Mimpi yang perlahan sirna

1331 Kata
Ayu berlari di sepanjang koridor rumah sakit, beberapa waktu lalu ada panggilan masuk pada handphone miliknya dan ternyata dari pihak rumah sakit. Kontaknya ada di deretan panggilan terakhir di handphone milik sang adik. Ayu bahkan tidak percaya saat pihak rumah sakit memberitahu bahwa adiknya mengalami kecelakaan dan sudah berada di rumah sakit. Karena Ayu tahu Mirai menghubunginya tidak lama sebelum ia mengatakan akan pulang ke rumah, tetapi sekarang ia mendapatkan kabar bahwa adiknya mengalami kecelakaan. Berlari ke arah UGD, Ayu melihat tiga orang yang tengah berdiri dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Salah satunya seorang lelaki yang Ayu perkirakan umurnya sama seperti sang ayah, tengah menenangkan wanita di sampingnya yang sedang menangis. “Permisi,” ucap Ayu membuat ketiga orang itu menoleh kompak. “Apa ada korban bernama Mirai yang mengalami kecelakaan,” ucapnya kembali. “Kakak siapanya Kak Mirai?” Gadis yang berada di hadapan Ayu dengan kedua mata yang sembap bertanya kepadanya. “Saya kakaknya Mirai.” “Kak Mirai lagi di dalam juga,” balasnya. Ayu mengangguk, wajanya di liputi kekhwatiran sampai ia lupa menghubungi orang tuanya karena tadi sudah lebih dulu pergi ke sini tidak lama setelah mendapatkan kabar dari pihak rumah sakit. “Keluarga Aksa.” Seorang Dokter keluar dari ruangan membuat lelaki yang berada tidak jauh dari Ayu segera menghampiri sang Dokter, Ayu yakinin bahwa mereka adalah orang tua dari korban kecelakaan lainnya. “Kami orang tuanya, Dok.” “Bisa kita bicara di rungan saya?” Lelaki itu mengangguk, “Kamu tunggu di sini ya, Za,” ucapnya kepada gadis yang tadi bertanya kepada Ayu. Gadis itu mengagguk dan melihat kedua orang tuanya berjalan bersama Dokter tadi. “Aku Zahra, Kak,” ucapnya kepada Ayu. Adik Aksa itu tampak tersenyum tipis, meski tidak bisa di tutupi bahwa kedua matanya sehabis menangis. “Ayu,” balas Ayu. “Kecelakaan itu korbannya Kakak aku sama Kak Mirai. Nggak ada yang tahu persisnya kaya gimana, tetapi ada yang bilang memang kecelakaan beruntun dan korbannya adalah mereka.” Zahra menjelaskan kepada Ayu dengan wajah yang kembali sendu. Zahra begitu terkejut  ketika mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit dan mengatakan bahwa Aksa mengalami kecelakaan, bahkan belum sempat berganti pakaian selesai les, ia langsung ikut bersama dengan kedua orang tuanya ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit mendapati kakaknya sudah berada di ruangan unit gawat darurat. “Kamu lihat kondisi adik saya?” tanya Ayu. Zahra menggeleng, “Sampai sini, mereka udah di dalam dan nggak sempat aku lihat.” Ayu mengembuskan napas pelan, berdoa dalam hati agar adiknya baik-baik saja, sampai akhirnya ia ingat untuk menghubungi orang tua mereka yang pasti akan khawatir karena keduanya belum pulang ke rumah selarut ini. “Saya telepon orang tua dulu, kasih tahu kalau Dokter tanya keluarga Mirai,” ucapnya kepada Zahra yang di angguki oleh remaja itu. Ayu pun memilih untuk menjauh dari UGD dan segera menghubungi orang tuanya. ** Bu Gita dan Pak Chandra baru saja sampai di rumah sakit, mereka segera ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari Ayu dan mengatakan semuanya yang tentu membuat mereka berdua terkejut dan khawatir kepada anak bungsunya. “Kok bisa kaya gini sih, Kak?” tanya Bu Gita kepada Ayu yang saat ini duduk di sampingnya. “Ayu juga nggak tahu, Ma. Tadi dapat kabar dari rumah sakit terus Ayu langsung ke sini dan Mirai udah di tangani sama Dokter. Sampai sekarang belum juga ada hasilnya, Ayu takut Mirai mengalami luka yang cukup parah.” “Sudah kita tunggu saja kondisi Mirai dari Dokter yang sedang menangani,” ucap Pak Chandra. Sementara orang tua Aksa yaitu Damar dan Jihan sudah kembali dari ruangan Dokter sebelum keluarga Mirai datang. Jihan tampak masih menangis mendengar kondisi dari anak lelakinya yang Dokter mengatakan mengalami luka yang cukup parah terutama di bagian kepala karena helm yang di gunakan sampai lepas akibat benturan yang cukup kencang. Dokter menyarankan untuk penanganan lebih lanjut dan di bawa ke rumah sakit besar, sampai akhirnya Damar –Ayah Aksa- memutuskan untuk membawa Aksa ke luar negeri agar alat yang di butuhkan lebih lengkap, meski biaya mahal, Damar tidak masalah sama sekali. Mereka pun sedang mengurus semuanya. Seorang Dokter keluar dari ruangan dan mencari keluarga pasien bernama Mirai, membuat Bu Gita dan Pak Chandra segera menghampiri Dokter tersebut. “Bagaimana keadaan anak kami, Dok?” tanya Bu Gita tidak sabar mendengar kondisi anak bungsunya. “Pasien mengalami luka di bagian tangan, kemungkinan akan sulit untuk di gerakan dalam waktu yang cukup lama.” “Tetapi apa bisa kembali seperti biasa, Dok?” tanya Pak Chandra. “Tentu, Pak. Pasien hanya butuh pengobatan secara teratur seperti terapi untuk kembali bisa menggerakan tangannya secara normal.” Mereka bernapas lega, setidaknya masih ada kemungkinan untuk sembuh dan bisa kembali seperti biasa agar Mirai tidak sedih mendengar kondisinya. Sementara Ayu kembali sendu mengingat bagaimana antusia adiknya dalam belajar bermain biola sampai akhirnya mengikuti lomba tetapi sekarang tangan yang di gunakan untuk memegang dan memaikan biolanya sedang tidak baik dan Dokter mengatakan butuh beberapa waktu untuk penyembuhannya. Mirai pasti akan sedih tidak bisa memainkan biolanya di waktu dekat. “Kalau begitu kami mohon berikan yang terbaik untuk kesembuhan anak kami, Dok.” “Tentu saja, Pak. Saya dan yang lainnya akan mengusahakan yang terbaik. Karena kesembuhan pasien merupakan kebahagiaan kami juga.” “Terima kasih, Dokter.” “Memang sudah tugas saya sebagai Dokter.”  ** “Tangan aku nggak bisa di gerakin, Kak?” Mirai menatap Ayu dengan kedua mata yang berkaca-kaca, ia baru sadar setelah tadi mendapatkan penanganan Dokter dan saat sadar dirinya sudah berada di ruang rawat tetapi apa yang terjadi membuat Mirai bersedih. Sebelah tangannya tidak bisa di gerakan, padahal ia sedang bersemangat berlatih dan terus belajar memainkan biola. Kalau hanya ada tangan kanan saja yang bisa ia gerakan, tentu saja kesulitan untuk memaikan biolanya. “Nanti pasti normal lagi, Dek.” Ayu terus memberikan semangat kepada adiknya, sebagai saudara yang hanya berdua saja tentu mereka akan memberikan semangat kepada masing-masing saat mengalami keadaan sulit, seperti Mirai saat ini. “Tapi butuh waktu lama kan, Kak.” Mirai tampak sendu, mimpinya yang di depan mata seolah sirna dalam sekejap, kenapa saat dirinya sedang berusaha untuk mewujudkan mimpinya, Tuhan memberikan cobaan seperti ini, sebelah tangannya tidak bisa di gerakan sementara bermain biola membutuhkan kedua tangannya. Mirai merasa mimpinya sudah tidak lagi secerah saat awal, apa ini yang di namakan setiap kali berproses maka akan ada rintangan dan tantangan yang menyertainya, tetapi kenapa semua ini membuat Mirai malah merasa bahwa dirinya memang tidak di takdir kan untuk mewujudkan mimpinya dalam bermain musik, apa karena ia masih juga tidak mengatakan kepada orang tuanya perihal ini sampai Tuhan memberikan teguran kepadanya seperti ini. Kenapa semua ini terjadi? Dan Aksa? Di mana lelaki itu? “Kakak lihat teman aku, Aksa? Yang barengan sama aku, tadi dia terluka parah.,” ucap Mirai kembali yang sekarang di liputi kekhawatiran. Ia baru ingat kecelakaan ini tidak hanya melibatkan dirinya tetapi juga Aksa. “Sudah bersama keluarganya,” balas Ayu yang memang sempat melihat keluarga lelaki yang di maksud oleh adiknya tadi saat ia mengantarkan orang tuanya untuk pulang lebih dulu, membawa pakaian Mirai dari rumah. “Kakak lihat kondisi dia?” tanya Mirai kembali, sungguh saat ini perasaannya tidak enak, ia memikirkan kondisi Aksa apalagi yang terakhir Mirai lihat adalah luka yang begitu banyak di kepala lelaki itu. “Kakak dengar dia butuh pengobatan yang khusus, mungkin keluarganya bawa dia ke rumah sakit besar di luar kota.” “Aku harap dia baik-baik aja,” gumam Mirai. “Kamu istirahat, Dek. Jangan banyak mikir negatif, kamu pasti sembuh.” “Kalau tangan aku selamanya nggak bisa gerak gimana, Kak?” “Nggak boleh ngomong kaya gitu, kamu harus yakin kalau tangan kamu bakalan kembali kaya biasa, Dokter juga bilang kalau kamu butuh terapi aja buat kembaliin kondisi tangan kamu kaya dulu.” “Mama sama Papa tahu kalau aku di sini, Kak?” Ayu mengangguk, “Mereka juga tahu soal biola kamu, Dek.” Mirai terpaku, bagaimana reaksi orang tuanya saat melihat biola miliknya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN