Satu minggu berada di rumah sakit akhirnya Mirai bisa pulang ke rumah, meski begitu ia masih harus kembali ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan pada tangannya. Selama satu minggu itu Mirai pun selalu mengunjungi Aksa di ruangannya, namun di hari ke lima Aksa harus di pindahkan ke rumah sakit lain karena kondisi Aksa yang masih belum menunjukkan tanda-tanda ia akan sadar. Tetapi ia bisa tahu kondisi Aksa dari Zahra, karena adiknya Aksa itu beberapa kali menjenguknya dan mereka pun akhirnya saling bertukar kontak.
Sudah beberapa hari ini Mirai memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam kamar, hubungannya dengan sang ibu sudah kembali seperti semula. Karena apa yang Ayu katakan ada benarnya bahwa sang ibu hanya kecewa sesaat dan terbukti di hari ke tiga Mirai berada di rumah sakit Bu Gita datang dengan rasa bersalah kepada anak bungsunya. Namun tidak membuat Bu Gita berdamai dengan dunia musik yang di geluti oleh Mirai. Ia masih tidak suka kalau Mirai menggeluti dunia itu.
Mirai sendiri tidak tahu kenapa ibunya sampai separah itu tidak menyukai dunia musik, dan Mirai tidak tahu di mana biolanya berada sekarang, bahkan di hari pertama ia berada di rumah sakit Mirai tidak melihat biolanya. Ia pikir memang biola miliknya sudah rusak karena kecelakaan yang di alaminya bersama Aksa waktu itu, jadi mau bagaimana lagi, ia juga merasa mimpinya sudah tidak ada artinya.
Klek. Pintu kamar terbuka, terlihat Ayu yang masuk ke dalam kamar adiknya sambil membawa nampan. Mirai tengah duduk di atas tempat tidur dengan pikiran yang entah melayang ke mana. Sejak tadi yang ia lakukan hanya berdiam diri di dalam kamar, bahkan tidak ada niatan untuk turun ke bawah, sarapan bersama.
Ayu akhirnya membawa makanan untuk sang adik, saat tidak ada tanda-tanda Mirai akan turun dari kamarnya. Ia sendiri yang menyiapkan sarapan untuk adiknya, membuatkan roti panggang yang disukai oleh Mirai dengan keju di dalamnya. Duduk di tepi ranjang, Ayu memberikan piring yang berisi roti kepada adiknya.
“Kakak bikin ini buat kamu, tadi kamu nggak turun ke bawah buat sarapan,” ucap Ayu tersenyum mengusap kelapa adiknya penuh sayang.
“Makasih, Kak,” balas Mirai dengan suara yang begitu pelan.
Ayu mengangguk dan menyuruh Mirai untuk segera sarapan. Ayu memerhatikan adiknya yang tengah menyantap roti yang ia buatkan, sudah beberapa hari Mirai pulang dari rumah sakit tetapi yang adiknya lakukan adalah berdiam diri seharian di kamar, pagi ini pun Mirai tidak ke bawah untuk sarapan bersama mereka.
Ayu tahu Mirai masih sedih dengan apa yang terjadi, terutama melihat keadaan temannya yang bernama Aksa yang Ayu ketahui sekarang sudah di pindahkan ke rumah sakit lain karena masih belum menunjukkan perkembangan apa pun. Selain itu, Ayu juga tahu Mirai sedih karena tangannya belum bisa di gunakan untuk bermain biola lagi, di tambah ibu mereka tidak suka dengan dunia musik, Mirai seolah di berikan masalah yang bertubi.
Ayu sebenarnya sudah berbicara dengan orang tua mereka perihal Mirai yang mendalami dunia musik dan selama ini belajar biola, ayah mereka tidak begitu banyak berkomentar berbeda dengan sang ibu yang tentu saja menanggapi dengan penuh emosional.
Ayu tidak ingin adiknya bersedih karena tidak bisa mendalami musik kembali, sebisa mungkin ia membuat ibu mereka mau mendengar apa yang Mirai inginkan, lagi pula Ayu tahu selama ini adiknya telah menjadi anak yang penurut, semua keinginan orang tua mereka terutama sang ibu selalu di turuti oleh Mirai, jadi apa salahnya kalau sekarang Mirai memiliki keinginan dan sebagai keluarga tentu mendukung selagi itu baik.
Tetapi memang sulit untuk membuat ibu mereka luluh agar menerima apa yang di inginkan oleh Mirai.
“Biola kamu udah Kakak simpan,” ucap Ayu setelah melihat Mirai menghabiskan roti yang ia buat. Senang sekali karena Mirai bisa makan dengan lahap karena selama beberapa hari ini Ayu lihat adiknya selalu saja makan dengan wajah yang murung dan seakan tidak berselera untuk makan.
Mirai yang mendengar perkataan Ayu menoleh, tampak terkejut sekaligus tidak menyangka bahwa kakaknya akan menyimpan biola miliknya. Namun menyadari kondisi tangannya sekarang, tidak ada lagi rasa antusias pada alat musik tersebut, seolah hilang begitu saja.
“Aku nggak akan main biola lagi, Kak. Jual aja biolanya,” ucap Mirai dengan wajah yang menunduk. Sakit memang mengatakan itu tetapi mau bagaimana, kondisi tangannya sekarang tidak baik, ia juga tidak tahu kapan bisa kembali memainkan biola dan apa mungkin ibunya memberikan ijin untuk hal tersebut.
“Lho kenapa? Jangan ngomong kaya gitu, Kakak yakin kamu akan main biola lagi, lagian kondisi tangan kamu nggak akan selamanya.”
“Percuma, Kak. Aku nggak akan di kasih ijin juga kan buat main alat musik, aku emang nggak punya dukungan buat mewujudkan apa yang aku mau, aku selalu salah di mata Mama, aku selalu menjadi anak yang nggak berguna.”
“Rai!” seru Ayu tidak suka ketika Mirai mengatakan hal tersebut, apalagi mengatakan bahwa ia selama ini menjadi anak yang tidak berguna, tidak seperti itu kan. “Kamu nggak boleh nyerah gitu aja, Kakak dukung kamu buat lakuin apa yang kamu mau, Papa juga pasti dukung kamu, soal Mama nanti kita bujuk baik-baik, nggak mungkin Mama selamanya nggak suka sama dunia musik kan. Kamu harus bisa meyakinkan bukan malah mau menyerah,” lanjut Ayu. Ia tidak ingin adiknya menyerah begitu saja, Ayu ingin melihat Mirai bisa melakukan apa yang di inginkan, bermain musik yag selama beberapa waktu ke belakang di lakukan oleh Mirai.
“Tapi—“
“Nggak ada tapi, Rai. Kakak di sini buat mendukung kamu, Kakak selalu ada di samping kamu, kita yakinin Mama sama-sama, Kakak yakin Mama pasti luluh.” Ayu memotong perkataan adiknya. Bagaimana pun Mirai harus tetap melakukan apa yang selama ini di inginkan, Ayu tidak ingin melihat adiknya menyerah begitu saja.
“Makasih, Kak. Kak Ayu dukung aku dan selalu kasih semangat buat aku.”
“Kita saudara. Udah seharusnya kaya gitu kan.”
**
“Ma, kamu nggak kasihan sama anak kita, jangan terlalu keras sama Mirai.”
Pak Chandra tampak berbicara serius dengan sang istri. Mereka tengah berada di ruangan kerja Pak Chandra, sengaja ia mengajak istrinya ke sini untuk berbicara empat mata.
Selama Mirai pulang dari rumah sakit setelah perawatan karena kecelakaan, ia bukan tidak menyadari perubahan anak bungsunya. Sangat sadar apa yang sudah berubah dari Mirai saat ini, terutama anaknya lebih pendiam. Tidak seperti biasaya, meski memang Mirai anak yang pendiam tetapi kali ini sungguh berlebihan.
“Keterlaluan kaya gimana sih, Pa. Mama kan cuma nggak mau aja kalau anak Mama itu dekat-dekat sama dunia musik. Nggak ada yang boleh main musik di keluarga kita.”
“Tapi kasihan Mirai, Ma. Selama ini kita terlalu mengatur dia dan sekarang saat dia mau lakuin apa yang emang menjadi minat dia, Mama malah melarang bahkan sampai tampar anak kita.”
Pak Chandra semakin menyadari bahwa mereka terlalu mengatur anak bungsunya, bahkan sejak sekolah sampai masuk ke jurusan di Universitas adalah keputusan dirinya dan sang istri. Lebih-lebih istrinya yang terlalu mengatur karena saat itu Mirai masih kebinngungan menentukan pilihan.
“Mama mau yang terbaik buat anak kita, memangnya salah Mama di mana, Pa?”
“Iya, Papa tahu. Sebagai orang tua tentu kita menginginkan yang terbaik buat anak kita, tetapi sekarang Papa sadar, kita terlalu mengatur anak bungsu kita, apalagi kita selalu nggak sadar membandingkan dengan Ayu. Papa benar-benar baru menyadarinya sekarang.”
“Dan ini udah yang terbaik buat Mirai.”
“Nggak, Ma. Mirai memang penurut tetapi kita nggak boleh menuntut, sekarang Papa tahu kalau memang Mirai memiliki bakat di dunia musik, Ayu kasih tahu sama Papa kalau Mirai dapat juara di perlombaan musik beberapa waktu lalu, hari di mana Mirai kecelakaan.”
Bu Gita tampak semakin kesal, ia benar-benar tidak ingin anaknya masuk di dunia musik, tidak ada yang boleh berada di dunia itu.
“Mama tetap nggak suka.”
“Ayo lah, Ma, berdamai sama masa lalu. Jangan sampai anak kita jadi korbannya.”