Day (45): Lari

1035 Kata
Kein memperlihatkan layar ponselnya kepada Fairel, membuat Fairel membulatkan matanya tak percaya dari mana Kein mendapatkan foto itu. Foto dimana dirinya sedang bersama Sheerin dan Sheerin sedang mencium pipinya. “Lo salah pa..” BUGH BUGH BUGH Kein tak memberikan kesempatan untuk Fairel menjelaskan semua yang terjadi, Kein terus mengahajar Fairel tepat di wajahnya membuat wajah Fairel sudah babak belur dengan Hidungnya yang mengeluarkan darah beserta sudut bibirnya dan tulang wajahnya yang membiru. Pukulan pukulan itu terus mengarah secara brutal tak terkendali, Fairel hanya bisa tersenyum merasakan pukulan dari sahabatnya, rasa sakit ditubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit hati Fairel saat tahu bahwa sahabatnya sendiri yang melakukan hal seperti ini kepadanya. “Lo nggak tau gimana takutnya Aneira” teriak Kein sambil menarik kerah baju milik Fairel memaksa Fairel berdiri malah lebih seperti sedang menyeret Fairel yang hanya diam tak melawan. “Kein, lo harus dengar penjelasan gue” BRAK Kembali punggung Fairel menabrak tembok karena dorongan Kein Fairel meringis kesakitan “Akhh” ia tak sedikitpun melawan membiarkan Kein memukulnya sesuka hati mengeluarkan rasa kesalnya hingga tenang dengan sendirinya. “KEIN CUKUP” teriak teman temannya, ini harus segera dihentikan jika tidak Fairel akan benar benar habis di tangan Kein. Fairel mengangkat tangannya menggunakan sisa tenaga yang ia punya, masih memberi isyarat agar teman temannya tidak ikut campur. “Apa lo nggak cukup ngebohongin gue tentang perasaan lo ke Sheerin, gue kira saat lo bilang lo bakalan berhenti menyukai Sheerin demi gue dengan bodohnya gue percaya tapi kenyataanya apa lo masih berhubungan baik dengan Sheerin disaat Aneira lo kasih harapan, b******k Lo, nyesal gue punya teman kek lo anj….” Fairel menatap nanar Kein, hatinya mencelos saat dengan mudahnya Kein mengatakan kalimat itu, persahabatan mereka yang terjalin selama belasan tahun harus berakhir seperti ini karena suatu permasalahan yang Fairel sendiri tidak tahu. Padahal sepengetahuan Fairel, Kein sangat mengenalnya tak ada satupun hal yang Fairel sembunyikan dari Kein tapi bisa bisanya temannya itu mengatakan hal yang tidak tidak mengenai dirinya, disaat semua orang menjauhi Fairel tapi Kein selalu ada untuknya. Kein orang yang berarti dalam hidupnya, mangkanya sejak tadi ia tak ingin melawan sebab ia sangat menghargai Kein ia tak ingin Kein terluka akibat dirinya. BUGH Kembali satu pukulan mendarat di wajah Fairel, kali ini Fairel benar benar tak berdaya ia jatuh terduduk menatap lantai. Hatinya sakit. Dengan susah payah Fairel mengeluarkan suaranya tubuhnya benar benar sudah tak bertenaga lagi “Ke in, gu e nggak nyang ka lo meni lai gue se ren dah itu” ucapan Fairel terputus putus karena tenaganya sudah mulai menghilang, matanya terasa berkunang kunang, tapi ia coba untuk tetap mempertahankan kesadarannya. Kein mencoba menulikan telinganya dari semua perkataan yang diucapkan Fairel. Kein melihat Fairel mencoba berdiri, terbesit rasa bersalah saat melihat keadaan Fairel benar benar hancur. Ia tak menyangka akibat perbuatannya bisa membuat Fairel seperti ini. Fairel mencoba berdiri walaupun harus berpegangan dengan tembok yang ada di belakangnya, dengan susah payah Fairel berdiri berjalan mendekat kepada Kein, Fairel tersenyum kepada Kein saat dirinya sudah berhadapan dengan Kein, Fairel mengangkat tangan kanannya dengan sekuat tenaga mengarahkannya kepada wajah Kein perlahan ia menepuk pipi Kein pelan dan satu yang di ucapkan Fairel sebelum dirinya memutuskan untuk pergi dari hadapan Kein kalimat yang membuat semuanya terdiam mendengarnya “Lo tetap sahabat gue”. Kein terdiam menatap Fairel yang berjalan menjauh dengan susah payah. Rasa bersalah itu semakin besar saat mendapati respon Fairel benar benar jauh dari dugaannya, tak melawan hanya tersenyum tenang seakan membiarkan Kein meluapkan amarahya hingga Kein tenang. Fairel berbalik pelan berjalan terseok menuju tempat ia memarkirkan mobilnya “Fairel gue antar ya” teriak temannya mencoba menyusul Fairel Tapi dengan cepat Fairel memberi isyarat agar tak mengikutinya. Fairel hanya butuh waktu sendirian agar ke depannya ia sudah terbiasa untuk sendiri. Sekarang tak ada lagi yang menganggapnya teman apalagi sahabat semuanya pergi meninggalkan dirinya, kini Fairel hanya bisa bertahan dan mengeluh kepada dirinya sendiri. *** Fairel berjalan menuju mobilnya butuh perjuangan ekstra untuk Fairel bisa sampai di mobilnya. Beberapa kali dirinya harus terjatuh ke tanah karena tubuhnya benar benar tak bertenaga, Fairel kembali bangkit dengan susah payah, mungkin jika ada yang melihatnya pasti akan merasa iba dengan Fairel yang seperti itu, Fairel benar benar kesakitan, sampai sampai Fairel sedikit kesulitan untuk menarik nafas. Setelah sampai di mobil butuh perjuangan pula untuk dirinya membuka pintu mobil, dan untunglah tuhan masih menolongnya, Fairel mendudukkan tubuhnya di kursi pengemudi, kemudian Fairel menstarter mobilnya, darah segar masih menetes dari hidung dan bibirnya dengan cepat Fairel menghapusnya dengan seragam sekolah yang berlumuran darah dan tanah. Kepalanya terasa berkunang kunang tapi ia coba untuk tetap menjalankan mobilnya di gelap malam ini, setidaknya Fairel harus pergi dari tempat ini ia tak ingin Kein semakin marah hanya dengan melihatnya. *** Setelah kepergian Fairel, Kein terduduk tubuhnya terasa mati rasa. Keempat temannya yang menyaksikan apa yang diperbuat Kein kepada Fairel membuat mereka tak habis pikir. “Gue nggak nyangka Kein” hanya itu kalimat yang bisa diucapkan oleh teman temannya banyak yang sebenarnya ingin diungkapkan tapi mereka memilih untuk mengatakan itu karena mereka benar benar tak menyangka Kein bisa melakukan itu kepada Fairel yang notabene adalah sahabatnya bahkan sudah dianggap sebagai saudara. Kein menyesali pebuatannya, Kein selalu tak bisa mengontrol emosinya barang sesaat, ia tak bisa berfikir jernih sejak dulu hanya Fairel yang bisa membantu menenangkannya tapi sekarang orang yang berperan besar dalam hidupnya sudah babak belur di tangannya. Kein mengacak rambutnya kasar “Kita pamit” keempat temannya itu pergi dari hadapan Kein, meninggalkan Kein seorang diri yang menyesali perbuatannya. Kalimat kalimat yang diucapkan Fairel masih terngiang ngiang di telinganya, dan rintihan rasa sakit yang keluar dari bibir Fairel masih terekam jelas. *** Aneira yang sejak tadi hanya berbaring karena badannya masih terasa lemas, mengambil ponsel yang berada di nakas di samping tempat tidurnya. Kegiatan Aneira hanya berbaring lalu menscroll sosial medianya, ketika kepalanya terasa sedikit pusing Aneira akan meletakkan ponselnya kembali dan kembali tertidur itulah yang dilakukan Aneira sejak beberapa jam yang lalu, kakinya masih terasa sangat sakit jika diajak berjalan. Saat Aneira sedang asyik memainkan ponselnya, sebuah notifikasi pesan masuk dari Mr.X Sebuah video dikirimkan oleh Mr.X kepada dirinya video berdurasi 60 detik itu menunjukkan seorang pria dengan seragam yang sama dengan seragam sekolahnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN