Hari di mana Aksa bertemu dengan Ibu Mirai.
Tidak tahu kenapa semakin lama, Aksa ingin terus membantu Mirai dalam mewujudkan keinginannya. Aksa ingin melihat Mirai terus tersenyum sambil memainkan biolanya, gadis yang waktu itu Aksa temui secara tidak sengaja nyatanya mampu membuat hari-hari Aksa berwarna, gadis itu membuat Aksa semakin tertarik dan ingin melindungi.
Aksa tahu mungkin ini terlalu cepat mengingat, ia dan Mirai baru saja bertemu beberapa waktu ini, tetapi Aksa yakin dengan apa yang dia rasakan, selama ini ia tidak pernah merasakan hal yang seperti sekarang ia rasakan. Aksa tidak hanya tertarik kepada gadis yang begitu menis dengan lesung pipinya, tetapi Aksa jatuh cinta untuk yang pertama kepada Mirai, gadis yang begitu semangat berlatih biola.
Namun tentu saja Aksa tidak ingin Mirai tahu apa yang ia rasakan, tidak ingin membuat Mirai sampai merasa tidak nyaman berada di dekatnya, setidaknya bisa mengenal Mirai dan selalu dekat dengan itu adalah yang Aksa syukuri untuk saat ini, biar lah perasaannya hanya dia sendiri yang tahu.
Selepas menemani Mirai latihan seperti biasa, Aksa tidak sengaja melihat Bu Gita di toko kue saat dia di minta oleh bundanya untuk membeli kue sebelum pulang ke rumah. Aksa tentu tahu wanita itu adalah ibunya Mirai karena ia pernah melihatnya di postingan media sosial milik Mirai, Aksa juga tahu kalau gadis itu memiliki kakak perempuan.
Entah mendapat keberanian dari mana, saat itu Aksa menyapa Bu Gita dan mengenalkan dirinya sebagai teman kuliah Mirai, tentu saja berbohong tetapi tidak apa kan karena ini demi kebaikan Mirai, Aksa ingin membantu Mirai.
“Oh kamu temannya anak saya.”
Aksa mengangguk, “Iya Tante, senang bertemu dengan Tante di sini.”
“Boleh kita bicara, Tan?” tanya Aksa kemudian.
“Bicara? Ada apa ya? Apa berhubungan sama Mirai?”
Aksa tersenyum, “Iya, saya mau ngasih tahu Tante sesuatu tentang Mirai.”
Bu Gita tampak setuju, penasan juga apa yang akan di katakan oleh lelaki muda yang ada di hadapannya ini, apalagi ada kaitannya dengan anak bungsunya, tentu membuat ia semakin di buat penasaran.
Akhirnya mereka pun memilih tempat untuk bicara, di Cafe yang berada di samping toko kue tersebut, tentu setelah mereka membayar kue yang di beli masing-masing. Aksa tampak gugup tetapi ia ingin ibunya Mirai tahu apa yang saat ini Mirai sukai dan melakukan dengan wajah yang begitu berbinar.
“Tante pasti nggak tahu kalau akhir-akhir ini Mirai lagi giat latihan musik.”
Bu Gita tampak terkejut mendengar perkataan Aksa, “Musik?”
“Iya, Mirai senang sekali bermain musik, keinginan untuk menjadi pemain biola yang profesional terlihat jelas di wajahnya setiap kali saya lihat Mirai latihan. Mungkin saya sudah lancang memberikan Mirai kesempatan dan berlatih dengan saya, tetapi bertemu dengan Mirai pertama kali membuat saya menyadari kalau anak Tante memiliki bakat, ternyata dugaan saya nggak salah karena memang Mirai memiliki bakat dalam bermusik.”
Bu Gita tidak memotong perkataan lelaki muda yang duduk berhadapan dengannya, meski tentu saja terkejut dan marah mengetahui kalau Mirai diam-diam bermain musik di belakangnya, dunia musik yang tidak ia sukai.
“Saya mohon setelah Tante tahu ini, Tante nggak menghakimi Mirai. Apalagi setelah saya memerlihatkan video kepada Tante.”
“Video apa?” tanya Bu Gita.
“Tapi saya ingin Tante janji, seperti yang barusan saya katakan, jangan memarahi dan menghakimi Mirai. Biar dia sendiri yang berkata jujur kepada Tante.”
Bu Gita tampak ragu namun tak urung mengangguk, ia juga penasaran video apa yang akan Aksa berikan kepadanya. Memang ia marah tetapi tentu ia tidak akan ingkar janji.
Aksa mengeluarkan handphonenya kemudian mencari video yang tadi sempat ia rekam diam-diam. Video yang memerlihatkan Mirai tengah serius latihan biola tadi bersamanya, Aksa sengaja merekam video itu untuk di lihatnya kembali di rumah, tidak menyangka kalau hari ini ia bertemu dengan ibunya Mirai di sini.
Aksa ingin Bu Gita melihat bagaimana keinginan Mirai yang begitu besar sampai latihan begitu serius selama ini. Aksa ingin Bu Gita memberikan sedikit saja kesempatan kepada Mirai untuk melakukan apa yang di inginkan gadis itu, Aksa tahu mungkin akan sulit tetapi setidaknya ia sudah berusaha untuk membantu Mirai.
Bu Gita tampak berkaca-kaca melihat video yang di berikan oleh Aksa, terlihat Mirai begitu lihai memainkan biola mengingatkan ia kepada seseorang yang sudah lama pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Aksa yang melihat Bu Gita menghapus air matanya diam-diam tampak penasaran, sebenarnya apa yang terjadi kepada wanita yang berada di hadapannya. Apa melarang Mirai untuk bermain musik ada sangkut pautnya dengan masa lalu Bu Gita.
“Terima kasih sudah memerlihatkan video ini.” Bu Gita kembali bersikap biasa, seakan air mata yang tiba-tiba membasahi pipi tadi sama sekali tidak pernah ada.
“Sama-sama, saya harap Tante menepati janji.”
**
Mirai tidak menyangka bahwa ia di berikan ijin untuk bermain musik oleh sang ibu. Tentu saja setelah ia merasa sia-sia apalagi dengan kondisi tangannya yang masih belum pulih, lalu tidak ada ijin dari orang tua untuk bermain musik. Sekarang menjadi sebuah semangat baru untuknya.
Mirai tidak mungkin menyia-nyiakan apa yang telah di berikan oleh ibunya, apalagi mengingat Aksa yang selalu mendukung dia untuk bermain biola, pun dengan Kakak, Ayah dan Dewi yang memberikan semangat kepadanya untuk kembali bermain biola. Mirai tidak ingin membuat semua orang terdekatnya merasa sedih. Mirai akan berusaha kembali untuk bermain biola.
Kondisi tangannya sudah cukup baik, Dokter bilang satu kali lagi terapi dan akan membuat tangannya kembali bergerak seperti biasa. Tentu saja Mirai senang dengan kabar tersebut, tidak sabar untuk kembali memainkan biolanya, yang dua hari lalu sudah di berikan kembali kepadanya oleh Ayu.
“Jadi ini video yang di ambil sama Dewi waktu kamu ikutan lomba ya.”
Mirai bersama dengan keluarganya menonton video yang di berikan oleh Dewi kepadanya, video di mana ia tampil di atas panggung saat mengikuti lomba musik waktu it. Tidak menyangka kalau Dewi menyuruh orang untuk mengambil rekamannya.
Mirai mengangguk mendengar penuturan ayahnya, setelah keadaan membaik terutama ibunya yang sudah memberikan ijin, Mirai menunjukkan video itu kepada semuanya, termasuk Ayu yang duduk di sampingnya saat ini.
“Keren banget, Dek. Ayo dong kamu main biola depan kita,” ucap Ayu. Benar-benar bangga sekali kalau adiknya bermain musik begitu memukau.
“Kalau tangan aku udah bener-bener sembuh, Kak.”
“Oh iya, benar. Pokoknya kamu juga harus tampil waktu Kakak nikah, iya nggak, Ma, Pa?” Ayu menatap kedua orang tuanya.
Pak Chandra dan Bu Gita kompak mengangguk, “Bener, spesial di pernikahan Kak Ayu nanti ya,” timpal Pak Chandra tidak lupa tersenyum penuh bangga. Tidak menyangka kalau anak bungsunya memiliki bakat terpendam seperti ini.
“Mama senang banget anak-anak Mama dan Papa bisa melakukan apa yang disukai, Ayu yang punya restorang dan Mirai sekarang yang main musik. Mama minta maaf kalau selama ini tanpa sadar membandingkan kamu sama kakak kamu, selalu aja membentuk kamu supaya kaya Ayu. Mama minta maaf ya, Dek.”
Mirai tersenyum tulus, “Udah nggak apa-apa, Ma. Lagian udah berlalu, aku senang sekarang Mama kasih aku kesempatan dan ijin buat main biola.”
“Papa bangga banget sama kalian, semoga semua yang kalian harapkan bisa tercapai dan selalu lancar dalam melakukannya.”
“Amiin ...”
**
Mirai tersenyum melihat pesan yang masuk dari adiknya Aksa, Zahra. Sudah lama sekali mereka tidak bertukar kabar, terakhir minggu lalu dan ia masih mendapatkan kabar kalau kondisi Aksa masih sama membuat Mirai terus berdoa agar Aksa di berikan kesembuhan, setelah Aksa sadar dan kembali ke sini, Mirai akan menceritakan semuanya.
Selama ini Mirai juga menceritakan apa yang dia lewati dengan mengirim voice note kepada Zahra dan meminta gadis itu untuk mendengarkannya kepada Aksa. Meski belum sadar tetapi Mirai yakin dalam tidur panjangnya, Aksa mendengar suaranya.
Ini juga yang di katakan oleh Zahra, mungkin mendengar suara Mirai akan membuat kakaknya memiliki keinginan untuk bangun dari tidur panjangnya, meski sampai sekarang tidak ada tanda-tanda apa pun tetapi mereka terus berdoa untuk kesembuhan Aksa.
Mirai duduk di tepi ranjang, membuka chat yang masuk pada handphonenya, bukan hanya ada chat dari Zahra, gadis itu juga meneleponnya berulang kali tetapi Mirai tidak sempat menjawab, tadi handphonenya di kamar sementara dia baru masuk ke dalam kamar setelah makan malam dan berbincang dengan keluarganya.
Deg.
Napas Mirai rasanya berhenti. Tubuhnya mematung membaca deretan pesan yang di tulisan oleh Zahra untuknya. Mirai tidak ingin percaya tetapi apa yang Zahra sampaikan membuat hatinya terasa sakit, gadis itu juga mengatakan kalau dirinya berulang kali menelepon Mirai tetapi tidak mendapatkan jawaban sampai akhirnya ia memutuskan mengirim pesan dan berharap Mirai membacanya.
Zahra : Kak Mirai, dari tadi aku telepon kakak tapi nggak ada jawaban. Aku harap kakak baca chat aku ini. Aku mau kasih tahu sama kakak, hari ini kak Aksa udah nggak sakit lagi kak. Tapi kak Aksa udah ninggalin kita, kak Aksa udah pergi, Kak. Waktu itu kak Aksa bilang kalau dia senang banget ketemu sama kakak, dia bilang senang banget lihat kakak main biola, semoga kak Mirai bisa menjadi pemain biola terkenal. Kak Mirai, aku mau bilang, jangan nangis, aku nggak nangis kok di sini, aku harap kakak nggak menyerah dan terus bermain biola, demi kak Aksa. Janji ya, Kak. Aku mau lihat kakak main biola di atas panggung, sama seperti melihat kak Aksa main gitarnya.