Mirai bertemu dengan Aksa di Alun-alun, setelah melihat penampilan Aksa dan teman-temannya yang seperti biasa mengamen ramai-ramai kalau weekend, akhirnya mereka ke toko alat musik karena Aksa menemani Mirai untuk melihat-lihat lebih dulu biola yang akan Mirai beli untuk belajar memainkan alat musik tersebut.
Aksa sudah mengatakan kepada yang lain untuk pulang lebih dulu, paling teman-temannya kembali mengamen di tempat lain, sementara ia dan Mirai berjalan dari Alun-alun ke arah bawah di mana lokasi toko alat musik yang Aksa katakan.
“Sejak kapan kamu bisa main biola?” tanya Mirai sembari mereka jalan kaki menuju toko yang di sebutkan oleh Aksa.
“Waktu sekolah sih, kalau nggak salah kelas dua.”
“Dan kamu udah jago banget, banyak juga alat musik yang kamu bisa, aku jadi iri,” balas Mirai mengingat ia melihat Aksa yang memang memainkan alat musik lainnya.
Aksa terkekeh mendengar perkataan Mirai, “Jago apaan, gitu doang masa di bilang jago, lagian sebentar lagi pasti bakalan lebih jago kamu lah, Rai.”
“Halah kamu merendah banget, aku mana bisa sekejap langsung jadi jago. Kan semuanya butuh proses.”
“Tapi aku yakin sih kamu bakalan bisa cepat belajar.”
“Aku berterima kasih banget karena kamu mau ajarin aku.”
“Santai aja, lagian aku juga senang.”
“Eh masih jauh ya?” tanya Mirai melihat mereka sudah cukup jauh berjalan dari Alun-alun, tetapi ia masih belum melihat toko alat musik di sekitaran sini.
“Hampir lupa, keasyikan ngobrol. Kita jalan ke sebrang, itu tokonya ada di depan.” Aksa menunjuk toko yang berada di seberang jalan, mereka harus menyebrang lebih dulu.
“Oh yang itu?”
Aksa mengangguk, “Iya, ingat-ingat. Siapa tahu kamu mau ke sini sendirian.”
Mereka pun menyebrang jalan dengan Aksa yang secara refleks menggandeng tangan Mirai saat mereka menyebrang. Gadis itu tampak terkejut namun bisa kembali menetralkan keterkejutannya. Setelah berada di sebrang jalan di mana letak toko berada, Aksa melepaskan genggaman tangan mereka, ia juga tadi tanpa sadar menarik Mirai.
“Sorry ya, kebiasaan kalau jalan sama adek perempuanku.” Aksa agak canggung karena menyadari dirinya tanpa ijin menggenggam tangan Mirai.
“Kamu punya adik?”
“Iya, umur tujuh belas.” Miraih ber-oh riah mendengar jawaban Aksa.
Keduanya masuk ke dalam toko dan membuat Mirai berdecak kagum karena melihat deretan alat musik yang begitu membuatnya berdebar. Terutama ketika kedua matanya menangkap biola yang selama ini ia inginkan. Aksa tampak berbicara dengan seorang pria, yang Mirai pikir merupakan pemilik dari toko ini.
“Rai, kenalin ini Pak Dani yang punya toko.” Aksa menghampiri Mirai dan mengenalkan pria yang berdiri di sampingnya.
Mirai tersenyum, mengulurkan tangannya untuk mencium tangan pria yang seumuran sang ayah.
“Mirai, Pak. Temannya Aksa,” ucap Mirai mengenalkan dirinya.
Pria yang bernama Pak Dani itu tersenyum ramah, “Mau lihat biola ya? Aksa sudah bilang sama Bapak,” ucapnya.
Mirai mengangguk penuh semangat, “Lihat dulu nggak apa-apa, Pak?” tanya Mirai agak ragu, ia takut tidak di ijinkan kalau hanya melihat tanpa membeli.
“Nggak apa-apa, silahkan saja.”
Mendengar jawaban dari Pak Dani membuat senyum Mirai terukir begitu jelas. Ia senang sekali karena bisa melihat lebih dulu biola yang nantinya akan ia beli setelah uang yang selama ini kumpulkan sudah cukup untuk membeli biola keinginannya.
Pak Dani pun mengajak Mirai dan Aksa untuk lebih masuk ke dalam toko, ternyata di bagian dalam masih banyak alat musik yang terpajang. Mirai begitu kagum melihatnya, seperti tengah berada di museum alat musik, karena begitu banyak sekali alat musik yang terpajang di sini.
“Ini biola ukuran full size, yang sering di pakai orang dewasa. Tetapi tergantung ukuran panjang tangannya, nanti bisa di sesuaikan. Kalau kebesaran berarti pakai yang di bawahnya, nggak perlu full size.” Pak Dani memberikan sebuah biola kepada Mirai, di terima dengan begitu semangat oleh gadis itu.
“Pas deh, suka banget, Pak.”
“Boleh di coba dulu, kalau emang mau yang ini nanti Bapak simpan, stoknya kebetulan hanya ada dua, belum di kirim lagi dari yang buat.”
“Harganya, Pak?” tanya Mirai, setahunya akan semakin mahal, apalagi Mirai tahu yang di berikan oleh Pak Dani adalah biola dengan merk yang cukup terkenal.
“Nanti itu soal belakangan, yang penting itu enak nggak di pakainya, kalau ngerasa nggak nyaman ya buat apa, benar tidak?”
“Benar, Pak,” timpal Aksa yang sejak tadi hanya memerhatikan keduanya. “Cobain dulu, Rai, doremi atau apa gitu coba gesek senarnya.”
Mirai pun mulai mencoba biola tersebut meski agak canggung dan gugup karena harus mencobanya di hadapan sang pemilik toko, apalagi ia belum begitu jago memainkan. Tetapi sesuai yang di katakan oleh Aksa, akhirnya Mirai pun menggesek senar biola tersebut dengan menggunakan bow-nya. Mengalun lah nada doremi dari senar yang di gesek oleh Mirai dengan begitu perlahan.
“Coba sama kamu, Sa,” ucap Mirai menyerahkan biola tersebut pada Aksa.
“Lho kenapa? Kan kamu yang mau jadi pemilik biolanya.”
“Aku nggak tahu ini nadanya udah pas atau belum, kamu kan bisa atur-atur senarnya.”
Aksa mengangguk dan menerima biola tersebut, kemudian ia pun mencoba untuk memainkan, mendengarkan nada demi nada yang ia mainkan, seperti yang Mirai katakan Aksa begitu jago, buktinya tampak indah sekali nada yang di hasilkan dari permainana biola yang di lakukan oleh lelaki itu.
“Udah oke kalau ini,” ucap Aksa setelah berhenti memainkan biolanya.
Mirai mengangguk, “Boleh di simpan dulu nggak, Pak?” tanya Mirai menatap Pak Dani yang berdiri di hadapannya.
“Tentu, nanti kamu bisa ke sini lagi buat ambil biolanya.”
“Terima kasih banyak, Pak.”
“Iya, sama-sama. Kalau kamu mau ganti gitar lagi, Sa?” tanya Pak Dani kali ini kepada Aksa, anak lelaki yang memang sudah begitu sering datang ke tokonya. Bahkan tidak hanya menjadi pembeli, Aksa kerap membantunya di toko.
“Nggak, Pak. Yang lama masih enak, nanti Ayah malah ngomel karena ganti lagi, belum lama kan dari waktu pertama aku beli ke sini.”
“Adik kamu gimana? Jadi belajar piano?”
“Ah kalau dia sih tergantung mood, kalau lagi baik, rajin banget belajarnya. Kalau nggak, dia palingan nonton anime atau drakor sama Bunda.”
“Kamu juga dong kalau anime.”
“Kadang-kadang, Pak.”
“Ada yang mau di lihat lagi?” tanya Aksa kepada Mirai.
Gadis itu menggeleng, sudah cukup karena tujuannya hanya melihat dan bertanya perihal biola saja. Kalau sudah terkumpul, Mirai akan segera kembali untuk membeli biola tersebut. Paling lama satu minggu, tetapi Mirai ingin tiga hari dari sekarang uangnya bisa terkumpul, beruntung sudah sejak lama ia menabung, jadinya sekarang tinggal sedikit Mirai menambahkan uang untuk membeli biola keinginannya.
“Kita pulang aja, Sa,” ajak Mirai yang kemudian di angguki oleh Aksa.
“Makasih ya, Sa. Kamu udah ajak aku ke toko tadi. Akhirnya sebentar lagi aku bisa punya biola sendiri.”
Aksa tersenyum tulus, senang sekali melihat gadis yang berada di hadapannya ini begitu berbinar karena akan memiliki alat musik yang selama ini di inginkannya. Sama seperti ia waktu menginginkan gitar, Aksa melihat dirinya yang dulu dari sosok Mirai, menabung untuk membeli alat musik tersebut.
“Sama-sama, jadi kita bisa main barengan. Aku iringin pakai gitar nanti.”
“Belajar dulu lah, aku kan nggak jago kaya kamu.”
“Nanti juga melebihi aku.”
“Semoga aja.” Mirai tersenyum penuh harap. Ia tidak sabar memainkan biola miliknya sendiri, tidak sabar beberapa hari lagi memiliki apa yang selama ini ia inginkan.