Plak!
Keadaan tiba-tiba saja hening ketika Bu Gita melayangkan tamparan cukup keras pada pipi anak bungsunya. Hal itu membuat Mirai menatap ibunya dengan tatapan sendu, bahkan ia tidak menyangka bukannya khawatir pada kondisinya, sang ibu malah lebih dulu menampar pipinya di depan Ayah dan kakaknya. Bahkan Ayu terpaku melihat adiknya di tampar oleh sang ibu ketika kedua orang tuanya baru sampai di ruangan rawat Mirai.
“Ma!” seru Pak Chandra saat melihat istrinya menampar pipi Mirai. Bahkan ia tidak menyangka bahwa istrinya melakukan hal tersebut. Namun seruan itu tidak membuat Bu Gita diam saja.
“Kamu mikir nggak sih! Udah Mama bilang, kalau Mama nggak suka anak-anak Mama main musik!” seru Bu Gita kepada Mirai.
Kedua mata Mirai berkaca-kaca, ia tahu apa yang ia lakukan salah apalagi tidak mengatakan kepada kedua orang tuanya, tetapi tidak seperti ini juga kan reaksi sang ibu sampai menampar dirinya tanpa memberikan kesempatan kepada Mirai untuk menjelaskan semuanya.
“Mama benar-benar nggak nyangka ya sama kamu! Bisa-bisanya kamu masuk ke dunia musik kaya gini!” Masih di liputi amarah dan kekecewaan kedua mata Bu Gita menatap Mirai dengan begitu tajam.
“Ma! Mama berlebihan tahu nggak!” balas Ayu menghampiri ibunya.
“Berlebihan apa?! Adik kamu ini memang nggak bisa di kasih tahu! Mama udah bilang kan sama kalian kalau Mama nggak suka anak-anak Mama di dunia musik. Dan sekarang Mirai malah melakukannya.”
“Tapi Ma, Mirai lagi sakit, harusnya Mama nggak nampar Mirai kaya tadi. Kita bisa bicarain semuanya dengan baik-baik kan, nggak pakai emosi atau nampar kaya tadi,” balas Ayu membela adiknya. Meski ibunya tidak suka dengan mereka yang mendekati dunia musik tetapi tidak begini juga resposnya, semua bisa di bicarakan secara baik-baik.
“Benar apa yang Ayu bilang, Ma.” Pak Chandra ikut mengeluarkan suara. Meski ia pun tidak menyangka bahwa Mirai diam-diam mendalami musik tetapi tidak seharusnya sang istri bersikap seperti tadi.
“Mama kecewa sama kamu, Rai.”
Bu Gita memilih keluar dari ruangan, meninggalkan tiga orang yang berada di sana dalam keheningan. Pun dengan Mirai yang menunduk dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Tidak menyangka respon ibunya sampai seperti ini, menampar dirinya.
Ayu yang melihat adiknya menunduk dengan bahu yang bergetar akhirnya menghampiri Mirai, mengelus bahu adiknya dengan penuh kelembutan. Sementara Pak Chandra memilih untuk menyusul istrinya, ia harus menenangkan sang istri sebelum kembali bertanya perihal semua yang terjadi kepada Mirai.
“Nggak apa-apa, ada Kakak,” ucap Ayu.
Mirai terisak, ia tahu untuk pertama kalinya ia mengecewakan sang ibu seperti ini, tetapi tidak kah ibunya berlebihan sampai melakukan hal seperti tadi kepada dirinya, bahkan di depan Ayah dan kakaknya. Mirai tidak menyangka ibunya menampar pipinya seperti tadi, untuk pertama kali di dalam hidupnya.
“Aku ngecewain Mama banget kan, Kak.” Mirai masih terisak, kali ini Ayu sudah memeluk adiknya dengan penuh kehangatan.
Sebagai kakak tentu saja Ayu akan melindungi Mirai, menjadi yang paling depan untuk menjaga adiknya. Bagaimana pun mereka hanya berdua saja sebagai saudara, tentu satu sama lain harus bisa saling melindungi dan menyayangi.
“Nanti Kakak ngomong sama Mama, kamu cukup fokus sama kesembuhan tangan kamu aja, nggak usah mikirin macam-macam dulu.” Ayu mengelus punggung adiknya, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Tapi Mama marah banget sama aku, Kak.”
“Nggak akan lama, Mama kaget aja karena kamu diam-diam mendalami dunia musik, nanti pasti Mama bakalan kaya biasa lagi, tadi Mama nggak sengaja tampar kamu, Kakak yakin Mama pasti sekarang sedih karena udah nampar kamu kaya tadi.”
“Mimpi aku udah hilang, Mama marah sama aku, hidup aku udah nggak ada guna lagi kan, Kak,” ucap Mirai di sisa tangisannya. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana, apalagi melihat ibunya marah seperti tadi, semuanya seakan hancur dalam sekejap.
“Kamu ngomong apa sih, Dek. Nggak ada yang namanya mimpi kamu hancur, mimpi kamu masih ada di depan mata, kamu masih bisa meraihnya. Kamu baru memulai semuanya, Dek. Masih banyak yang harus kamu lewati untuk sampai di titik tertinggi, di mimpi kamu selama ini,” ucap Ayu memberikan semangat kepada Mirai.
“Kakak selalu di samping kamu, mendukung kamu kalau memang ini yang menjadi mimpi kamu. Kita bisa buktikan sama Mama sama Papa kalau kamu memang benar mengambil keputusan ini, masuk di dunia musik,” lanjutnya.
“Tapi semuanya udah nggak ada arti lagi, Kak. Mama marah dan kecewa sama aku, dan sekarang keadaan tangan aku juga kaya gini, semuanya udah berakhir, Kak.”
“Nggak ada yang berakhir! Kamu harus semangat.”
**
Mirai tidak sengaja bertemu dengan Zahra –adik Aksa- di kantin rumah sakit. Ternyata Aksa masih berada di rumah sakit yang sama dengannya. Namun kondisinya memang lebih parah dari dirinya membuat Mirai merasa bersalah, Aksa seperti ini karena dirinya, karena Aksa yang mengantarkan dia pulang dari perlombaan waktu itu.
Mirai akhirnya mengunjungi Aksa di rungan rawat lelaki itu, setelah berbincang dengan Zahra yang ternyata gadis itu bisa akrab meski baru pertama kali mereka bertemu. Zahra juga mengatakan kondisi Aksa yang membuat Mirai sedih mendengarnya.
Aksa terbaring lemah di hadapannya, banyak alat medis yang Mirai sendiri tidak tahu apa saja namun tentu sangat penting untuk kondisi Aksa saat ini. Gadis itu duduk di kursi dengan satu tangan yang perlahan terulur menggenggam tangan Aksa.
Kedua matanya kembali berkaca-kaca, mengingat bagaimana dukungan Aksa kepadanya selama ini sampai ia bisa mengikuti perlombaan namun berakhir dengan mereka yang terlibat kecelakaan. Mirai begitu terpukul melihat kondisi Aksa saat ini, kenapa semuanya berakhir seperti ini di hari yang seharusnya mendapatkan bahagia sampai akhir, dia yang kesulitan menggerakan tangannya dan Aksa yang terbaring lemah seperti ini.
Klek. Pintu ruangan terbuka, Jihan –Ibu Aksa- masuk ke dalam dan melihat seorang gadis yang berada di dekat anaknya yang masih belum sadar. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis ke arah Mirai yang saat itu beranjak dari kursinya.
“Kamu temannya Aksa?” tanya Jihan kepada Mirai.
Mirai mengangguk, “Iya, Tante. Aku Mirai,” ucapnya.
“Oh kamu yang namanya Mirai...,” Jihan tersenyum ramah mendengar bahwa gadis di hadapannya ini bernama Mirai, gadis yang waktu itu di ceritakan oleh anaknya. “Aksa sudah cerita soal kamu sama Tante,” lanjutnya.
Mirai tampak terkejut, tidak menyangka bahwa Aksa menceritakan tentang dirinya kepada wanita yang merupakan Ibu dari Aksa, tetapi apa saja yang lelaki itu ceritakan tentang dirinya dan kenapa juga Aksa sampai menceritakan tentang Mirai kepada ibunya.
“Aksa cerita kalau dia kenal sama gadis yang berbakat, katanya nggak pantang menyerah buat belajar biola sampai akhirnya dia dan gadis itu berteman dan latihan sama-sama. Terakhir Aksa juga bilang kalau dia mau dukung gadis itu buat ikut perlombaan, gadis itu bernama Mirai, dan kamu orangnya kan.”
Mirai tersenyum, “Aksa berlebihan, Tan. Aku nggak berbakat seperti apa yang Aksa bilang, malah dia yang luar biasa dan aku belajar banyak dari Aksa, terutama main biola yang selama ini aku mau.”
“Tante, maaf karena aku, Aksa jadi kaya sekarang,” ucap Mirai kemudian.
Perkataan Mirai membuat Jihan mengernyit heran, “Maksud kamu apa, Ra?”
“Iya, gara-gara Aksa anterin aku, dia juga jadi korban kecelakaan kaya sekarang, aku minta maaf, Tan.”
Jihan mengelus bahu Mirai dan tersenyum penuh kehangatan, “Nggak ada yang salah sama sekali, ini memang sudah seharusnya terjadi. Kamu nggak boleh menyalahkan diri sendiri kaya gitu, ingat nggak ada yang salah di sini.”
“Tapi—“
“Udah, Rai. Yang penting sekarang kamu harus sembuh dan kita berdoa juga buat kesembuhan Aksa, supaya dia sadar.” Jihan memotong perkataan Mirai, ia tidak ingin gadis di sampingnya ini malah menyalahkan diri sendiri seperti itu. Tidak ada yang salah di sini, semuanya memanng sudah di gariskan oleh Tuhan.