“Kak, aku dapat kesempatan buat ke Italia!” seru Gina kepada kakaknya, Gita.
Gadis itu tampak berbinar mengatakan kabar baik kepada kakaknya. Mereka sedang berada di meja makan, tengah menyantap sarapan hanya berdua karena kedua orang tuanya sudah dua hari ini berada di luar kota.
“Kesempatan apa? Coba jelasin, nggak paham banget aku.” Gita yang sejak tadi menyantap nasi goreng yang di siapkan oleh asisten rumah tangganya tampak menatap sang adik dengan penuh rasa penarasan.
Adiknya ini memberikan kabar setengah-setengah, ia kan tidak tahu kesempatan apa yang di maksud oleh Gina. Ke Itali ini untuk liburan atau mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan.
“Kesempatan buat tampil main biola di Italia, Kak. Ya masa lanjut pendidikan, mau belajar apa lagi otak aku udah pusing banget.”
“Ya kali aja kamu mau belajar lagi kan.”
“Nggak lah, Kak. Udah penuh banget otak aku, lama-lama aku malah mual karena tambahan materi pelajaran.”
“Ini kamu beneran ke Itali?” tanya Gita yang sepertinya baru paham apa yang di katakan oleh adiknya, fokus dia terbagi dengan pembicaraan adiknya dan dengan sarapan pagi ini, jadi wajar kalau masih kebingungan kan.
“Yaelah, Kak. Dari tadi aku nyerocos itu ya di dengar lah.” Gina tampak sebal sekali mendengar kakaknya yang kembali bertanya, padahal sejak tadi sudah ia jelakan kalau dirinya akan pergi ke Italia. “Ke Italia. Aku mau tampil main biola di sana,” ucapnya kembali dengan nada tegas.
Gita yang ikutan senang mendengar kabar tersebut tampak tersenyum lebar. “Selamat ya, Na! Aku senang banget kamu bisa wujudkan mimpi kamu ke luar negeri. Ya ampun! Adik aku bakalan manggung di luar negeri!” serunya membuat mereka sama-sama tersenyum.
“Makasih, selama ini kamu sebagai kakak aku juga mendukung banget, meski Bunda sama Ayah nggak begitu memerhatikan aku karena sibuk kerja, aku beruntung punya saudara seperti kamu yang malah jadi sosok ibu banget buat aku, kamu benar-benar paling mengerti dan selalu ada buat aku.”
“Udah seharusnya begitu kan. Apalagi kita hanya berdua kalau orang tua kita kerja, sebagai saudara aku akan terus mendukung kamu selama itu membuat kamu merasa senang dan nyaman melakukannya, termasuk bermain musik.”
“Aku juga akan mendukung kamu melakukan apa pun yang kamu mau, kitia sama-sama saling mendukung ya.”
Gita dan Gina tersenyum bahagia, selama ini memang kedua orang tua mereka begitu sibuk dengan pekerjaan. Membuat mereka lebih sering berdua di rumah dan melakukan semuanya dengan menjadi anak yang mandiri. Apalagi Gita sebagai seorang kakak yang sekaligus menjaga adiknya, saudara satu-satunya yang tentu saling melindungi dan menyayagu satu sama lain.
Gita dan Gita hanya berbeda satu tahun, membuat mereka selain sebagai kakak dan adik, mereka juga lebih seperti teman. Tidak pernah bertengkar apalagi Gita yang memang menjadi kakak yang begitu perhatian dan menyayangi adiknya, selalu mengusahakan yang terbaik untuk adiknya, termasuk mendukung Gina untuk mewujudkan mimpinya menjadi pemain biola profesioal sampai di titik ini.
**
“Aku berangkat dulu ya, bakalan kangen banget karena jadi kali pertama kita jauhan sampai luar negeri bukan luar kota lagi.”
Hari ini adalah keberangkatan Gina ke Itali, tadi sempat pamitan kepada orang tuanya yang kembali harus pergi ke luar kota setelah seminggu yang lalu baru saja pulang dari Semarang. Bahkan keberangkatannya ke bandara saja hanya di antar oleh Gita dan supir mereka.
“Iya pasti aku juga bakalan kangen, apalagi kalau bukan sama rutinitas malam kita, maskeran sambil curhat.” Gita terkekeh mengatakan apa yang selalu mereka lakukan di malam hari menjelang tidur. Mereka selalu bergiliran tidur di kamar masing-masing meski kamar mereka bersebelahan, apalagi kalau sudah maskeran di tambah sesi curhat, sudah pasti mereka akan tidur sama-sama selesai curhat semalaman.
“Nanti kabarin aku kalau kamu sudah sampai di sana,” ucapnya kembali kepada Gina.
“Pasti, aku juga bakalan fotoin suasana di sana dan kirim ke kamu, biar kamu bisa cepetan ke sana. Pokoknya di hari aku tampil, kamu harus udah ada di sana, kalau bisa tiga hari sebelumnya,” pinta Gina yang sedikit dengan paksaan.
Gita memang akan berada di Italia selama seminggu, terhitung hari ini keberangkatannya yang setelah sampai di sana akan melakukan banyak kegiatan, selain latihan bersama dengan teman-teman yang lain, ia juga akan melihat lokasi yang di pakai untuk acara nanti di hari ke lima berada di sana.
“Kalau kerjaan aku nggak banyak.”
“Ih sok sibuk! Lagian kan udah di kasih ijin sama Bunda sama Ayah, mereka malah biarin kamu ikut sama aku hari ini, biar kita liburan sekalian.”
“Iya-iya aku usahain. Udah sana nanti ketinggalan pesawat kamu nangis,” usir Gita yang tentu saja hanya sebuah candaan mereka.
“Dasar! Ya udah aku berangkat ya, pokoknya aku tunggu kamu di sana.”
Gita mengangguk, tentu saja ia akan segera menyusul. Karena dia juga ingin sekali melihat penampilan Gina apalagi di luar negeri seperti ini. Gita merasa bangga kepada adiknya karena sudah menjadi pemain biola profesional yang bahkan sekarang sampai ke luar negeri. Bahkan Gita sudah berencana akan pergi besok sekaligus memberikan kejutan kepada Gina di sana.
“Bye Kak Gita. Jangan kangen ya, jangan lupa juga makan yang banyak biar nggak kurus, jaga kesehatan juga, makasih udah dukung aku sampai di titik ini.”
Pelukan keduanya membuat suasana menjadi melow. Entah kenapa Gita merasa perkataan Gina ini seolah perpisahan mereka. Meski benar adanya, mereka memang akan berpisah karena Gina yang pergi ke luar negeri, tetapi Gita juga akan menyusul jadi tidak benar-benar berpisah kan.
“Hati-hati ya, pokoknya langsung kabarin aku kalau udah sampai di sana.”
“Pasti, jaga kesehatan ya, kamu sering kena flu kalau udah kecapekan.”
“Iya bawel, sana kasihan yang lain udah tungguin kamu.”
Gina mengangguk kemudian kembali memeluk kakaknya dengan begitu erat, sebelum menyusul teman-teman lain yang memang berangkat sama-sama di hari ini.
**
“Berita selanjutnya, kami baru saja mendapatkakn kabar sebuah kecelakaan pesawat terjadi di duga karena cuaca buruk yang membuat mesin pesawat mengalami kerusakan. Pesawat tersebut di informasikan terbang dari Indonesia menuju Itali.”
Prang!
Gelas yang berada di tangan Gita terjatuh, tubuhnya menegang setelah melihat berita tersebut. Meluruh merasakan tubuhnya tidak bertenaga, pesawat jatuh? Menuju Itali?”
“Gina ...” lirinya.
“Berikut nama-nama korban yang menjadi penupang di pesawat menuju Itali ... Regina Putri Setiadi, perempuan berusia dua puluh empat tahun ....”
“Nggak mungkin.” Gita semakin terisak mendengar penumpang yang memang merupakan adiknya.
Mereka baru berpisah beberapa jam kan, kenapa sekarang Gita meninggalkan dirinya untuk selamanya. Ini semua mimpi, Gita merasa memang mimpi buruk untuknya, tetapi kenyataan yang ada memang benar begitu, adiknya menjadi korban di kecelakaan tersebut.
**
“Kehilangan Tante Gina buat mama trauma kalau dengar orang-orang yang bergelut di dunia musik. Apalagi keluarga sendiri, Mama nggak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Tante Gina saudara Mama satu-satunya dan kehilangan dia bikin Mama terpukul. Seharusnya Mama ikut di hari itu atau seharusnya Mama nggak kasih ijin aja buat dia pergi ke luar negeri kalau Mama tahu pada akhirnya Mama kehilangan dia buat selamanya.”
Mirai ikut menangis mendengar cerita tantenya yang mengalami kecelakaan pesawat. Semula Bu Gita tidak percaya dengan kabar tersebut dan meyakinkan diri bahwa adiknya bukan berada di pesawat itu tetapi saat pihak maskapai memberikan informasi bahwa tidak ada yang selamat karena sebelum pesawat jatuh terjadi ledakan, pun saat memastikan nama-nama penumpang, semuanya terjadi begitu cepat dan nyata di depan mata.
Semua yang terjadi kepada adiknya membuat Bu Gita mengalami trauma. Bahkan tidak ingin ada satu orang pun terutama anak-anaknya yang mengikuti jejak adiknya bermain musik, karena Bu Gita merasa semua itu awal dari kehilangan adiknya. Itu sebabnya kenapa ia marah kepada Mirai saat tahu anak bungsunya malah memiliki bakat yang sama seperti adiknya, ia tidak ingin kehilangan anaknya seperti kehilangan adik yang begitu ia sayangi. Meski memang takdir setiap orang berbeda, tetapi trauma itu membuat ketakutan berlebihan pada dunia musik.
“Tapi Mama nggak mungkin terus terpuruk dan ketakutan seperti ini. Mama juga nggak mau kamu berpikir kalau Mama membedakan kamu dengan Ayu, nggak sama sekali. Kalian sama di mata Mama dan Papa.”
“Kalau emang Mama nggak mau aku main musik, aku akan berhenti, Ma.” Mirai menatap kedua mata sang ibu, tidak ingin membuat ibunya sedih apalagi kembali mengingat peristiwa yang membuat kehilangan Tante Gina.
“Nggak, Dek. Mama harus berdamai dengan masa lalu, Mama pengin kamu melakukan apa yang memang kamu mau. Mama sadar selama ini terlalu mengatur kamu bahkan memasukkan kamu di jurusan yang sama sekali nggak kamu mau. Mama minta maaf,” ucap Bu Gita kepada Mirai.
Mirai tersenyum tipis, “Nggak, Ma. Pilihan Mama tentu menjadi pilihan baik untuk aku. Mama nggak mungkin memilih sesuatu yang salah untuk anak sendiri, aku tahu ini yang terbaik buat aku dari Mama sebagai orang tua aku.”
“Kamu anak Mama yang selama ini begitu penurut, nggak pernah membantah.”
“Aku nggak mau Mama sedih.”
“Tapi Mama akan sedih kalau menghalangi kamu mewujudkan mimpi. Kamu bisa main biola lagi, Dek. Buat Mama yakin kalau apa yang terjadi di masa lalu nggak akan terulang untuk kedua kalinya di masa sekarang, buat Mama yakin kalau memang takdir setiap orang berbeda, buat Mama yakin kalau Mama nggak akan kehilangan kamu karena dunia musik.”
“Mama beneran kasih aku ijin buat main biola lagi?”
Bu Gita mengangguk,”Lagipula Mama bangga sama kamu, udah menang perlombaan dan memang kamu berbakat di musik.”
“Mama tahu?”
“Ayu cerita dan Mama juga sempat ketemu sama Aksa, teman kamu.”
“Aksa?”
“Iya, dia waktu itu temuin Mama dan bilang kalau anak Mama ini berbakat banget. Mama benar-benar nggak nyangka kalau kamu memiliki bakat yang sama kaya Tante Gina, Mama seperti melihat adik Mama sendiri waktu lihat kamu main biola.”
“Mama lihat aku main biola di mana?”
“Aksa yang kasih video kamu lagi latihan, kayanya cowok itu suka sama kamu ya.”