“Rai, kamu udah ngerjain tugas sakubun?” tanya Fani yang duduk di hadapan Mirai sembali memakan bakso yang tadi di pesannya. Ia baru ingat kalau mereka memiliki tugas sakubun dari Dosen kemarin dan harus di kumpulkan besok.
“Tugas apa?”
“Masa kamu lupa sih, kita kan kemarin di kasih tugas buat bikin karangan tentang watashi no yume alias mimpi saya.”
“Aku nggak ingat, Fan. Makasih ya, untung kamu bilang ini.”
“Kamu kenapa sih, Rai?” tanya Fani. Penasaran sekali karena akhir-akhir ini Mirai kelihatan tidak fokus, bahkan tugas saja biasanya Mirai yang selalu mengingatkannya tetapi sekarang gadis itu malah lupa dengan tugas yang kemarin di berikan.
Mirai menggeleng, “Nggak apa-apa, mungkin emang kecapekan aja.”
“Kalau ada masalah cerita, Rai. Aku emang nggak bisa kasih solusi tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik, tapi kalau nggak mau cerita juga nggak apa-apa, yang penting kamu ingat sama tugas, awas lho lupa besok di kumpulin.”
Mirai tampak mengangguk. Ia juga tidak tahu kenapa bisa sampai lupa padahal tugas yang di berikan kemarin, bukan beberapa waktu ke belakang, beruntung Fani membahasnya, kalau tidak sepertinya Mirai tidak akan ingat.
Mirai masih memikirkan apa yang di katakan oleh Dewi tadi, sebelum kelas berikutnya yang memang jadwal mereka sama hari ini, Mirai bertemu dengan Dewi dan berbincang lebih dulu sebelum akhirnya menghampiri Fani yang memang sudah sejak tadi di perpus, gadis itu memang suka di sana, apalagi kalau bukan memanfaatkan wifi perpus. Jangan berpikir untuk mencari buku atau membaca, tidak sama sekali.
Mirai tahu ia tidak boleh menyerah dengan apa yang sudah ia lakukan sejauh ini, apalagi dia di bantu oleh Aksa, lelaki itu bahkan bersemangat untuk membuat Mirai bisa memainkan biola sampai seperti sekarang, tetapi mengingat bahwa ibunya tidak suka dia berada di dunia musik membuat Mirai berpikir lagi, apa bisa ia melakukan semuanya tanpa ijin dari orang tua, Mirai tidak ingin membuat orang tuanya kecewa apalagi ibunya, meski ia juga tahu sekarang sudah membuat kecewa karena ketahuan bermain musik.
Hanya saja Mirai kembali mengingat perjalanan dia sampai bisa mengikuti lomba waktu itu, semuanya begitu membuat ia senang, Mirai suka sekali melakukan semua ini apalagi bisa memainkan biola yang merupakan alat musik yang selama ini ingin ia pelajari.
Selain Aksa yang mengajarkan dia sampai sejauh ini, Mirai juga punya Dewi yang terus mendukungnya sampai hari ini bahkan temannya itu mengatakan bahwa Mirai tidak boleh menyerah. Orang-orang yang berada di dekatnya begitu mendukung apa yang sedang ia lakukan, tetapi kenapa orang tuanya sendiri tidak memberikan itu semua, Mirai bahkan penarasan apa yang sebenarnya terjadi sampai sang ibu begitu terlihat tidak menyukai dunia musik.
“Rai!”
Mirai tersentak mendengar seruan Fani. Ah ... ia melamun padahal sedang bersama dengan Fani. Terlalu memikirkan apa yang terjadi sampai tidak bisa konsentrasi seperti ini, lalu apa yang harus ia lakukan sekarang, kembali berjuang atau menyerah saja?
“Kamu ngelamunin apa sih? Asyik banget kayanya,” ucap Fani menyadari bahwa Mirai sejak tadi tengah melamun. Omongan dia saja tidak di dengar oleh Mirai, padahal tadi ia sedang bertanya Mirai akan menulis apa saja, sampai sekarang ia tidak tahu apa yang harus di tulis meski sudah jelas tema karangannya apa.
“Maaf, Fan. Aku lagi nggak fokus, tadi kamu bilang apa?” tanya Mirai merasa tidak enak hati karena ia mengabaikan Fani yang berada di dekatnya.
“Aku tanya kamu mau tulis apa aja dan berapa panjang itu sakubun?”
“Belum tahu, tentang mimpi ya? Bahkan aku ngerasa mimpi aku udah nggak ada, Fan.”
“Kok kamu bilang gitu?”
“Gitu lah, Fan. Aku juga bingung banget sekarang, belum bisa cerita sama kamu, maaf ya, Fan,” balas Mirai.
Fani tersenyum menepuk bahu Mirai dengan begitu pelan, “Nggak apa-apa, Rai. Senyaman kamu aja mau cerita atau nggak, tapi aku cuma mau bilang sama kamu, jangan pernah bilang kalau mimpi kamu nggak ada, karena itu nggak mungkin, kamu hanya belum tahu apa yang menjadi mimpi kamu, bukan nggak ada.”
“Lagian semua orang pasti punya mimpi, kaya aku ini, mimpiku jadi istri Gama Sensei.”
“Fani!” seru Mirai melihat Fani cekikikan, memang teman satu kelasnya itu tidak pernah bisa di ajak serius, sedang membicarakan tugas malah belok ke arah lain. Fani bucin sekali pada dosennya itu.
**
Mirai baru saja sampai di rumah, setelah seharian berada di kampus kemudian pulang dari kampus menjalani terapi di rumah sakit, ia pun kembali ke rumah agak sore. Memang selama kondisi tangannya sudah terlihat membaik, Mirai tidak lagi di antar saat ke rumah sakit untuk memeriksa dan mengobati tangannya kembali, semua itu Mirai yang mau. Dia bisa sendiri kan.
Masuk ke dalam rumah, ia melihat ibunya tengah bersama dengan sang kakak. Mereka kelihatan serius sekali, mungkin memang tengah membahas sesuatu atau tentang pernikahan kakaknya yang akan di lakukan bulan depan. Mundur dari waktu yang seharusnya karena lagi-lagi kecelakaan kemarin yang membuat kakaknya ingin melihat Mirai sembuh lebih dulu dan beruntung pihak lelaki tidak mempermasalahkannya. Hanya Mirai saja yang merasa tidak enak karena gara-gara dia jadi begitu.
“Pulang dari rumah sakit?” tanya Ayu mendapati adiknya menghampiri mereka, Ayu harap Mirai tidak mendengar apa yang di bicarakannya dengan sang ibu. Sementara Bu Gita tampak memandang Mirai dengan tatapan tak terbaca.
“Iya, Kak,” balas Mirai singkat.
“Gimana kata Dokter?” kali ini Bu Gita yang mengeluarkan suara.
“Baik, aku ke kamar dulu, Ma, Kak,” pamit Mirai. Tanpa mendengar jawaban dari kakak dan ibunya, Mirai langsung berjalan ke arah kamarnya. Seperti biasa, ia lebih sering menghabiskan waktu di kamar.
Ayu dan Bu Gita membiarkan Mirai naik ke kamarnya, tidak ingin membuat Mirai merasa tidak nyaman di rumah, meski hubungannya dengan sang ibu kembali baik, tetapi Mirai tentu masih mengingat bagaimana perlakuan sang ibu kepadanya, perihal tamparan waktu itu. Mirai masih tidak menyangka dengan respon ibunya, berlebihan kan.
“Ma, pikirin apa yang aku bicarain tadi ya.”
Ayu beranjak dan membiarkan sang ibu berada di ruang tengah. Ia memberikan waktu kepada ibunya untuk merenung memikirkan apa yang tadi ia katakan, Ayu benar-benar tidak ingin Mirai sampai beranggapan bahwa orang tua mereka hanya mendukung dirinya saja, tidak mendukung apa yang menjadi keinginan Mirai.
Sementara Bu Gita yang masih berada di ruang tengah tampak diam, tidak mudah untuk bisa berdamai dengan apa yang terjadi di masa lalu, lukanya masih terkenang sampai sekarang. Tetapi ia juga tidak ingin membuat anaknya merasa di kekang dan tidak di berikan dukungan.
**
Mirai menoleh mendapati ibunya masuk ke dalam kamar, ia baru saja selesai mengerjakan tugas sakubun yang di katakan oleh Fani di kampus tadi, meski kebingunan dan merasa tidak memiliki mimpi lagi, tetapi Mirai harus mengerjakan tugasnya dengan baik, tidak mungkin kan ia membiarkan tugas sakubunnya kosong karena ia yang tidak memiliki mimpi setelah merasa semuanya sudah berakhir.
Mirai tidak mungkin menyangkut pautkannya dengan tugas kan.
“Mama mau bicara sama kamu, Dek.”
Mirai mengangguk dan segera menyingkirkan bukunya lalu mereka duduk di sofa yang tidak jauh dari meja belajar milik Mirai. Bu Gita sempat melihat sebuah gambar biola yang berada di dekat meja belajar, ia memang baru melihatnya karena selama ini jarang sekali masuk ke kamar anak bungsunya, kalau pun ke kamar ia tidak begitu memerhatikan sekeliling kamar milik anaknya.
“Mama mau minta maaf lagi sama apa yang udah Mama lakuin ke kamu waktu itu.”
“Semuanya udah berlalu, Ma.” Mirai tahu dirinya masih tidak menyangka dengan apa yang di lakukan oleh ibunya tetapi tidak seharusnya ia memendam perasaan kesal apalagi kepada orang tua kan dan akhirnya Mirai melupakan semua dan sudah memaafkan sang ibu.
“Mama benar-benar melukai kamu kan. Mama bukan membedakan antara kamu sama Kakak kamu, sama sekali nggak ada niatan buat begitu. Kalian sama-sama anak Mama dan Papa, kami mendukung apa yang kalian mau. Tetapi untuk di dunia musik, Mama sendiri punya alasan kenapa Mama nggak mau anak Mama ada di dunia itu.”
Mirai mendengar semua yang di katakan oleh sang ibu. Ia sudah menduga ada alasan di balik ketidaksukaan ibunya pada dunia musik, melarang anak-anaknya untuk bermain musik. Tetapi apa tidak bisa berdamai dengan masa lalu dan tidak melibatkan dia seperti ini.
“Mungkin kamu memang perlu tahu apa yang terjadi dan Mama juga akan berusaha untuk berdamai dengan masa lalu, Mama nggak mau kamu kehilangan mimpi kamu.”
Setelah tadi kembali memikirkan semuanya dan suaminya yang mengatakan terus menerus tentang berdamai dengan masa lalu, akhirnya ia pun akan menjelaskan semua kepada Mirai, pun dengan Ayu yang kembali mengatakan untuk tidak membuat Mirai kehilangan mimpinya. Bu Gita juga tidak ingin melakukan itu dan mungkin sudah waktunya ia berdamai dan menceritakan semuanya kepada Mirai.
“Dunia musik mengingatkan Mama pada Tante kamu, Tante Gina.”