh Mirai, yang akan menjadi guru biolanya. “Iya, Aksa. Lagian sama siapa kalau bukan sama dia, nggak mungkin aku ikutan kursus musik, mau bayar gimana kalau orang tua aku sendiri nggak tahu aku mau banget main musik.” “Bener juga sih, ngumpulin uang buat beli biola aja kamu butuh waktu lama. Apalagi buat uang kursus yang sebulan sekali pasti bayarnya. Tapi aku yakin kamu bisa cepat belajar dan jago main biola nanti.” “Jangan memuji, aku belum memulai.” “Biar kamu semangat, Rai. Pokoknya semangat!” “Makasih ya, Dewi. Pokoknya kamu sahabat aku paling terbaik!” seru Mirai membuat mereka pun tertawa bersama. Keduanya memang selalu mendukung satu sama lain dan begini lah keduanya. ** Mirai masuk ke dalam kamar, setelah tadi menyimpan biolanya di rumah Dewi dan berbincang tentang segala macam, terutama kuliah mereka yang berbeda jurusan. Akhinya Mirai memutuskan untuk pulang, beruntung rumah mereka tidak jauh, jelas-jelas mereka tetangga. Hanya beberapa langkah, Mirai sudah sampai rumah. Tidak heran kalau mereka kerap menghabiskan waktu bersama, entah di rumah Dewi atau pun di rumahnya. Biasanya kalau sudah begitu mereka akan seharian menonton film atau curhat sampai tidak tahu waktu, sudah seperti saudara satu sama lain. “Ngapain dari rumah Dewi?” Bu Gita masuk ke dalam kamar anak bungsunya setelah tadi ia melihat Mirai sudah pulang dari rumah sebelah. Memang sih tidak aneh lagi tetapi tadi sempat melihat Mirai membawa sesuatu yang kemudian di berikan kepada Dewi, tidak sengaja melihat dari jendela rumah. Memang kalau dari luar kaca jendelanya begitu gelap jadi tidak akan tahu orang rumah memerhatikan ke luar. “Habis main aja, Ma. Kaya biasa.” “Tapi tadi Mama lihat kamu bawa barang gitu, yang kamu kasih sama  Dewi.” Mirai tampak terkejut mendengar perkataan ibunya, tidak menyangka kalau ia ketahuan membawa sesuatu, meski ibunya hanya mengatakan barang saja tetapi Mirai sadar bahwa itu biola yang baru saja di belinya. “Oh titipan buat Dewi, Ma.” Mirai akhirnya berbohong. Ia tidak mungkin mengatakannya sekarang tentang biola yang ia beli, masih belum memiliki keberanian untuk mengatakan semuanya. Ia memang payah sekali dan Mirai akui itu. “Alat musik?” tanya Bu Gita yang lagi-lagi membuat Mirai hampir jantungan, kenapa ibunya ini bisa menebak dengan tepat, tetapi memang pasti kelihatan kan barang apa yang ia bawa tadi, mengingat tasnya memang tas biola. Mirai mengangguk agak kaku. “Ngapain sih pake ada alat musik gitu di rumah, menuhin rumah aja,” ucap Bu Gita. Sensitif sekali kalau sudah menyangkut alat musik. “Ya nggak apa-apa dong, Ma. Kan bukan di sini juga,” balas Mirai. Tidak suka sekali kalau ibunya sampai berkomentar seperti itu, lagi pula kalau bukan miliknya pun, orang bebas kan menaruh apa saja di rumah sendiri. “Jangan sampe deh kamu bawa yang kaya begitu ke rumah.” Bu Gita tampak mengatakannya dengan penuh penegasan. “Iya, Ma,” ucap Mirai pelan. Musnah sudah keberanian dia untuk mengatakan kepada ibunya, kalau sudah begini bagaimana ia membawa biola miliknya ke rumah. Atau menunggu orang rumah tidak ada saja? Sepertinya Mirai harus mencoba dengan cara itu. ** “Iya jadi, tadi siang aku ke sana sendiri.” Mirai tengah bertelepon dengan Aksa, lelaki itu yang pertama kali menghubunginya. Katanya tadi tidak bisa mengantar Mirai membeli biola di toko Pak Dani, akhirnya karena tidak enak Aksa menelepon Mirai. “Sekali lagi maaf ya, beneran nggak enak banget sama kamu, udah janji anterin lagi,” ucap Aksa di seberang sana. Terdengar sekali kalau lelaki itu memang merasa bersalah karena tidak menepati janjinya. “Udah aku bilang, nggak apa-apa, Sa. Lagian kan dekat juga dari Alun-alun, nggak tersesat lah,” balas Mirai terkekeh. “Kali aja kamu tersesat.” Terdengar suara tawa lelaki itu, “Oh iya, terus gimana? Langsung cerita sama orang tua kamu?” tanya Aksa kemudian, mereka memang masih begitu baru berkenalan satu sama lain tetapi entah kenapa seperti teman lama, Mirai saja sampai bercerita alasan dirinya baru sekarang ini membeli dan belajar biola. Mirai tampak mengembuskan napas pelan, ia kembali mengingat bagaimana reaksi ibunya tadi, padahal tahunya milik Dewi tetapi sampai berlebihan seperti tadi dan mengingatkan dirinya untuk tidak membawa barang seperti itu. Bagaimana sekarang dia bisa menceritakan yang sebenarnya kepada orang tuanya. “Belum, Sa. Susah banget rasanya, aku nggak punya keberanian apalagi waktu tahu respon mamaku tadi, padahal komentar barang punya temanku yang rumahnya di sebelah, udah ngingetin nggak boleh kalau sampai aku bawa barang, ya alat musik gitu ke rumah.” Curhat Mirai kepada Aksa. Aksa yang berada di seberang sana tampak mengernyit, tidak menyangka saja respon orang tua Mirai berlebihan sekali, menurutnya. Apalagi sampai melarang Mirai membawa alat musik, memangnya ada apa dengan alat musik. “Ya udah cari waktu aja yang tepat, kalau kamu cerita pelan-pelan mungkin orang tua kamu bakalan respon baik, nggak ada salahnya kan kalau di coba.” “Iya sih, semoga aja aku bisa bicara sama orang tuaku.” “Pasti bisa, demi bermain musik, Rai.” “Oh iya, besok kamu ada di mana sama yang lain?” “Kalau hari biasa aku nggak sama yang lain, Rai. Aku ada kuliah.” Mirai tampak terkejut mendengar bahwa Aksa juga berkuliah. Apa ia lupa dengan status Aksa yang juga mahasiswa, mengingat memang selama ini yang Mirai tahu Aksa mengamen dengan yang lain, meski memang penampilan Aksa berbeda, lebih rapi dari yang lain tetapi Mirai tetap menyangka kalau Aksa memang kesehariannya begitu kalau mengamen, ternyata ia salah sangka. “Kalau gitu, aku bisa belajar biola sama kamu hari apa? Aku sesuaikan sama jadwal kamu aja.” “Nggak kebalik? Aku aja yang sesuaikan jadwal, kalau aku kuliah nggak tiap hari, jadwalku hari senin sampai rabu doang.” “Berarti hari kamis kamu libur dong? Aku kebetulan jadwal cuma satu hari itu, pagi jam delapan doang. Kalau hari itu aku belajar biola sama kamu gimana?” tanya Mirai, gadis itu tampak semangat sekali karena akan belajar musik dari Aksa, selama ini selalu lewat online, sekarang ada teman belajar secara langsung. “Boleh, aku ikut kamu aja. Tapi emangnya nggak apa-apa di tempat teman-teman lain? Atau kamu mau di tempat lain?” “Nggak apa-apa, kalau tempat lain selain aku nggak tahu di mana yang pas, aku juga nggak mau sampai ketahuan sama orang yang aku kenal dan berakhir orang tua aku tahu. Jadi tempat teman-teman nggak masalah kok.” “Oke deh. Kita ketemu di sana hari kamis ya, jam berapa?” “Jam dua belas, kita bisa makan siang sama yang lain juga. Kebetulan aku ada uang lebih, traktiran nggak masalah kan, apalagi buat adik-adik pengamen.” “Iya, makasih ya, Rai.” “Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu, soalnya udah mau ajarin aku main biola.” “Jadi nggak sabar kamu bakalan lebih jago nanti dari aku.” Mirai terkekeh, ia harap begitu. Karena selama ini Mirai sudah begitu bersemangat dan ingin sekali jago dalam memainkan alat musik tersebut. Dan Aksa menjadi pemacunya untuk bisa memainkan biola bak pemain profesional.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN