Day (46): Hurt

1092 Kata
Aneira dengan cepat memutar video tersebut, Aneira seperti mengenali tempat yang menjadi latar belakang video ini. Aneira terus mencoba mengingatnya dan ternyata itu adalah gudang dimana ia mengikuti Fairel waktu itu. Tapi, siapa laki laki yang ada di video itu, wajahnya tidak keliahatan karena kurangnya penerangan yang ada di sekita sana. Tampaknya laki laki itu terlihat kesakitan sebab berulang kali ia terjerembab ke tanah dan susah payah untuk berdiri. Aneira yang penasaran terus saja menonton video itu hingga si laki laki itu berhasil masuk ke dalam mobilnya. Tunggu, Aneira menekan tombol pause di layar ponselnya. “Mobil ini, bukannya ini mobil kak Fairel?” tanya Aneira kepada dirinya Aneira tahu bahwa itu mobil Fairel, ia sangat mengenalinya. Jika itu mobil milik Fairel lalu siapa laki laki yang tampak kesakitan itu, mungkinkah itu Fairel. Batinnya tiba tiba merasa gelisah, Aneira kembali menyaksikan video tersebut untuk memastikan bahwa itu Fairel atau bukan. “Semoga itu bukan Fairel” doanya dalam hati ia tak ingin Fairel terluka seperti ini Dengan lekat Aneira memperhatikan setiap gerak gerik dan postur badan si laki laki yang ada di video tersenut. Seketika hatinya mencelos, ia bisa memastikan bahwa itu benar Fairel. “Ada apa dengan kak Fairel?” tanya Aneira mencari jawaban kepada dirinya sendiri. “Separah apa kondisi kak Fairel sampai terjatuh berulang kali seperti itu” Aneira benar benar takut dengan yang terjadi dengan Fairel, dalam keadaan seperti itu Fairel masih mengendarai mobilnya sendiri bukankah itu lebih mengancam nyawanya, Aneira tidak ingin terjadi sesuatu kepada Fairel. Nada dering ponsel mengalihkan perhatiannya ia berharap itu dari Fairel tapi ternyata itu dari Mr.X “Halo” “Lo udah lihat video yang gue kirim?” tanya si Mr.X kepada Aneira “Udah kak” “Gue nggak nyangka dia bakalan sehancur itu di tangan temannya” ucapnya terdengar sangat bersemangat “Teman?” Aneira yang tak mengerti maksud dari perkataan si Mr.X memberanikan diri untuk bertanya “Iya si Kein” Aneira terdiam mencerna semua yang dikatakan Mr.X, berarti Kein lah yang membuat Fairel menjadi seperti itu. Suara tawa terdengar dari seberang sana membuat Aneirra tak tahu harus bereaksi sama atau bagaimana. Bukankan ini sejalan dengan misinya tapi mengapa hatinya sangat khawatir hanya dengan memikirkan Fairel yang ada dalam keadaan seperti itu. Aneira memutuskan sambungan telfonnya, cukup ia tak bisa merasa bahagia di atas penderitaan Fairel. Aneira tak tahu apa masalahnya tapi ia yakin sebagian kecil pasti karena dirinya, semalam Aneira bisa melihat bahwa Kein beberapa kali mengumpat kepada Fairel dan sekarang ia melampiaskan kekesalannya kepada Fairel. Aneira menggigit bibir bawahnya, mencoba memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk Fairel dengan keadaan seperti ini. Aneira terus menimbang nimbang untuk menelfon Fairel atau tidak, logikanya terus mengatakan bahwa dirinya lebih baik tak menghubungi Fairel tapi hati kecilnya terus menginginkan agar dirinya mengetahui kabar dari Fairel. Cemas dan khawatir adalah perasaan yang paling dominan dalam diri Aneira. Akhirnya setelah penuh pertimbangan Aneira mencoba menelfon Fairel. Terdengar nada sambung dari seberang sana, lama Aneira menunggu tapi tak juga diangkat. Aneira tak menyerah terus menelfon Fairel, tapi tetap mendapatkan hasil yang sama. Aneira terus memutar otak bagaimana cara dirinya bisa bertemu dengan Fairel tanpa menghubunginya. Aneira mengambil kunci mobil yang terletak di nakas, mengambil dengan kasar lalu mengambil jaket yang ada di dalam lemarinya. Persetan dengan semua misinya sekarang ia harus mencari Fairel walaupun dalam keadaan dirinya yang sedang demam. Intinya Fairel harus ia temukan bagaimanapun caranya ia tidak ingin terjadi apa apa dengan Fairel. Aneira berjalan dengan cepat menuju parkiran ia harus cepat sebelum kehilangan Fairel, Fairel pasti masih berada di sekitaran gudang itu bagaimana bisa ia berkendara dalam keadaan yang babak belur. Sesampainya di mobil Aneira masih mencoba menelfon Fairel, berkali kali ia coba tak patah arang. Aneira menjalankan mobilnya membelah jalanan ibukota jam sudah menunjukkan pukul 20.30 cukup malam bagi Aneira berkendara sendiri tapi demi Fairel apapun akan ia lakukan. Aneira seakan lupa dengan tekadnya yang baru saja ia ucapkan, dengan susah payah Aneira menguatkan tekadnya tapi dengan semudah itu pula Aneira menghancurkannya hanya demi Fairel. Tanpa Aneira sadari Fairel sudah menjadi bagian yang terpenting dalam hidupnya tak ada yang bisa menyakiti Fairel disaat masih ada Aneira yang melidunginya. Aneira menekan pedal gasnya hingga speedometernya menunjuk ke angka 100 km/jam, masa bodoh dengan mobil yang sejak tadi memarahinya karena ugal ugalan di jalan yang sekarang ada di pikirannya hanyalah Fairel, mencari keberadaan Fairel. *** Fairel menghentikan mobilnya di sebuah tempat gelap tanpa penerangan yang memadai, tubuhnya tak sanggup lagi untuk digerakkan, area perutnya yang sakit membuat dirinya kesulitan bernafas, hidungnya sejak tadi tak berhenti meneteskan darah walaupun tak sebanyak sebelumnya, Fairel merasa bahwa inilah akhir dari perjalanannya. Disaat Fairel sudah menemukan teman yang sudah ia anggap sebagai keluarga membuat Fairel lupa seakan menganggap dirinya paling beruntung. Tapi ternyata ia lupa bahwa apa yang ia lakukan ternyata menyakiti temannya. Fairel memaki dirinya sendiri, entah sampai kapan ia harus terus membuat orang yang disekitarnya terluka karena dirinya, tak cukupkah bila dirinya saja yang terluka, Fairel sudah muak melihat teman temannya menjauhi dirinya karena setiap mereka bertemu bahkan berteman dengan Fairel pasti cepat atau lambat mereka akan terluka. Fairel sempat ingin menghilang dari dunia ini saat ia tahu bahwa yang ia lakukan ternyata membuat orang yang di dekatnya terluka, ia kira kejadian Sherrin 3 tahun lalu adalah kejadian terakhir tapi ternyata tidak Fairel kembali mengulanginya lagi sekarang sahabatnya Kein serta Aneira yang harus terluka karenanya walaupun tak luka fisik tapi luka batin jauh lebih menyakitkan. Fairel memukul stir mobilnya dengan keras meluapkan emosinya yang tertahan tak ada yang bisa ia lakukan selain diam menahan semuanya. Tak cukupkah sikap Fairel selama ini kenapa ia harus mengalami penderitaan seperti ini. Pundak Fairel bergetar hebat ia menangis untuk kedua kalinya setelah kepergian ibu kandungnya. Hidup seakan mengutuk Fairel agar tak ada satupun orang yang bisa mendampingi Fairel yang menjadi tumpuan dirinya semuanya pergi satu per satu. Kembali ponselnya berbunyi, sudah kesekian kalinya ia mengabaikan panggilan yang masuk ke ponselnya. Ia sama sekali tak berniat untuk mengangkat panggilan itu bahkan fairel tak sedikitpun penasaran tentang siapa yang menelfonnya. *** Aneira sudah sampai di daerah tempat Kein dan Fairel berkelahi, tapi tak sedikitpun ia melihat mobil Fairel. Aneira tak patah semangat ia masih saja berjalan tak tentu arah terus mencari keberadaan Fairel siapa tahu Fairel masih berada di sekitar sini. Terakhir Aneira mengirimkan pesan kepada Fairel untuk bertanya mengenai keberadaan dirinya Kak, lo dimana? gue khawatir sama lo. Pesan terakhir yang membawa harapan terakhir bagi Aneira yang sudah tak tahu harus mencari Fairel kemana, semoga dengan pesan ini Fairel bisa tahu bahwa ada dirinya yang mengkhawatirkan Fairel. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN