Fairel bisa melihat para teman temannya sedang bermain catur walaupun hanya berdua yang main tapi yang lain ikut menimbrung memberikan semangat. Sedangkan Kein bisa Fairel lihat bahwa Kein hanya merebahkan dirinya di atas sofa seperti terakhir temannya mengirimkan pada Fairel.
Fairel berhighfive ria dengan setiap temannya yang ada disana, teman temannya pun menyambut dengan semangat highfive dari Fairel, seperti sudah menjadi ritual bagi mereka setiap ada yang datang pasti wajib berhighfive.
Setelah berhighfive dengan kelima temannya yang lain tibalah pada giliran Kein, Fairel berbalik menghadap Kein yang masih memejamkan matanya
“Kein” panggil Fairel dengan tangan sudah terangkat ke atas bersiap untuk berhighfive. Bukannya membalas apa yang dilakukan Fairel tapi Kein malah mengalihkan wajahnya ke samping kiri dengan mata yang masih terpejam membuat semua orang disana terkejut tak terkecuali Fairel yang diperlakukan seperti itu.
Fairel akhirnya menarik nafas pelan kembali menurunkan tangannya. Ada apa dengan semuanya Divandra memperlakukan dirinya seperti itu dan sekarang Kein kakaknya.
Temannya yang bernama Ridho segera paham akan situasi yang terjadi dengan cepat Ridho menepuk pundak Fairel agar perhatian Fairel tak terfokus kepada Kein “Lo udah makan belum bro?” taya Ridho sambil menarik Fairel menuju tempat mereka sedang bermain catur.
Fairel menggeleng “Gue belum makan”
“Cocok tuh yaudah yo pesen” Ridho segera membuka aplikasi ojek onlinenya dan memesan makanan yang biasa mereka pesan.
Fairel masih bertanya tanya di dalam hati, ia harus sabar menghadapi Kein jika dihadapi dengan emosi juga maka masalah mereka tak akan selesai.
Fairel mengalihkan pandangannya kepada Kein yang masih di posisi yang sama, Ridho berbisik dengan suara sangat pelan kepada Fairel agar tak terdengar oleh Kein “Sejak gue datang kesini dia udah kek gitu, mungkin ada masalah”
Fairel sangat mengenal Kein, jika ada masalah Kein pasti akan bercerita kepadanya. Tak pernah sekalipun Kein menghadapi masalahnya sendiri tanpa diketahui oleh Fairel.
“Kein” panggil Fairel mencoba memanggilnya lagi siapa tahu sekarang Kein akan meresponnya tapi nihil.
Fairel hanya diam tak bersuara hingga datanglah pesanan mereka.
“Permisi” teriak Driver itu dari luar
“Biar gue aja” Fairel menawarkan diri untuk mengambil makanan dari driver yang sedang menunggunya.
Tak lama kemudian Fairel kembali dengan tangan penuh dengan tentengan yang berisi makanan.
“Time to eat” teriak temannya bersemangat.
Fairel meletakkan makanan yang ada di tangannya di atas meja yang berada di dekat Kein, hanya ini satu satunya meja besar yang ada disini. Dan disini pulalah mereka biasanya makan.
Fairel mencoba membangunkan Kein, dengan menggoyangkan tubuh Kein pelan sangat pelan tapi reaksi Kein membuatnya terperangah. Kein bangun dari tidurnya kemudian berdiri menatap Fairel kesal, Fairel yang tak terima diperlakukan seperti itu segera menatap balik Kein.
“Lo ada masalah apa sama gue?” Tanya Fairel tak sabaran
“Masalah?” ulang Kein matanya terlihat seperti sedang menantang Fairel
Teman temannya dengan cepat memisahkan keduanya “Kein Fairel tenang dulu kita makan ya”
Dua dari temannya memegang Fairel dan tiga temannya yang lain memegangi Kein.
Mendudukkan Kein dengan jarak yang cukup jauh dari Fairel, Kein masih mencoba menahan emosinya melihat wajah Fairel yang terlihat tanpa dosa.
Fairel sama sekali tak merasa bersalah itulah yang membuat dirinya hampir saja murka jika tak ditahan oleh teman temannya.
Fairel akhirnya menyantap makanan yang ada di depannya, disaat seperti ini dirinya harus bisa mengontrol emosinya agar tak terjadi pertengkaran anatra dirinya dan Kein yang tampaknya sangat marah kepadanya.
Keempat temannya asyik mengobrol tapi tidak dengan Kein dan Fairel mereka sibuk dengan pikirannya masing masing.
***
Mereka semua kecuali Kein bahu membahu membersihkan bekas makan mereka agar tempat ini tetap terjaga kebersihannya. Fairel yang sedang sibuk memilih sampah lebih memilih mengacuhkan Kein dari pada harus adu mulut kembali.
Saat Fairel sedang fokus pada pekerjaannya tiba tiba terdengar sindiran dari bibir Kein yang tertuju kepada Fairel “Kenapa nggak sekalian aja lo bersihin mulut lo yang kek sampah itu”
Ucapan Kein terdengar sangat kasar di telinga Fairel, baru kali ini Kein berkata sekasar itu kepadanya sungguh selama ini ia kira Kein adalah orang yang mengerti dirinya dan sebaliknya.
Fairel menjawab dengan tenang, jika ia tersulut emosi sama saja dirinya dengan Kein. Emosi dilawan dengan emosi akan membawa petaka.
“Maksud lo apa?” Fairel menatap Kein si lawan bicaranya
Kein malah berdecih “Jangan pura pura nggak tau lo b******k” Kein berjalan mendekati Fairel memberikan bogem mentah ke arah wajah Fairel, membuat Fairel yang tidak siap menerima pukulan itu jatuh terjerembab ke lantai darah mengalir di sudut bibirnya.
Fairel masih saja menatap Kein tenang tidak seperti Kein yang menatapnya marah “Kita bisa ngomongin ini baik baik Kein” Fairel masih mencoba menenangkan Kein
Teman temannya yang terkejut melihat pertengkaran di depan mereka mencoba untuk melerai menarik Kein agar menjauh dari Fairel.
Tapi kekuatan Kein berhasil mengalahkan kedua temannya yang memegang kedua tangannya “Lepasin gue kalau kalian nggak mau gue habisi” tunjuk Kein kepada teman temannya.
Mereka berempat melihat ke arah Fairel, meminta maaf karena tak bisa menolong. Fairel hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda bahwa dia taka pa, hanya dirinya yang dibutuhkan Kein untuk melampiaskan emosinya.
Kein menarik kerah baju milik Fairel dengan kedua tangannya “Berapa kali gue harus lo bohongi” teriak Kein tepat di depan wajah Fairel.
Fairel masih tidak mengerti kemana arah permasalahan ini apa sebenarnya masalah yang terjadi.
“Maksud lo apa?”
“b******k” Kein kembali melayangkan tinjunya ke bagian perut Kein, tenaga Kein yang begitu besar membuat Fairel terlempar cukup jauh menghantam dinding.
BRUKK
Punggung Fairel terbentur ke dinding yang keras itu, Rasa sakit luar biasa Fairel rasakan di area perutnya, Fairel mencoba berdiri tapi kembali terduduk karena rasa sakit yang luar biasa. Fairel mengabaikan rasa sakitnya ia terus mencoba menenangkan Kein “Kein kita bicarain baik baik”
Semua yang menyaksikan sudah sangat panik, mereka tahu bahwa pukulan seorang Kein tidak main main ia bahkan bisa mengalahkan 3 -4 preman dalam satu waktu, ingin mereka membantu Fairel tapi nyali mereka tak begitu besar apalagi Fairel yang mengisyaratkan agar mereka tetap diam biarlah itu menjadi urusan mereka berdua.
Kein berjongkok menatap wajah Fairel yang menahan sakit, Kein tersenyum sinis “Tatapan lo belum seberapa dari tatapan Aneira ketika lo ninggalin dia demi Sheerin” Kein terdengar sinis dan dingin.
Perkataan Kein membuat kening Fairel berkerut tak mengerti
“Gue ninggalin Aneira? Maksud lo apaan Kein?” tanya Fairel dengan susah payah karena rasa sakit di perutnya membuatnya kesulitan bicara.
Kein mengeluarkan ponsel dari sakunya menunjukkan sebuah foto yang seseorang kirimkan kepadanya.
****