Memberikan kesempatan

1518 Kata
Mirai kembali menjalani harinya seperti biasa, masuk kuliah kembali setelah ia pulih dari kecelakaan, meski tangannya masih harus melakukan pengobatan, setidaknya sekarang bisa di gerakan meski Mirai harus dengan perlahan menggerakan tangannya. Tangan kirinya yang memang berada di kondisi tidak baik-baik saja. Selama melakukan kegiatannya kembali, Mirai berhenti bermain biola. Bukan hanya kondisi tangannya saja yang tidak mengungkinkan, tetapi memang Mirai merasa sudah tidak berarti lagi apa yang ia inginkan, di tambah sang ibu yang sejak awal tahu sampai sekarang masih juga tidak ingin mengetahui dirinya mendalami dunia musik. Tentang Aksa, Mirai juga belum tahu kondisi lelaki itu sekarang. Terakhir ia mendapatkan kabar dari Zahra kalau Aksa mulai berada di kondisi yang stabil meski sampai sekarang belum juga siuman. Mirai tidak tahu Aksa sedang bermimpi apa sampai lama sekali lelaki itu sadar, ia begitu khawatir mendengar kondisi Aksa yang masih belum sadar, sama seperti yang ia lihat waktu itu. “Kamu baik-baik aja, Rai?” Dewi yang sejak tadi memerhatikan Mirai tampak melamun, sejak Mirai kembali dengan aktifitas kuliahnya, gadis itu memang tidak begitu banyak bicara. Iya sih, Dewi tahu Mirai selama ini memang bukan teman yang bisa di katakan bawel atau pendiam, ya seimbang lah antara keduanya, tetapi sekarang temannya itu malah menjadi pemurung, pendiam dan pokoknya Dewi merasa yang ada di sampingnya ini bukan lah Mirai yang ia kenal. “Ya seperti ini, Wi.” “Kamu nggak kaya Mirai yang aku lihat biasanya.” Dewi tahu semuanya, dia juga melihat sendiri bagaimana ibunya Mirai tidak suka kalau Mirai mendalami musik, Dewi juga tahu kondisi Aksa yang sekarang masih belum sadar, tidak menyangka hari itu di mana seharusnya mereka benar-benar merasa bahagia sampai akhir, nyatanya ia mendapatkan kabar kalau Mirai dan Aksa kecelakaan. Dewi pikir setelah kecelakaan ini, setelah Mirai mendapatkan juara di perlombaan waktu itu, bisa membuat ibunya Mirai sedikit luluh dan membiarkan Mirai melakukan keinginannya, tetapi pemikiran ia salah, Tante Gita bahkan tidak sedikit pun memberikan kesempatan kepada Mirai untuk memegang biolanya lagi. “Kenapa hidup aku kaya gini ya, Wi.” Mirai tiba-tiba berbicara tanpa menoleh ke arah Dewi yang tengah duduk di sampingnya. Tatapan gadis itu seolah tengah menerawang jauh sekali. “Kaya gini gimana sih, Rai. Aku udah bilang sama kamu kan, nggak seharusnya kamu menyeah, kamu pasti bisa kembali bangkit. Aku tahu kamu masih ingin main biola kan.” “Nggak ada artinya lagi, Wi. Lagian kondisi tangan aku sekarang udah nggak mendukung, mimpiku yang pernah ada, sekarang musnah gitu aja.” “Rai, kamu nggak perlu bilang kaya gitu. Mimpi kamu masih ada, nggak musnah. Aku yakin kamu bisa kembali main biola, lagian tangan kamu masih bisa sembuh, sekarang aja udah bisa di gerakin kan walau pelan-pelan.” “Tapi, karena aku main biola, karena hari itu aku ikut perlombaan musik, Aksa sampai nggak sadar kaya sekarang. Aku sama dia kecelakaan, Mama bahkan sampai tampar aku waktu itu karena tahu aku main musik. Semuanya udah sia-sia, nggak ada yang bisa aku lakukan lagi, bahkan memulai aja aku nggak tahu harus kaya gimana.” “Mirai ... teman aku yang kusayangi, yang selalu ada di samping aku, pun sama aku yang ada di samping kamu. Nggak ada yang sia-sia, kamu hanya butuh waktu lagi buat mulai semuanya, buat membuktikan ke orang tua kamu kalau emang ini yang kamu mau, musik yang selama ini menjadi mimpi kamu. Mirai hanya diam. Ia tidak tahu harus bagaimana, hati kecilnya memang masih ingin melakukan apa yang memang ia inginkan, bermain alat musik seperti yang selama ini ia pelajari dari Aksa, tetapi ia juga tidak mungkin menentang orang tuanya dengan terus berada di dunia musik. Mirai masih tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, di tambah ia masih memikirkan kondisi Aksa, semuanya karena dirinya, kalau saja Aksa tidak mengantarkan ia pulang, pasti lelaki itu tidak mendapatkan luka yang serius seperti ini. ** Bu Gita menyadari sikap anak bungsunya akhir-akhir ini. Mirai yang dulu selalu ia lihat ceria bahkan sesekali bercerita kepadanya perihal apa pun, kali ini anaknya berubah. Tidak ada wajah yang ceria, lebih sering terlihat murung dan melamun. Bahkan yang Mirai lakukan hanya kuliah, pulang dan berada di kamarnya. Tahu perubahan pada Mirai sedikitnya membuat ia merasa ikut sedih dan bersalah. Tetapi ia masih belum bisa membiarkan Mirai berada di dunia musik. “Ma.” Ayu menghampiri sang ibu yang tengah memasak di dapur, ia baru saja pulang dari restoran dan tadi sempat ke kamar untuk menyimpan tasnya karena rumah tampak sepi, jadi ia pikir tidak ada orang di rumah. Namun saat ia hendak mengambil minum, Ayu melihat ibunya yang tampak melamun di dapur “Mama kenapa?” tanya Ayu. “Apa Mama keterlaluan, Kak?” Bu Gita balik bertanya, persoalan Mirai membuat suaminya juga mengatakan bahwa ia keterlaluan, tidak seharusnya melakukan hal ini kepada anak mereka, tetapi tidak bisa juga ia melihat anaknya berada di dunia musik. “Tentang apa, Ma?” “Adik kamu, apa Mama keterlaluan karena melarang Mirai untuk main musik? Selama ini apa Mama terlalu mengatur adik kamu buat melakukan apa yang Mama mau?” “Mama mau aku jujur? Kalau boleh aku mau berpendapat.” Sepertinya mereka akan terlibat obrolan panjang, membuat Bu Gita mengajak Ayu ke ruangan tengah, meninggalkan masakannya karena tidak akan konsentrasi kalau ia masih memikirkan tentang Mirai dan semua yang ia lakukan kepada anaknya. Biar lah nanti memesan makanan untuk makan malam saja. “Kamu mau ngomong apa sama Mama?” tanya Bu Gita setelah mereka berada di ruang tengah dan duduk nyaman bersebelahan. “Sebenarnya Ayu udah tahu dari lama kalau Mirai suka banget sama musik, main musik dan semua hal tentang dunia musik ...” Ayu menjeda perkataannya, melihat bagaimana respon sang ibu, namun Bu Gita tampak diam memilih mendengarkan lebih dulu apa yang di katakan oleh anaknya. “Mirai begitu senang setiap kali berhadapan dengan musik, kedua matanya nggak bisa bohong setiap kali melihat biola yang diam-diam ia lihat videonya di internet, waktu itu Ayu nggak sengaja lihat dia lagi nonton video orang lagi main biola.” Bu Gita masih diam mendengarkan, ia sama sekali tidak tahu bahwa selama ini anak bungsunya tampak memiliki minat pada musik. Yang ia tahu hanya Mirai tidak tahu harus melanjutkan sekolah ke mana, mengambil jurusan apa. Bu Gita tidak pernah tahu bahwa Mirai memiliki bakat dalam bermusik. “Ayu senang banget waktu Mirai jujur kalau dia mau belajar main biola, matanya berbinar setiap kali Ayu tanya tentang biola, kenapa dia mau main alat musik, sejak kapan ia mau belajar biola. Semua jawaban yang Mirai kasih ke Ayu dengan kedua mata yang ceria, Ayu bahkan baru melihatnya dan Ayu sadar kalau Mirai benar-benar akan melakukan yang terbaik untuk apa yang ia mau.” “Ma, selama ini Mirai nggak pernah menuntut apa pun kan, nggak pernah memaksa untuk membeli sesuatu atau untuk keinginan lainnya kaya remaja seumuran dia di luaran sana, selama ini yang Ayu lihat Mirai selalu nurut apa yang di katakan Mama sama Papa. Mirai juga masuk jurusan yang di pilih sama Mama, dia nggak protes sama sekali, memang saat itu Mirai mungkin masih bingung maunya apa sampai akhirnya Mama bilang masuk jurusan Bahasa Jepang, akhirnya Mirai nurut.” Mendengar perkataan Ayu membuat kedua mata Bu Gita berkaca-kaca, ia tahu anaknya memang tidak pernah memaksa ketika ingin sesuatu. Kedua anaknya begitu penurut, apalagi Mirai yang selama ini tidak pernah protes dan selalu menuruti apa yang ia katakan. Termasuk masuk kuliah di jurusan Bahasa Jepang. “Masuk jurusan Bahasa itu hal yang paling sulit buat Mirai. Ia berusaha belajar buat ngejar ketertinggalan karena yang masuk jurusan itu sebagian besar adalah siswa yang memang sebelumnya berada di jurusan bahasa, sementara Mirai belajar dari nol. Sama sekali nggak pernah tahu huruf dan segala macam tentang bahasa asing itu. Tapi demi Mama, supaya nggak mengecewakan Mama dan Papa, Mirai berusaha keras, aku tahu karena aku lihat dia yang hampir setiap malam belajar di semester pertamanya masuk jurusan itu, mengejar ketertinggalannya.”   Ayu masih terus bicara tanpa di jeda sedikit pun oleh Bu Gita. Ayu hanya ingin ibunya tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Mirai. Selama ini dia tidak mengatakan semua itu karena ia pikir ibunya tidak akan melakukan hal yang di luar dugaan, tetapi Ayu melihat ibunya bahkan sangat keterlaluan sampai tidak mengijinkan Mirai untuk bermain musik, meski alasannya karena masa lalu, tetapi tidak seharusnya kan Mirai menjadi korbannya saat ini, apalagi Mirai begitu semangat melakukan apa yang sedang ia inginkan. “Ma, Ayu nggak tahu apa yang terjadi di masa lalu sampai Mama kaya benci banget sama hal yang berhubungan dengan dunia musik, yang Ayu tahu dari Papa memang Mama seperti ini karena masa lalu. Tapi Ayu mohon, jangan sampai adik Ayu yang jadi korbannya, jangan sampai Mirai merasa nggak di dukung untuk mewujudkan apa yang ia mau dan Ayu nggak mau Mirai berpikir kalau Mama pilih kasih, bisa mendukung Ayu dalam bidang kuliner tetapi nggak mendukung Mirai di dunia musik. Ayu nggak mau seperti itu, Ma.” Ayu menggenggam tangan sang ibu, kedua matanya menatap penuh ketegasan dan permohonan kepada sang ibu. “Ma, kasih Mirai kesempatan buat mewujudkan mimpinya ya. Dia berhak melakukan apa yang dia mau selagi itu bukan hal yang merugikan.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN